Gubernur Koster hadiri Upacara Pitra Yadnya (Pranawa) Atma Wedana, Ngaben dan Nyekah Massal yang diselenggarakan oleh Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Minggu (2/8). (Foto: Humas-Prov. Bali)
BADUNG, PERSPECTIVESNEWS – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran desa adat sebagai pilar kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Bali. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Upacara Pitra Yadnya (Pranawa) Atma Wedana, Ngaben dan Nyekah Massal yang diselenggarakan oleh Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Minggu (2/8).
Kehadiran Gubernur Bali dalam upacara tersebut menjadi bentuk dukungan nyata Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terhadap pelestarian adat, tradisi, agama, dan budaya Bali. Pada kesempatan itu, Gubernur Wayan Koster juga secara simbolis melaksanakan prosesi ngayeg tirta yang diiringi para pemangku sebagai bagian dari rangkaian upacara suci penyempurnaan atma leluhur, serta menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp25 juta sebagai simbolisasi dukungan Pemprov Bali.
Di hadapan krama adat dan peserta upacara, Koster menilai bahwa pelaksanaan Atma Wedana secara massal merupakan solusi yang sangat efektif untuk meringankan beban ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong.
"Atma Wedana ini solusi yang sangat baik. Bersamaan dilakukan untuk 18 sawa. Bagus sekali dan harus terus dikembangkan sebagai bentuk gotong royong agar pelaksanaan upacara tidak menjadi beban personal bagi masyarakat," ujar Koster.
Koster menegaskan bahwa Pemprov Bali akan terus hadir mendukung desa adat sebagai benteng pelestarian budaya. Dukungan tersebut telah diwujudkan melalui berbagai langkah konkrit, salah satunya berupa kebijakan hibah aset lahan pemerintah yang tidak produktif kepada desa adat.
"Saat Bendesa dan panitia beraudiensi kepada saya, saya langsung setuju membantu. Seperti saat pembangunan TPS3R maupun hibah tanah milik Pemprov. Kalau ada lahan pemerintah yang tidak produktif dan lebih bermanfaat dikelola desa adat, saya berikan kepada desa adat agar lebih produktif. Kita ngayah bersama desa adat," katanya.
Meski demikian, ia menggarisbawahi agar aset yang dihibahkan tersebut dikelola secara profesional dan memiliki dasar hukum adat yang jelas melalui pararem demi keberlanjutan ekonomi desa.
Sebagai gambaran optimalisasi aset, Koster mencontohkan keberhasilan tata kelola lahan di kawasan pariwisata ITDC. Nilai kerja sama pengelolaan lahan di kawasan tersebut berhasil melonjak signifikan dari Rp7 miliar per tahun menjadi Rp57 miliar per tahun setelah pembenahan dilakukan.
"Pengelolaan seperti ini akan terus ditingkatkan agar memberikan manfaat maksimal bagi pemerintah maupun masyarakat. Desa adat juga silakan mengajukan hibah atas nama desa adat dengan aturan yang jelas sehingga aset bisa menghasilkan dan dirawat dengan baik," ujarnya.
Lebih lanjut, Koster mengingatkan bahwa desa adat memiliki tanggung jawab ganda, baik secara sekala maupun niskala. Oleh karena itu, penguatan kapasitas desa adat menjadi hal mendesak, terutama bagi Desa Adat Bualu yang berada di kawasan strategis pariwisata Nusa Dua.
"Desa adat harus kuat. Apalagi Desa Bualu berada di kawasan komersial dan pariwisata. Gotong royong antara desa adat, pemerintah kabupaten dan Pemerintah Provinsi harus terus dijaga. Saya yakin dengan menjaga desa adat, leluhur akan memberikan jalan yang baik bagi Bali ke depan," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia atau Prawartaka Karya, Ketut Nesa, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Gubernur Bali, pemerintah, serta seluruh pihak yang telah membantu kelancaran acara.
Ia memaparkan bahwa rangkaian upacara Pitra Yadnya ini diawali dengan prosesi pengabenan pada 16 Juli 2026, dan puncak upacara nyekah dijadwalkan berlangsung pada 7 Agustus 2026.
Pada tahun 2026 ini, upacara tercatat diikuti oleh 18 sawa dalam prosesi Atma Wedana serta 114 sawa yang mengikuti upacara nyekah. Seluruh rangkaian kegiatan ini menelan estimasi biaya sekitar Rp1,7 miliar, yang dihimpun dari urunan krama Desa Adat Bualu serta dukungan donasi dari berbagai pihak.
Adapun Upacara Atma Wedana di Desa Adat Bualu tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Putra Telaga, sebagai bagian dari penyucian dan penyempurnaan atma para leluhur wujud sradha dan bhakti umat Hindu. (*)