(Foto: Kika) -Ni Made Novi Susilowati/Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Provinsi Bali, Parjiman/Kepala OJK Provinsi Bali/Irhamsah/Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsuman dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali dan Zulkifli/Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 4 OJK Provinsi Bali, saat Ngorte Bareng Media, Jumat (10/4/2026). (Foto: Ist)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS- Kepala Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Parjiman menegaskan, stabilitas Industri
Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali sampai dengan posisi Januari 2026 tetap terjaga
di tengah dinamika perekonomian global dan domestik.
“Hal ini tercermin
dari fungsi intermediasi yang berjalan baik, profil risiko yang terjaga dan
likuiditas di level yang memadai,” ungkap Parjiman dalam acara ‘Ngorte OJK Bali
Bersama Media’, Jumat (10/4/2026).
Kinerja intermediasi
perbankan (Bank Umum dan BPR) di Provinsi Bali posisi Januari 2026 yang
tercermin dari pertumbuhan kredit dan DPK yang tetap tumbuh positif dan terjaga
stabil.
Penyaluran kredit berdasarkan
lokasi bank tumbuh positif sebesar 6,92 persen yoy menjadi Rp119,29 triliun
(Januari 2025: 6,34 persen yoy, Desember 2025: 6,73 persen yoy). Sementara
itu, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 7,11 persen yoy menjadi Rp143,66 triliun (Januari 2025: 7,73 persen yoy, Desember 2025: 7,18 persen yoy).
Berdasarkan jenis
penggunaannya, pertumbuhan kredit yoy
masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp5,99 triliun
atau 17,00 persen yoy (Januari 2025: 17,19
persen yoy, Desember 2025: 16,21 persen yoy), utamanya ditopang
oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat.
Tingginya pertumbuhan
kredit investasi ini menggambarkan peran perbankan dalam pembiayaan ekspansi untuk
mendukung pertumbuhan jangka panjang di Provinsi Bali. Lebih lanjut, kredit
konsumsi tumbuh 4,75 persen yoy dan kredit modal kerja termoderasi -0,24
persen yoy.
Sementara itu,
berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,19 persen kredit di Provinsi Bali
disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan positif sebesar 4,39 persen yoy (Januari 2025: 5,38 persen yoy, Desember 2025: 3,91 persen yoy). Penyaluran kredit UMKM di Provinsi
Bali masih lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, baik dari porsi kredit
maupun pertumbuhan.
Jika ditinjau berdasarkan
sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi oleh sektor Bukan Lapangan Usaha
sebesar 33,63 persen (tumbuh 4,75 persen yoy) dan Sektor Perdagangan
Besar dan Eceran sebesar 27,31 persen (tumbuh 1,81 persen yoy).
Pertumbuhan kredit
disumbangkan oleh peningkatan nominal penyaluran di Sektor Penyediaan Akomodasi
dan Penyediaan Makan Minum yang bertambah sebesar Rp2,21 triliun (tumbuh 17,02
persen yoy) dan Sektor Penerima
Kredit Bukan Lapangan Usaha sebesar Rp1,82 triliun (tumbuh 4,75 persen yoy).
Sementara itu, penghimpunan
DPK tetap tumbuh positif sebesar 6,66 persen yoy mencapai Rp204,33
triliun (Januari 2025: 11,96 persen yoy, Desember 2025: 7,49 persen yoy).
Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK ditopang oleh kenaikan nominal
tabungan sebesar Rp7,01 triliun.
Fungsi intermediasi masih
menunjukkan tingkat yang positif, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) posisi Januari 2026 sebesar 58,38 persen.
Kualitas kredit perbankan
di Provinsi Bali tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,60 persen lebih rendah
dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya (Januari 2025: 3,14 persen,
Desember 2025: 2,44 persen). Sementara itu, NPL net berada di posisi 1,78 persen (Januari 2025: 2,18 persen,
Desember 2025: 1,68 persen).
Penyelesaian kredit
restrukturisasi dan ekspansi kredit berdampak positif bagi penurunan rasio Loan at Risk (LaR)
menjadi 9,17 persen (Januari 2025: 12,18 persen, Desember 2025: 9,12 persen).
Ketahanan BPR di Provinsi
Bali juga tetap kuat tercermin dari Cash Ratio
(CR) dan Capital Adequacy Ratio
(CAR) terjaga di atas threshold, berturut-turut
sebesar 15,17 persen dan 33,37 persen menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi
kondisi ketidakpastian global.
Perkembangan
Sektor Pasar Modal
Jumlah investor Pasar
Modal di Provinsi Bali masih tetap menunjukkan pertumbuhan double digit dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari
2026, jumlah investor di Provinsi Bali mencapai 369.223 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 24,45 persen yoy (Januari 2025: 24,62 persen yoy,
Desember 2025: 22,69 persen yoy). Sementara itu, nilai kepemilikan saham
mencapai Rp8,73 triliun atau tumbuh 59,97 (Januari 2025: 19,73 persen yoy,
Desember 2025: 54,61 persen yoy). (ojk/lan)
