Ibu RT Ni Luh Sri Wahyuningsih yang memiliki usaha Keripik Ayam Biru lewat Klasterku Hidupku BRI, kini memiliki 28 anggota aktif. Foto bersama karyawan. (Foto: BRI)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Di sela rutinitas mengurus rumah dan keluarga, banyak ibu rumah tangga (RT) diam-diam menyimpan mimpi untuk membantu perekonomian keluarga. Mimpi itu kadang dimulai dari hal sederhana, seperti camilan rumahan yang dibuat dari dapur sendiri.
Hal itulah
yang dilakukan Ni Luh Sri Wahyuningsih. Dari rumahnya di kawasan Kesiman
Petilan, Denpasar, Bali, sosok yang akrab disapa Sri ini memulai usaha keripik
ayam secara perlahan sambil menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga.
Siapa
sangka, usaha kecil yang awalnya dikerjakan sendiri itu kini berkembang menjadi
Klaster Keripik Ayam Biru dengan puluhan anggota aktif dan produksi ratusan
kilogram setiap hari bersama dukungan program Klasterku Hidupku dari BRI.
Sri
bercerita bahwa usaha keripik ayam ini mulai dirintis sejak 2017. Saat itu, ia
hanya ingin membantu menambah penghasilan keluarga tanpa meninggalkan
kewajibannya di rumah.
"Awalnya
dulu saya sendiri yang membuat keripik ini. Lalu lama-lama tetangga banyak yang
bertanya, kok bisa saya mengurus anak sambil tetap mendapatkan penghasilan
tambahan. Akhirnya banyak yang sering datang ke rumah untuk lihat prosesnya.
Mereka awalnya lihat saja, lalu banyak bertanya gimana caranya. Dari situ
mungkin akhirnya ada yang tergerak untuk bikin sendiri di rumah,"
ungkapnya.
Tanpa
disadari, usaha yang dijalankan Sri perlahan menjadi inspirasi bagi ibu-ibu di
lingkungan tempat tinggalnya. Banyak yang tertarik belajar membuat keripik dan
mencoba memulai usaha sendiri dari rumah.
Pendampingan
Klasterku Hidupku dari BRI Dorong UMKM Naik Kelas
Perjalanan
usaha Sri mulai memasuki babak baru pada 2019. Saat itu, salah satu mantri BRI
yang dikenalnya memberikan saran agar usaha yang dijalankannya dibentuk menjadi
klaster usaha.
"Saya
ini kan memang nasabah KUR BRI. Lalu salah satu mantri BRI yang saya kenal
memberikan saran untuk membuat klaster usaha. Saya didampingi untuk membuat
klaster dengan anggota ibu-ibu di sekitar sini juga, tetangga satu kompleks.
Akhirnya terbentuk Klaster Kripik Ayam Biru ini," terang Sri.
Dari
sinilah Klaster Keripik Ayam Biru mulai berkembang. Kini, terdapat sekitar 28
anggota aktif yang ikut memproduksi camilan keripik ayam di bawah nama usaha
tersebut.
Sri
mengaku, pendampingan yang diberikan BRI melalui program Klasterku Hidupku
membawa banyak perubahan bagi usahanya. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi
juga kualitas produk dan cara menjalankan bisnis.
"Banyak
banget pendampingan dari BRI, terutama soal kemasan. Dulu kemasan yang saya
gunakan polos, sekarang sudah lebih menarik berkat bantuan dari BRI. Selain
itu, kami juga mendapatkan bantuan berupa sarana dan prasarana produksi seperti
kompor, alat penggorengan, hingga freezer untuk menyimpan bahan-bahan. Anggota
kami juga mendapatkan fasilitas KUR BRI untuk membantu permodalan usaha dan
kebutuhan rumah tangga lainnya," jelas Sri.
Tak
berhenti di situ, Sri dan anggota klaster juga rutin mengikuti berbagai
pelatihan yang diberikan BRI. Mulai dari pelatihan branding, packaging, hingga
pemasaran yang membantu mereka memahami bagaimana membangun usaha yang lebih
profesional.
Bahkan,
Sri mengaku kalau klaster usahanya sering diajak mengikuti pameran UMKM BRI
yang membuat produk mereka semakin dikenal masyarakat.
Setiap
harinya, klaster ini mampu memproduksi hingga 400 kilogram keripik ayam.
Keripik Ayam Biru hadir dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari kemasan
eceran hingga kiloan. Meski baru memiliki satu varian rasa original, produk
mereka telah dipasarkan ke berbagai toko snack dan grosir di seluruh Bali,
bahkan mulai merambah pasar luar Bali.
Di balik
pertumbuhan usaha tersebut, tantangan tetap menjadi bagian yang harus dihadapi
sehari-hari. Sri mengungkapkan, fluktuasi harga bahan baku menjadi salah satu
kendala terbesar yang sering dirasakan.
"Tantangan
yang paling sering dirasakan adalah harga bahan baku seperti ayam, bumbu dan
tepung yang naik cukup banyak. Selain itu, kadang ada anggota yang banyak
libur, karena di Bali ini kan ada banyak acara keagamaan yang mengharuskan
untuk libur. Hal ini sering membuat kami menolak orderan yang masuk dengan
berat hati," cerita Sri.
Meski
begitu, Sri bersyukur usaha ini mampu membantu meningkatkan perekonomian para
anggota klaster. Baginya, keberadaan Klaster Keripik Ayam Biru bukan sekadar
tempat produksi camilan, tetapi juga ruang bertumbuh bersama bagi para ibu
rumah tangga di lingkungan sekitar.
"Terima
kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh jajaran BRI yang telah
membantu Klaster Keripik Ayam Biru hingga di titik sekarang ini. Berkat
pendampingan BRI, kami yang awalnya tidak tahu apa-apa jadi belajar banyak hal.
Semoga dukungan BRI terus mengalir untuk UMKM seperti kami dan UMKM lain di
luar sana dan semoga kerja sama ini bisa terus berlangsung," tutup Sri.
Dalam
kesempatan terpisah, Janarka Dwi Atmaja, Pemimpin Kantor Cabang BRI Gajah Mada
Denpasar mengungkapkan bahwa program Klasterku Hidupku dirancang sebagai
pendekatan pemberdayaan yang mendorong UMKM naik kelas, khususnya bagi pelaku
usaha di sektor produksi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian
daerah.
Melalui
penguatan klaster, BRI tidak hanya menghubungkan pelaku usaha dengan akses
permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang memungkinkan terjadinya
kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat
lokal.
“Hingga
saat ini, di BRI Kantor Cabang Gajah Mada Denpasar terdapat 21 klaster usaha
yang bergabung dalam program Klasterku Hidupku. Kisah Klaster Kripik jadi kisah
inspiratif di wilayah Denpasar dapat direplika oleh pelaku UMKM lainnya,”
tegasnya. (*)
