Perspectives News

Kemarau Ekstrem, Jembrana Dikepung Kebakaran Lahan

 


Kebakaran lahan di wilayah Kecamatan Perkataan, Jembrana pada Senin (20/7/2026). (Foto: Damkar Jembrana).

JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Musim kemarau panjang yang disertai angin kencang memicu rentetan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Jembrana. Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, tercatat sebanyak lima kali insiden kebakaran melanda wilayah perkebunan dan kawasan hutan di daerah tersebut.

Bahkan dalam sehari, pada Senin (20/7/2026) lalu, kebakaran hebat menerjang puluhan are lahan perkebunan dan hutan di dua lokasi berbeda yang terletak di Kecamatan Pekutatan.

Kobaran api diduga kuat dipicu oleh gesekan ranting pohon kering akibat cuaca ekstrem serta api dari puntung rokok.

Guna mencegah kobaran api terus meluas, Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) bergerak cepat dengan mengerahkan tiga unit mobil pemadam ke lokasi kejadian.

Kendati demikian, hembusan angin yang sangat kencang dan vegetasi yang mengering cukup menyulitkan proses pemadaman.

Dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026), Kasat Pol PP Jembrana, I Ketut Eko Susila Artha Permana, mengungkapkan bahwa penyebaran lima titik kebakaran dalam sepekan ini tersebar di tiga wilayah, yakni Kecamatan Jembrana, Kecamatan Mendoyo dan Kecamatan Pekutatan.

"Di Jembrana dalam seminggu terakhir sudah terjadi 5 kebakaran lahan. Ini cukup lumayan luas, meski beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden ini," ujar Eko Susila.

Mengingat prediksi BMKG Bali yang menyebutkan musim kemarau di Jembrana masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, pihak Satpol PP meminta masyarakat untuk ekstra waspada terhadap aktivitas yang memicu percikan api.

"Melihat kondisi cuaca ekstrem, mohon dengan sangat untuk selalu berhati-hati. Hentikan perilaku membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok yang masih menyala. Larangan membakar sampah sebenarnya sudah ada karena hembusan angin kencang membuat kobaran api cepat membesar dan terbang ke mana-mana," tegasnya.

Selain ancaman karhutla, Eko Susila juga mengingatkan dampak kekeringan yang mulai memicu krisis air bersih di sejumlah titik. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dan hemat dalam menggunakan pasokan air bersih guna mengantisipasi situasi darurat selama puncak kemarau. (dik)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama