Ilustrasi inflasi Provinsi Bali pada Mei 2026 berdasarkan rilis BPS Bali pada Selasa (2/6/2026).
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS- Berdasarkan
rilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Juni 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada
Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan
April sebesar 0,01% (mtm), dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional bulan
Mei sebesar 0,28% (mtm).
Inflasi
bulanan meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi,
serta tekanan harga komoditas global yang turut memengaruhi dinamika pergerakan
inflasi secara bulanan.
Sementara
itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,08% (yoy) pada April
2026 menjadi 2,99% (yoy). Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih
berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.
Secara
spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada
Mei 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,54%
(mtm) atau 2,78% (yoy).
Selanjutnya,
Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi
tahunan sebesar 3,19% (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan sebesar
0,37% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,17% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten
Badung yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% (mtm) atau inflasi
tahunan sebesar 2,64% (yoy).
Berdasarkan
komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga
beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan
angkutan udara.
Inflasi
yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, tomat, bawang
merah, jeruk, dan bawang putih.
Inflasi
yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik
global.
Bank
Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis
TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan
intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat
terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.
Ke depan,
beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang
dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan serta periode high season
wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim
hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko
kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan yang mempengaruhi produksi
pertanian, serta berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi pada kenaikan
lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga.
Per 1 Juni
2026, terdapat kenaikan harga BBM nonsubsidi. Dalam memperkuat pengendalian
inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali senantiasa bersinergi dan
berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya
TPID yang berfokus pada 4K. Adapun strategi tersebut diantaranya intensifikasi
operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring
dan sidak pasokan LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan serta
optimalisasi kerjasama antar daerah oleh Perumda pangan, serta penguatan
koordinasi dan penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar dan pasar
murah kepada masyarakat di kab/kota.
Dengan
langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga
dalam sasaran 2,5%±1%. (lan/bi)
