Perspectives News

BBTF 2026 Targetkan 400 Buyers, Pertegas Komitmen Indonesia Perkuat Daya Saing Pariwisata

 

 

Suasana Presscon BBTF 2026 yang digelar di Bali Tropic Resort & Spa, Senin (30/3/2026).  (Foto: perspectives)

BADUNG, PERSPECTIVESNEWS- Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 bakal digelar 28–30 Mei 2026, di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali.

Even pariwisata tahunan ini akan fokus pada tema gastronomi, budaya dan pariwisata berkelanjutan, dengan menargetkan 400 buyer dari 47 negara.

Ini sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam memperkuat daya saing pariwisata melalui pendekatan kualitas, keberlanjutan, serta penguatan identitas budaya di tengah dinamika global.

Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra menyampaikan, penyelenggaraan BBTF ke-12 ini menjadi momentum untuk menyelaraskan realitas industri, kebijakan, dan ekspektasi pasar global.

Ia menegaskan, tema ‘Redefining Indonesia’s Gastronomic Journey, A Celebration of Taste, Culture and Sustainable Heritage’ diangkat sebagai strategi untuk memperkenalkan Indonesia melalui pendekatan yang lebih kuat dan berkesan.

“Gastronomi adalah cara paling kuat untuk menceritakan Indonesia melalui rasa, budaya, dan identitas,” ujarnya pada Presscon Road to BBTF 2026, di Bali Tropic Resort & Spa, Nusa Dua, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, Indonesia harus mampu menjaga kepercayaan pasar internasional.

“Harapan kami sederhana namun penting, memastikan Indonesia tetap dipercaya, relevan, dan kompetitif di mata dunia. Karena membangun kepercayaan bukan hanya soal pengakuan, tetapi konsistensi, kolaborasi, dan kesiapan,” kata Putu Winastra yang juga Ketua ASITA Bali ini.

BBTF 2026 juga disebut akan semakin terbuka bagi para seller, khususnya dari daerah-daerah yang memiliki potensi pariwisata untuk ikut berpartisipasi.

Strategi Nasional dan Penguatan Promosi

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Ni Made Ayu Marthini, menekankan pentingnya strategi promosi yang berkelanjutan, terutama melalui digital marketing.

“Kita harus terus melakukan promosi secara berkelanjutan. Promosi tidak bisa berhenti, karena dampaknya baru akan terlihat dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan konektivitas menjadi faktor penting dalam mendukung pergerakan wisatawan internasional.

“Konektivitas menjadi kunci. Tanpa akses transportasi yang memadai, akan sulit bagi wisatawan untuk datang ke Indonesia,” katanya.

Pemerintah juga terus mendorong pembukaan rute penerbangan baru ke berbagai destinasi prioritas, seperti Lombok, Yogyakarta, Danau Toba, dan Labuan Bajo, dengan Bali tetap berperan sebagai hub utama.

Diplomasi dan Kepercayaan Global

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heru Hartanto Subolo, menegaskan pentingnya membangun kepercayaan global melalui diplomasi dan kolaborasi lintas sektor.

“Penguatan kerja sama internasional menjadi kunci untuk memastikan wisatawan memiliki akses yang aman dan nyaman ke Indonesia,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa konektivitas dan stabilitas global sangat memengaruhi pergerakan wisatawan, terutama di tengah disrupsi transportasi akibat konflik geopolitik.

Selain itu, pendekatan budaya, termasuk gastronomi, dinilai mampu menjadi jembatan dalam membangun hubungan antarbangsa.

“Melalui budaya dan kuliner, kita bisa membangun komunikasi yang lebih cair dan memperkuat rasa kebersamaan,” katanya.

Pariwisata harus Berbasis Kualitas

Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menekankan bahwa tantangan pariwisata saat ini bukan lagi pada jumlah wisatawan, melainkan kualitas pertumbuhan.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bertumbuh, tetapi apakah kita bertumbuh dengan cara yang benar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan pariwisata global berada di kisaran 4 persen, sementara Indonesia mencapai sekitar 12 persen dan Bali 10 persen.

Namun, perubahan ekspektasi wisatawan menjadi tantangan utama yang harus direspons.

“Wisatawan kini semakin kritis. Mereka tidak hanya mencari destinasi, tetapi pengalaman yang utuh,” katanya.

Menurutnya, pengalaman wisata harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari kedatangan di bandara, mobilitas di destinasi, hingga kualitas layanan dan rasa aman.

BTB juga mendorong pengembangan zonasi destinasi seperti culture zone, leisure zone, dan entertainment zone, serta menekankan pentingnya indikator kualitas seperti lama tinggal wisatawan.

“Bali harus menjadi destinasi unggulan dunia bukan hanya karena namanya besar, tetapi karena kualitasnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, lda Ayu Indah Yustikarini, menegaskan dukungan penuh terhadap BBTF sebagai platform strategis promosi pariwisata.

“BBTF merupakan wadah penting untuk mempertemukan buyer nasional dan internasional, sekaligus memperkuat promosi pariwisata Bali,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihaknya bersama pemerintah kabupaten/kota telah membangun kolaborasi dalam satu paviliun besar guna menampilkan berbagai potensi unggulan Bali.

Potensi tersebut meliputi culture immersion, pariwisata berkelanjutan, wisata alam dan petualangan, wellness tourism, MICE, hingga gastronomi.

Di sisi lain, ia mengakui adanya tantangan global seperti konflik geopolitik dan gangguan jalur penerbangan internasional.

Sebagai strategi, Pemprov Bali mendorong diversifikasi pasar ke kawasan Asia Pasifik seperti Australia, Asia Tenggara, Asia Timur, dan India, serta memperkuat wisatawan nusantara.

Selain itu, pasar baru seperti Kanada juga mulai dijajaki karena memiliki potensi wisatawan dengan lama tinggal yang lebih panjang.

Secara keseluruhan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menjaga daya saing pariwisata Indonesia.

BBTF 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga momentum memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi global berbasis kualitas dan pengalaman.  (lan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama