Foto bersama melepas mahasiswa magang ke Jepang, di Aula STIKOM Bali, Rabu (7/1/2026). (Foto: perspectives)
BALI, PERSPECTIVESNEWS- Rektor ITB STIKOM Bali Dadang Hermawan menegaskan,
program kuliah magang itu paling ideal karena mahasiswa dapat pengalaman kerja,
penghasilan, sekaligus meraih gelar sarjana.
“Dan mereka yang terpilih telah melalui
seleksi ketat oleh LPK yang bekerjasama dengan STIKOM Bali,” terang Dadang
Hermawan saat melepas empat mahasiswa dalam program kuliah sambil magang kerja
ke negara Jepang, di Aula STIKOM Bali, Renon Denpasar, Rabu (7/1/2026).
Dadang mengatakan, tiga dari empat
mahasiswa yang berangkat ke Jepang yakni, Ni Kadek Anita Setyari di Nagoya
Jepang bidang Perhotelan, Tarsius Danrianus Tupen Lanan di perusahaan furniture
Osaka dan Ni Made Ratih Purwasih di Nagoya Jepang bidang perhotelan.
“Mahasiswa yang terpilih mengikuti KKL
di Jepang adalah kesempatan yang sangat baik.karena merupakan program yang
paling ideal. Mereka mengikuti kuliah dan magang kerja di perusahaan-perusahaan
di Jepang dan mendapatkan bayaran cukup tinggi,” ujarnya.
Dan, lanjut Dadang, Jepang merupakan
negara yang pas untuk menggembleng fisik dan sikap mental untuk melahirkan SDM
yang unggul mengingat Jepang terkenal disiplin dan etos kerja yang tinggi,
jelasnya.
Untuk itu dirinya pun berpesan agar
kesempatan ini tidak disia-siakan.
“Kontrak mereka magang di Jepang tiga
tahun. Selanjutnya bisa diperpanjang lagi. Umumnya mereka adalah mahasiswa yang
ikut magang adalah masiswa yang terkendala biaya dalam kuliah dan mereka
mengikuti kuliah secara daring,” tutur Rektor Dadang Hermawan.
Dorong APK Perguruan Tinggi
Rektor ITB STIKOM Bali Dadang Hermawan memberikan pemaparan singkat terkait APK di Bali. (Foto: perspectives)
Di sisi lain, Dadang Hermawan mendorong peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi hingga 60 persen. Tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Dadang menyebutkan, saat ini APK
perguruan tinggi di Bali masih berada di kisaran rata-rata nasional yaitu
sekitar 35 persen. Padahal, berbagai hambatan yang selama ini menjadi alasan
masyarakat enggan kuliah dinilainya sudah semakin berkurang.
Mulai dari fleksibilitas waktu melalui
sistem pembelajaran daring, dukungan pembiayaan melalui program KIP Kuliah,
beasiswa yayasan, hingga program kuliah magang yang memungkinkan mahasiswa
belajar sambil bekerja.
Dadang menegaskan, peningkatan
kualitas sumber daya manusia (SDM) Bali sangat bergantung pada keberanian para
pengambil kebijakan dalam mendorong anak-anak usia sekolah melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya ingin agar SDM Bali jangan di
bawah rata-rata, tapi harus di atas rata-rata, dengan ditunjukannya APK
Perguruan Tinggi,” terangnya.
Ia menambahkan, rendahnya APK
perguruan tinggi masih dipengaruhi oleh faktor finansial dan minimnya informasi
di masyarakat terkait berbagai skema bantuan pendidikan.
Karena itu, Dadang berharap seluruh
pemangku kepentingan, termasuk media, turut aktif mengedukasi dan mengarahkan
generasi muda agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. (lan)

