RDKB OJK per 30 April yang menilai SJK Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan global. (Foto: OJK)
JAKARTA, PERSPECTIVESNEWS- Rapat Dewan
Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 April 2026 menilai
stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga meskipun
dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.
Ketidakpastian global dipicu oleh dinamika geopolitik,
termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi energi dan
menjaga volatilitas harga minyak dunia.
Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memangkas proyeksi
pertumbuhan global menjadi 3,1 persen pada 2026, dengan meningkatnya risiko
stagflasi.
Di tengah tekanan tersebut, ekonomi Indonesia tetap
menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Konsumsi
rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, sementara cadangan
devisa tercatat kuat sebesar USD148,2 miliar.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
mengalami koreksi menjadi 6.956,80 pada April 2026. Meski demikian, likuiditas
pasar tetap terjaga. Sementara itu, jumlah investor pasar modal terus meningkat
signifikan hingga mencapai 26,49 juta investor.
Dari sektor perbankan, pertumbuhan kredit tercatat sebesar
9,49 persen secara tahunan dengan kualitas kredit yang tetap terjaga. Rasio
kredit bermasalah (NPL) berada di level rendah, sementara permodalan bank tetap
kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,09 persen.
Pada sektor asuransi dan dana pensiun, total aset industri
asuransi meningkat menjadi Rp1.195,75 triliun, sedangkan aset dana pensiun
mencapai Rp1.684,89 triliun. Di sisi lain, sektor pembiayaan dan fintech juga
menunjukkan pertumbuhan, termasuk pinjaman daring yang naik 26,25 persen secara
tahunan.
OJK juga terus memperkuat pengawasan dan perlindungan
konsumen. Sepanjang awal 2026, OJK telah menerima lebih dari 177 ribu
permintaan layanan, termasuk pengaduan masyarakat terkait sektor keuangan.
Selain itu, ratusan entitas keuangan ilegal telah ditindak untuk melindungi
masyarakat dari potensi kerugian.
Ke
depan, OJK akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui penguatan
manajemen risiko, pengawasan lembaga jasa keuangan, serta berbagai kebijakan
strategis guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Pasar saham domestik
pada April 2026 menunjukkan pergerakan yang dinamis, sejalan dengan tingginya
ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan dunia.
Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.956,80, terkoreksi 1,30 persen secara mtm
atau 19,55 persen secara ytd. Namun di tengah dinamika tersebut,
resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap manageable.
Dari sisi likuiditas,
rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik tetap terjaga di level
rendah, yaitu sebesar 1,33 kali (Maret 2026: 1,55 kali). Adapun rata-rata Nilai
Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham pada periode laporan tercatat sebesar
Rp18,51 triliun, mengalami moderasi dibandingkan angka RNTH bulan Maret 2026
(Rp20,66 triliun) seiring langkah wait-and-see
pelaku pasar.
Sementara itu, investor
asing pada bulan tersebut membukukan net sell di saham sebesar
Rp17,02 triliun (Maret 2026: net sell
Rp23,34 triliun). (lan/*)
