Surat dan petisi disampaikan kepada Kementerian Kehutanan, BRIN, dan Badan Karantina Indonesia di Jakarta, sementara aksi publik digelar di Yogyakarta pada Hari Primata Internasional.
Aksi yang dilakukan jaringan
organisasi perlindungan satwa dan konservasi di Yogyakarta. Bertepatan dengan
Hari Primata Internasional 1 September mendesak Pemerintah Indonesia
menghentikan ekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian dan
pengujian. (Foto: Humas Forum United For Primates)
YOGYAKARTA,
PERSPECTIVESNEWS - Puluhan ribu orang mendesak Pemerintah Indonesia
menghentikan ekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan
penelitian dan pengujian, menyusul kembali tercatatnya kuota ekspor spesies
tersebut pada 2026 setelah terakhir tercatat pada 2022.
Bertepatan dengan Hari Primata Internasional, 1 September
2026, Forum United For Primates, jaringan organisasi perlindungan satwa dan
konservasi menyuarakan desakan tersebut melalui aksi di Jakarta dan Yogyakarta.
Di Jakarta, perwakilan Forum United For Primates
menyampaikan surat resmi dan petisi kepada Kementerian Kehutanan Republik
Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Karantina
Indonesia (Barantin). Petisi yang diinisiasi oleh JAAN, Action for Primates,
dan Lady Freethinker tersebut telah mendapat dukungan lebih dari 46.565 orang.
Dalam surat yang disampaikan kepada Kementerian Kehutanan, forum
meminta antara lain agar pemerintah menangguhkan sementara ekspor monyet ekor
panjang untuk penelitian dan pengujian toksisitas serta meninjau kembali
kebijakan dan kuota ekspor yang telah diterbitkan.
Forum juga meminta pemerintah memastikan tidak ada monyet
dari populasi liar yang digunakan untuk memasok fasilitas pembiakan komersial
maupun kegiatan ekspor, meninjau kembali perlindungan hukum terhadap spesies
tersebut, serta memperkuat pengembangan metode penelitian non-hewan.
“Ketika spesies yang sudah berstatus Terancam Punah kembali
mendapatkan kuota ekspor bagi kepentingan penelitian dan pengujian, pemerintah
perlu mempertanyakan apakah kebijakan ini masih dapat dibenarkan. Kami mendesak
pemerintah menangguhkan ekspor dan meninjau kembali kebijakan ini secara
menyeluruh. Selama belum ada langkah nyata, kami akan terus mengawal persoalan
ini,” kata Angelina Pane, perwakilan Forum United For Primates dalam siaran
pers Rabu (2/9/2026).
Sementara di Yogyakarta, anggota Forum United For Primates
bersama masyarakat menggelar aksi damai di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, yang
turut dihadiri Bandizt, bassis Shaggydog sekaligus pegiat perlindungan satwa.
Aksi diisi dengan orasi dan edukasi publik, serta pertunjukan pantomim oleh
seniman Wanggi Hoed.
Mengenakan kostum menyerupai petugas laboratorium, Wanggi
berada di dalam kandang berukuran besar, membalik gambaran monyet sebagai pihak
yang biasanya dikurung. Turut tampil pula seseorang berkostum Hanoman, sebagai
perlambangan makhluk mitologi, yang mengamati terjadinya proses ekspor dan
pemanfaatan monyet sebagai objek uji coba di laboratorium.
Pertunjukan pantomim ini menyoroti bagaimana monyet harus
menjadi korban sekaligus peneliti di laboratorium yang sering kali juga harus
terjebak dalam dalam praktik usang dan permasalahan sistemik ekspor dan
pemanfaatan monyet sebagai uji coba di laboratorium ini.
“Manusia dan spesies lain hidup bersama di dunia yang sama.
Ketika monyet diekspor untuk eksperimen laboratorium dan mengalami rasa sakit
yang sebenarnya tidak diperlukan, bagi saya ada harmoni yang hilang dalam
hubungan manusia dengan spesies lain. Semua yang hidup berhak untuk hidup dan
berada di habitatnya,” ujar Wanggi Hoed.
Monyet ekor panjang saat ini berstatus Endangered (Terancam
Punah) dalam Daftar Merah IUCN. Dalam surat yang disampaikan kepada Kementerian
Kehutanan, Forum mencatat Indonesia menerbitkan kuota ekspor sebanyak 1.928
individu pada 2026, yang merupakan kuota pertama sejak 2022.
Kekhawatiran juga muncul menyusul laporan mengenai
pembangunan fasilitas komersial di Kabupaten Mesuji, Lampung, dengan kapasitas
sekitar 4.000 monyet ekor panjang untuk pembiakan dan ekspor ke fasilitas
penelitian biomedis di luar negeri.
Desakan penghentian ekspor juga mendapat dukungan sejumlah
figur publik, termasuk Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi.
Di tingkat internasional, Asia for Animals Coalition bersama organisasi dari
berbagai negara juga telah menyampaikan seruan kepada Pemerintah Indonesia
untuk menangguhkan ekspor monyet ekor panjang untuk penelitian dan pengujian
toksisita. (*)
