Infografis Inflasi Provinsi Bali pada Juni 2026.
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Berdasarkan rilis BPS
Provinsi Bali tanggal 1 Juli 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026
mengalami inflasi sebesar 0,71% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei
sebesar 0,42% (mtm).
Inflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh permintaan
barang/jasa akibat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan
penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) non subsidi. Sementara itu, inflasi
Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,99%
(yoy) pada Mei 2026 menjadi 3,27% (yoy), masih lebih
rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% serta berada dalam rentang
sasaran inflasi nasional 2,5±1%.
Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali
mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi
bulanan tertinggi sebesar 0,92% (mtm) atau 3,43% (yoy).
Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan
sebesar 0,75% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,46% (yoy), diikuti Kabupaten
Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,69% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar
2,80% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Buleleng yang juga mengalami inflasi
bulanan sebesar 0,46% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,26% (yoy).
Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Juni
2026 bersumber dari kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel,
dan buncis.
Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga
daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras.
Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung
berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan
pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi
Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.
Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara
lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan
nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke
kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian, serta
potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan
tekanan terhadap harga barang impor.
Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank
Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K,
yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan
komunikasi yang efektif.
Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya
melalui intensifikasi operasi pasar murah, pemantauan harga secara berkala, monitoring
serta sidak distribusi LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan dan
optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan
koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada
tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar
2,5%±1%. (lan/bi)
