Perspectives News

Giri Prasta di Ketog Semprong Festival: Wujudkan Harmoni Bersama "Nyama Selam" Candikuning



Wagub Giri Prasta saat menghadiri Ketog Semprong Festival di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Sabtu (11/4). Foto: Hms. Prov. Bali. 


TABANAN, PERSPECTIVESNEWS – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menekankan bahwa menjaga kelestarian Pulau Dewata adalah tanggung jawab kolektif, termasuk bagi komunitas "Nyama Selam" (saudara Muslim) yang telah menetap turun-temurun di Desa Candikuning, Tabanan. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Ketog Semprong Festival di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Sabtu (11/4).

​Dalam sambutannya, Giri Prasta mengulas filosofi nama "Bedugul" yang diyakini merupakan perpaduan kata bedug (perangkat musik Muslim) dan kulkul (kentongan Bali). Baginya, asal-usul ini adalah bukti otentik harmoni yang telah mengakar kuat di kawasan tersebut.

Mantan Bupati Badung dua periode ini memuji antusiasme masyarakat Candikuning—dari generasi muda hingga orang tua—dalam merajut toleransi melalui festival ini. Ia menilai Ketog Semprong sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

​"Nilai-nilai Atma Kerthi hingga Jagat Kerthi telah diwujudkan menjadi tradisi oleh umat Muslim di Candikuning. Kehadiran saya di sini untuk mengingatkan bahwa Bali dibangun oleh kolaborasi orang-orang suci dari berbagai latar belakang," ujar Giri Prasta.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Wagub menyatakan komitmennya untuk memasukkan Ketog Semprong Festival ke dalam kalender kegiatan resmi Pemerintah Provinsi Bali, memfasilitasi pendanaan rutin, sehingga ke depan masyarakat cukup fokus pada teknis kepanitiaan, serta memberikan sumbangan pribadi senilai Rp50 juta untuk mendukung kelancaran acara tahun ini.

Hadir pula Anggota Komisi IV DPR RI, I Nyoman Adi Wiryatama, yang menyebut festival ini unik karena hanya ada di Bali dan bertepatan dengan momentum Lebaran Ketupat. Senada dengan itu, Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menjelaskan arti "Ketog Semprong" sebagai kerumunan yang tumpah ruah.

​"Di sini umat Muslim berkumpul untuk bersilaturahmi, makan bersama, sekaligus melestarikan budaya. Candikuning adalah simbol nyata di mana masyarakat multikultural bisa hidup berdampingan dengan damai," jelas Dirga.

Perwakilan Kampung Islam Candikuning, Ariel Dimitri Azkacetta, menjelaskan bahwa festival ini merupakan ruang pertemuan antara masyarakat dan pemimpin untuk mewujudkan janji menjadi realisasi.

​"Ini adalah wujud semangat menyama braya. Kami melibatkan generasi muda dan selalu menampilkan kesenian Bali dalam acara kami sebagai bentuk kolaborasi," ungkap Ariel. Ia juga berharap perhatian pemerintah terus berlanjut secara proporsional, mengingat posisi strategis Candikuning sebagai jantung pariwisata Bedugul yang harus tetap kondusif dan asri. (*) 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama