Perspectives News

Sampaikan Pesan Megawati di World Civilizations Harmony Forum, Gubernur Koster Suarakan Peradaban Dunia yang Berkeadilan


Gubernur Koster bersama tokoh lintas negara, agama, budaya, dan akademisi dalam kegiatan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, Senin (29/6). (Foto: Humas-Prov.Bali) 


DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Gubernur Bali, Wayan Koster, secara resmi membacakan sambutan dari Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri. Momen ini berlangsung pada pembukaan The 3rd World Civilizations Harmony Forum di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Badung, pada Senin (29/6). Forum berskala internasional tersebut sukses mempertemukan para tokoh lintas negara, agama, budaya, hingga akademisi demi merumuskan masa depan peradaban dunia yang damai, adil, dan berkelanjutan.

Ketua Yayasan Prajna Harmonis, Kasino, mengungkapkan dalam sambutannya bahwa di tengah situasi global saat ini, cita-cita mewujudkan harmoni dan perdamaian dunia memang terasa semakin menjauh akibat maraknya konflik. Kendati demikian, seluruh peserta forum memilih untuk tetap bersatu dan memikirkan masa depan umat manusia.

Tujuan utama dari forum ini adalah menghormati keberagaman peradaban sekaligus menggali nilai-nilai universal yang dapat menyatukan umat manusia. Kasino menegaskan bahwa nilai universal tersebut adalah hati nurani, yang menjadi fondasi martabat dan nilai setiap individu tanpa memandang kebangsaan, suku, agama, budaya, maupun ideologi.

Melalui perspektif sejarawan dunia Profesor Wang Gungwu, Kasino menguraikan bahwa kebudayaan merupakan identitas khas yang lahir dari kehidupan bersama masyarakat lokal sehingga ragamnya sangat kaya. Namun, di balik perbedaan tersebut, ada nilai kemanusiaan universal yang mengikat. Oleh sebab itu, forum kali ini mengusung tema “Harmony in Diversity, Human Fraternity”. Tema ini selaras dengan nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, serta memiliki titik temu dengan ajaran berbagai peradaban dunia, yakni Vasudhaiva Kutumbakam (Hindu), Ukhuwah Insaniyah (Islam), Tianxia Yijia (Konfusianisme), Persaudaraan universal (Tradisi Buddha dan Kristen). 

Kasino juga mengajak para hadirin mengingat kembali pesan penting Megawati Soekarnoputri pada forum kedua sebelumnya. Ia menyatakan bahwa dunia yang setara dan bermartabat tidak boleh dipimpin oleh “hukum rimba”, melainkan oleh “hukum hati nurani”. Teori benturan peradaban dinilai lahir dari sejarah panjang persaingan dan dominasi. Sebaliknya, alam semesta sebenarnya bekerja berdasarkan hukum harmoni yang menjaga keseimbangan, keterhubungan, dan kerja sama. Forum ini pun diharapkan menjadi wadah kontribusi gagasan, kebijaksanaan, dan suara hati demi membangun peradaban dunia yang damai dan adil.

Melalui sambutan yang dibacakan oleh Gubernur Koster, Megawati Soekarnoputri memberikan apresiasi mendalam terhadap Bali. Menurutnya, Bali adalah cerminan sejati dari harmoni antara alam, spiritualitas, budaya, dan keramahan masyarakat, yang menjadi representasi peradaban Indonesia di panggung dunia. Filosofi hidup masyarakat Bali, Tri Hita Karana yang mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta, dinilai sangat relevan dengan tema yang diangkat forum ini.

Di sisi lain, Megawati menyoroti tantangan global saat ini yang kian dikuasai oleh persaingan hegemoni, konflik bersenjata, ketidakadilan, hingga dominasi di sektor ekonomi, teknologi, dan informasi yang mengancam nilai kemanusiaan. Berkaca dari keberhasilan Indonesia sebagai bangsa majemuk yang dipersatukan oleh Bhinneka Tunggal Ika, Megawati menawarkan lima agenda strategis bagi keberlanjutan peradaban dunia, yakni membangun regulasi global yang berkeadilan, memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mereformasi sistem keuangan global, mengembangkan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, dan memperkuat sistem kebudayaan melalui jalur pendidikan, kesehatan, serta pelestarian identitas budaya setiap bangsa.

Sebagai penutup sambutannya, Megawati mengutip petuah bijak dari Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bahwa internasionalisme tidak dapat tumbuh tanpa berakar pada nasionalisme. Maka dari itu, rasa cinta terhadap tanah air wajib berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dalam membangun dunia yang lebih baik, atas dasar kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, serta kemakmuran bersama.

Megawati juga menitipkan pesan dan ajakan kepada generasi muda di seluruh penjuru dunia untuk bergerak menjadi pembangun jembatan persaudaraan, bukan justru menjadi tembok pemisah, demi mewujudkan peradaban dunia yang harmonis.

Acara berskala internasional ini juga turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia periode 2019–2024, Mahfud MD. (*) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama