Para pengurus PBSI Bali dan PBSI Kabupaten/Kota se-Bali yang
mengikuti Rapat Kerja sehari di Denpasar, Sabtu (11/4/2026) (Foto: djo)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS – Susahnya mencari GOR yang representatif untuk menggelar
kejuaraan bulu tangkis berlevel Sirkuit Nasional (Sirnas) B di Bali,
mengharuskan Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI)
Bali putar otak. Terdekat, pengurus cabang olahraga tepok bulu itu bakal
menghadap Wakil Gubernur Bali yang juga Ketua Umum KONI Bali I Nyoman Giri Prasta.
“Surat mohon audiensi sudah kami kirimkan, semoga beliau berkenan
menerima kami dalam waktu dekat,” ujar Ketua Umum Pengprov PBSI Bali I Wayan
Winurjaya didampingi Ketua Harian PBSI Bali, Chandra Kusuma ditemui seusai
Rakerprov PBSI Bali di Denpasar, Sabtu (11/4/2026).
PBSI Bali dipercaya oleh PP PBSI menjadi tuan rumah Sirnas B
pada Oktober 2026 mendatang. Menurut Winurjaya, pihaknya sudah survei ke
beberapa GOR yang ada di Denpasar dan sekitarnya, dan GOR Lila Bhuana Denpasar
sangat representatif sebagai tempat gelaran Sirnas B.
Hanya saja, lanjut Winurjaya, GOR Lila Bhuana memerlukan
beberapa perbaikan seperti atap yang bocor, toilet yang harus dibersihkan, maupun
dinding tembok yang perlu dicat kembali.
Sebenarnya, kata Winurjaya, ada GOR yang representatif tapi
harga sewanya cukup mahal yakni sehari Rp15 juta. Padahal gelaran Sirnas B ini
selama 8 hari. Belum lagi untuk GOR pendamping. Karena itu alangkah baiknya
jika GOR Lila Bhuana diperbaiki seperlunya agar bisa dipergunakan sebagai venue
pertandingan Sirnas B.
Rakerprov berlangsung sehari diikuti seluruh pengurus PBSI
Bali dan PBSI kabupaten/kota se-Bali. Selain soal tuan rumah Sirnas B,
Rakerprov juga membahas rencana menghelat Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda)
Bulu Tangkis.
“Pelatda atau
Pelatprov ini sebenarnya sesuai arahan Pak Giri Prasta agar cabor-cabor anggota
KONI Bali menggelar Pelatprov, PBSI Bali menggelar Pelatprov diawali dengan
melakukan seleksi terhadap pebulu tangkis wakil dari Pengkab dan Pengkot PBSI
se-Bali pada 20 April 2026,” kata Winurjaya diamini Chandra Kusuma.
Ia melanjutkan,
setiap Pengkab dan Pengkot PBSI wajib mengirimkan 2 pebulu tangkis putra dan 2
pebulu tangkis putri untuk diseleksi pada tanggal 22 April 2026 dengan sistem
setengah kompetisi. Seluruh atlet tersebut nantinya diseleksi dan kuota atlet
Pelatprov hanya terdiri dari 2 putra dan 2 putri.
“Rakerprov juga mempercayai Pak Chandra Kusuma sebagai Ketua
Pelatprov. Keempat pebulu tangkis putra putri inilah yang akan kami persiapkan mengikuti
Kejurnas nanti. Maksimal pebulu tangkis berusia 18 tahun. Kami harap hasil
Pelatprov Bali bisa bersinar dan bisa terpantau ikut Seleknas dan mampu lolos
bisa tembus Pelatnas,” tegas Winurjaya.
Winurjaya juga menyampaikan bahwa PBSI Bali akan menggelar
Kejurprov, yang perkiraan waktunya akan dilaksanakan pada bulan September atau
sebelum Sirnas B. Hasil Kejurprov itu nantinya akan dikirim mengikuti Kejurnas.
Perubahan bagus di dunia bulu tangkis di Indonesia juga
diungkapkan Winurjaya, yakni sudah tidak ada batasan usia diberlakukan di
Kejurnas nanti. Sedangkan yang masih memberlakukan pembatasan usia, yaitu di
Pra-PON dan PON.
“Bali akan berjuang juga untuk meniadakan batasan usia
pebulu tangkis yang turun di Pra-PON maupun PON,” pungkas Winurjaya. (djo)
