Surfer asal Bali I Made Pajar saat menaklukkan ombak di ajang Asian Games 2026 dan karenanya diganjar prestasi medali perak dari ajang tersebut. (Foto: timnas)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS - Medali perak I Made Pajar Ariana di Asian Games 2026
Aichi-Nagoya menjadi catatan bersejarah bagi surfing Indonesia. Untuk pertama
kalinya sejak surfing masuk dalam program Asian Games, Indonesia berhasil
membawa pulang medali melalui nomor men’s shortboard.
Bagi atlet asal Bali yang membela kontingen Indonesia di
Asian Games 2026, Pajar menjadi atlet ketiga setelah Cok Agung Istri
Sanistyarani dan Sayu Bella yang meraih perunggu dari karate serta balap
sepeda.
Pajar meraih medali perak setelah bersaing dengan peselancar
tuan rumah Jepang, Kanoa Igarashi, pada final yang berlangsung di Pacific Long
Beach, Tahara, Prefektur Aichi, Selasa (29/9/2026).
Dalam pertarungan tersebut, Pajar mengoleksi total skor
10,40. Sementara Kanoa mencatat 12,87 poin untuk mengamankan medali emas
sekaligus tiket langsung menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Pelatih timnas surfing Indonesia, Arya Subyakto, menilai
Pajar sebenarnya mampu memberikan perlawanan dari sisi kemampuan teknis. Menurutnya,
perbedaan skor dalam final lebih banyak dipengaruhi kondisi ombak dan kemampuan
memilih gelombang yang datang.
“Kita sebenarnya dari segi skill sangat bisa bersaing,
walaupun lawannya Kanoa Igarashi yang merupakan atlet World Surf League
Championship Tour dan masuk jajaran atlet top 10,” kata Arya usai pertandingan.
Arya menjelaskan, kondisi ombak pada final tidak terlalu
konsisten. Gelombang datang dengan jarak yang cukup lama sehingga setiap
peselancar harus cermat menentukan ombak yang akan diambil.
Dalam situasi tersebut, Kanoa dinilai lebih efektif dalam
melakukan seleksi ombak. Sebagai peselancar tuan rumah yang sudah memahami
karakter perairan setempat, Kanoa mampu memanfaatkan kesempatan yang tersedia.
“Faktor keberuntungan sangat menentukan. Ombak yang datang
agak jarang dan tidak konsisten. Di sinilah kepiawaian Kanoa terbukti. Seleksi
ombaknya lebih baik dari Pajar, walaupun permainan Pajar juga sangat bagus,”
ujar Arya.
Meski gagal meraih emas, Arya tetap memberikan apresiasi
tinggi kepada Pajar. Baginya, medali perak tersebut merupakan pencapaian
penting sekaligus modal bagi perkembangan surfing Indonesia ke depan.
“Pajar bisa memberikan persaingan ketat. Kita tetap bangga
dan sangat mengapresiasi Pajar yang bisa meraih perak. Ini suatu prestasi yang
luar biasa,” katanya.
Keberhasilan Pajar menjadi semakin istimewa karena Asian
Games 2026 merupakan edisi pertama yang memasukkan surfing sebagai cabang
olahraga yang dipertandingkan. Namun, kiprah surfing Indonesia di ajang
multievent sebenarnya telah berlangsung lebih lama.
Indonesia sebelumnya telah tampil di Asian Beach Games 2008
di Bali dan kemudian meraih medali pada SEA Games 2019 di Filipina. Surfing
Indonesia juga telah dua kali tampil di Olimpiade, yakni Tokyo 2020 dan Paris
2024 melalui Rio Waida.
“Ini yang perdana di Asian Games. Tahun 2026 ini pertama
kalinya surfing masuk Asian Games dan puji Tuhan kita berhasil merebut medali
perak melalui Pajar Ariana,” tutup Arya. (*)
