Buka UDG XXXIII, Gubernur Koster Ajak Masyakarat Perkuat Integritas dan SDM Bali Unggul


Gubernur Koster secara resmi membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar, Jumat (11/9/2026). (Foto: Humas-Prov. Bali) 

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS — Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar, Jumat (11/9/2026). Dalam pembukaan ajang keagamaan dan seni sastra tersebut, Koster menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia (SDM) Bali yang cerdas, berkarakter, dan berintegritas tinggi sebagai fondasi keberlanjutan peradaban Bali.

Gubernur Koster menyampaikan bahwa Utsawa Dharma Gita tidak boleh dipandang sebatas ajang perlombaan seremonial semata. Lebih dari itu, UDG merupakan wahana strategis untuk mencetak SDM Bali yang unggul, sejalan dengan visi jangka panjang yang tertuang dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.

Menurutnya, gagasan mengenai pentingnya pembentukan SDM unggul tersebut dirumuskan berdasarkan hasil penelusuran sejarah dan literatur peradaban Bali dari masa ke masa.

“Kenapa saya mengangkat SDM Bali unggul? Karena saya membaca berbagai dokumen hasil riset dan buku-buku tentang peradaban Bali, mulai dari Bali Kuno hingga perkembangan Bali sampai sekarang,” ujar Koster.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai dalam pilar pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali berakar kuat pada khazanah sastra serta tradisi leluhur. Nilai-nilai luhur tersebut membentuk kepribadian dan karakter khas masyarakat Bali yang tangguh dan memegang teguh etika kehidupan.

“Orang Bali itu jemet, tekun, ulet, rajin, jujur, berpegang pada satya, dan lebih mendahulukan kewajiban daripada hak,” tegas Gubernur Koster terkait karakter ideal masyarakat Bali.

Kendati demikian, Koster tidak menampik bahwa arus modernisasi dan dinamika zaman mulai mengikis sebagian nilai luhur tersebut. Ia menyoroti kemunculan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, seperti menurunnya kejujuran, tindakan korupsi, hingga perilaku yang menyimpang dari norma kesantunan Bali.

Meski begitu, Koster optimistis bahwa penurunan nilai moral tersebut hanya terjadi pada segelintir oknum dan tidak mencerminkan perilaku mayoritas warga Bali.

“Memang ada penurunan dari kesunatian orang Bali. Mulai ada korupsi, ada yang nakal, ada yang jahat. Tetapi yang begitu tidak banyak. Yang masih banyak adalah orang-orang yang baik,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong membentengi serta memulihkan integritas krama Bali. Koster menekankan bahwa upaya penguatan karakter tersebut sangat bergantung pada pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali yang menjadi penopang utama kebudayaan setempat.

“Bahasa Bali dan aksara Bali itu adalah ekosistem kehidupan orang Bali,” kata Koster mengaitkan pentingnya bahasa lokal dengan identitas serta peradaban Bali.

Melalui UDG XXXIII, Gubernur berharap sastra dan seni keagamaan Hindu tidak hanya dihayati saat kompetisi, tetapi juga dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi muda. Ajang ini diharapkan menjadi ruang penumbuhan jati diri generasi penerus agar memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kedalaman moral.

Pelaksanaan UDG Bali XXXIII Tahun 2026 sendiri berlangsung selama enam hari, terhitung sejak 11 hingga 16 September 2026, dengan mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”.

Pada perhelatan tahun ini, terdapat 11 bidang lomba dengan total 37 kategori yang dipertandingkan. Kesebelas bidang lomba tersebut meliputi: Membaca Sloka, Palawakya, Kakawin, Kidung, Nyanyian Keagamaan Hindu, Gaguritan, Dharmawacana Bahasa Bali, Dharmawacana Bahasa Inggris, Menghafal Sloka, Dharmawiwada, dan Dharmacarita. (*) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama