“Timeland” karya Gianluca Lanciai yang merupakan eksplorasi visual tentang umur panjang di Sardinia, Italia. (Foto: Gianluca Lanciai)
BALI,
PERSPECTIVESNEWS- Dari hampir 700 submisi yang masuk dari lebih 80 negara, FOTO
Bali Festival 2026 yang dipresentasikan oleh Nuanu Creative City mengumumkan 36
seniman terpilih untuk edisi keduanya.
Diselenggarakan pada 3 Juni - 12 Juli 2026 di Nuanu Creative City, Bali, festival ini akan menghadirkan karya dari 36 seniman yang berasal dari 24 negara.
Negara-negara tersebut,
termasuk Akshay Mahajan (India), Alessandro Bo (Mexico), Anita Khemka &
Imran Kokiloo (India), Aprillio Abdullah Akbar (Indonesia), Arhant Shrestha
(Nepal), Aziziah Diah Aprilya (Indonesia), Bertha Wang (China), Ceicillia Dita
(Indonesia), Charmaine de Heij (Netherlands / Suriname), Chiara Goia (Italy),
Chloe Bartram (Australia) dan Daniela Balestrin (Brazil).
Menyusul Gab
Mejia (Philippines), Gianluca Lanciai (Italy), Ha Dao (Vietnam), Igor Schiller
(Serbia), Jiatong Lu (China), Joel Jimenez (Costa Rica), Joyantee Raina
(Bangladesh), Kate Perfilieva (Russia), Keyza Widiatmika (Indonesia), Kibe
Nduni (Kenya), Lars Dyrendom & Inuk Jørgensen (Denmark / Greenland), Made
Virgie Avianthy (Indonesia), Martín Bollati (Argentina), juga Muhammad Dwiki
Viansa (Indonesia).
Nadège Mazars
(France), Nicolás Bernal (Colombia), Primagung D. Riliananda (Indonesia),
Rodrigo Illescas (Argentina), Santiago Escobar-Jaramillo (Colombia), Sean Cham
(Singapore), Valeria Arendar (Argentina / Mexico), Vinit Gupta (India),
Wimadetra (Indonesia), dan Yuki Furusawa (Japan) adalah para seniman yang juga
bakal meramaikan event ini.
Mengangkat
tema Afterimage, festival ini menghadirkan karya-karya yang
mengeksplorasi memori, keberlanjutan, serta bagaimana citra terusra terus hidup
melampaui momen yang ditangkapnya.
Bergerak
antara narasi personal dan refleksi yang lebih luas tentang sejarah, identitas,
dan pengalaman kolektif, proyek-proyek terpilih ini menunjukkan bagaimana
fotografi tidak berhenti pada satu momen, melainkan terus membentuk makna
seiring waktu.
“Kami ingin FOTO Bali Festival membuka ruang percakapan yang lebih luas antara praktik fotografi dari berbagai konteks, tanpa batas geografis maupun generasi,” ujar Kelsang Dolma, Festival Director FOTO Bali Festival.
“Open call
menjadi bagian penting dari proses ini, memungkinkan seniman baru maupun yang
telah lama berkarya untuk berpartisipasi melalui kekuatan karya mereka dan
relevansinya dengan tema festival. Kehadiran dua kurator juga membuka ruang
bagi beragam perspektif dalam proses seleksi, sehingga menghadirkan pembacaan
yang lebih berlapis terhadap gagasan utama festival,” sambungnya.
Festival ini didukung oleh Wonderful Indonesia, yang menegaskan perannya dalam memperkuat lanskap budaya dan ekonomi kreatif Indonesia.
Ni Made Ayu
Marthini, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, menyampaikan, “Wonderful Indonesia mendukung inisiatif yang memperkuat ekosistem kreatif dan dialog budaya di Indonesia. FOTO Bali Festival 2026 menunjukkan bagaimana seni, fotografi, dan komunitas dapat bertemu untuk menciptakan percakapan budaya yang bermakna, berakar dari Bali,” ungkapnya.
Dari keseluruhan submisi yang masuk, sekitar 5% karya terpilih untuk dipresentasikan dalam festival. Mewakili Asia, Afrika, Eropa, Amerika, hingga Oseania, para seniman terpilih ini menghadirkan beragam pendekatan—mulai dari dokumenter dan konseptual hingga praktik lintas disiplin dalam pengolahan citra.
“Kualitas dan pendekatan yang muncul dari karya-karya ini sejalan
dengan apa yang kami bayangkan sejak awal ketika tema diumumkan. Kami ingin
menghadirkan praktik yang menunjukkan komitmen sekaligus keberagaman bahasa
visual dalam fotografi kontemporer,” ujar Kurniadi Widodo, Kurator FOTO Bali Festival.
Menambahkan perspektif kuratorial, Putu Sridiniari, Kurator FOTO Bali Festival, menyampaikan, “Dalam konteks Afterimage, fotografi tidak pernah benar-benar mengakhiri sebuah momen, tetapi terus beredar dan membentuk cara kita mengingat dunia. Karya-karya terpilih mencerminkan beragam pendekatan, namun memiliki perhatian yang sama terhadap bagaimana gambar menyimpan jejak dan mempengaruhi cara kita memahami masa kini,,” ujarnya.
Selain menghadirkan nama-nama internasional, partisipasi delapan
seniman Indonesia turut memperkuat dialog ini dengan membawa perspektif lokal
ke dalam percakapan global. (*)
