Gubernur Koster pimpin rapat persiapan akhir puncak pelaksanaan Karya IBTK Tahun 2026, di Ruang Rapat Gedung Wyata Graha, Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih, Karangasem, Selasa (31/3/2026). (Foto: Hms Prov. Bali)
KARANGASEM, PERSPECTIVESNEWS- Menjelang puncak
pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) Tahun 2026, Pemerintah
Provinsi Bali menegaskan komitmen kuat menjaga kesucian kawasan suci Pura Agung
Besakih melalui kebijakan tegas pengendalian sampah, khususnya larangan total
plastik sekali pakai.
Komitmen ini mengemuka dalam rapat persiapan akhir di Ruang
Rapat Gedung Wyata Graha, Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung
Besakih, Karangasem, Selasa (31/3/2026).
Rapat tersebut dihadiri oleh berbagai unsur strategis,
antara lain Danrem 163/Wirasatya, perwakilan Polda Bali, perwakilan Pemkab
Karangasem, sejumlah Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Pemprov Bali, Kepala
Badan Pengelola Kawasan Besakih, serta prajuru Pura Agung Besakih.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa seluruh
aktivitas di kawasan parahyangan harus bebas dari sampah plastik.
“Yang ke parahyangan itu semuanya non plastik. Tidak boleh
ada tas kresek, botol plastik, gelas plastik. Semua harus bersih, ini soal
kesucian,” tegasnya.
Seluruh pemedek yang masuk akan diperiksa. Jika masih
membawa plastik sekali pakai, maka tidak diperkenankan masuk sebelum diganti.
Tidak hanya itu, prinsip “bawa masuk – bawa pulang” juga
diberlakukan secara ketat.
“Apa yang dibawa masuk harus dibawa pulang. Jangan buang di
jalan, jangan di kawasan suci. Ini harus terus diumumkan, disampaikan, dan
disebarluaskan agar seluruh masyarakat tahu,” ujar Wayan Koster.
Demi suksesnya harapan mulia untuk kesucian Pura Agung
Besakih dan kebersihan alam, edukasi dan sosialisasi secara Masif serta
Pengawasan Ketat akan terus dilakukan.
Sebagai penguatan, panitia telah menyiapkan, sekitar 200
spanduk himbauan kebersihan, edukasi langsung di lapangan, pengumuman berulang
melalui pengeras suara, serta kampanye melalui media sosial.
Selain itu, pengawasan akan diperkuat dengan, penempatan
petugas di titik rawan, pemantauan melalui CCTV, hingga penindakan terhadap
pelanggaran.
Titik rawan yang menjadi perhatian antara lain: parkir
Kedundung, kawasan pedagang Bencingah, jalur pergerakan pemedek, hingga
beberapa area yang sering dimanfaatkan pemedek untuk beristirahat.
Isu lain yang menjadi perhatian serius adalah kebersihan
pedagang dan keamanan pangan. Panitia bersama BPOM, Dinas Kesehatan, dan
Puskesmas akan melakukan, edukasi pedagang, Sampling makanan, hingga pemeriksaan
rutin harian.
Sanksi tegas pelanggar
Sanksi tegas akan dilakukan apabila ditemukan pelanggaran.
Langkah ini diambil untuk mencegah potensi kasus keracunan makanan yang dapat
mencoreng pelaksanaan karya.
“Kalau masih bandel, kita tutup dan blacklist. Ini
menyangkut kesehatan masyarakat,” tegas Koster.
Gerakan kolektif jaga kesucian
Tidak hanya pemerintah, berbagai unsur juga dilibatkan guna
mendukung penyelenggaraan IBTK 2026, mulai Sekolah (SD, SMP, SMA), komunitas
relawan, pedagang, hingga desa adat seputaran Besakih. Gerakan ini menjadi
simbol gotong royong menjaga kesucian Besakih.
Di tengah arus ribuan pemedek yang akan hadir selama 21
hari, pesan gubernur terasa sederhana namun kuat:
“Ini bukan hanya soal acara besar, ini tentang menjaga
kesucian Pura Agung Besakih, kesucian upacara yang digelar. Kalau kita
disiplin, Besakih tetap suci dan bersih.” pungkas Gubernur Wayan Koster. (hum/lan)
