Perspectives News

Widminarko Tekankan Independensi dan Semangat Belajar Wartawan

Suasana Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Provinsi Bali 2026 di Gedung/Sekretariat PWI Bali, Denpasar, Kamis (20/8/2026). (Foto: Angga)

Oleh: Ngurah Angga
Editor: Djo 

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS - Lebih dari lima dekade berada di dunia jurnalistik, membuat Widminarko memahami bahwa menjadi wartawan bukan sekadar soal kemampuan menulis atau mengejar informasi. Ada bekal, yang menurutnya jauh lebih mendasar, yakni niat dan kemauan untuk terus belajar.

Pesan itu disampaikan Widminarko saat menjadi pemateri dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali di Gedung/Sekretariat PWI Provinsi Bali, Denpasar, Kamis, 21 Agustus 2026.

Wartawan yang kini berusia 84 tahun itu telah menghabiskan 56 tahun dalam dunia jurnalistik sebelum pensiun dari Bali Post pada 2021. Perjalanan panjang tersebut membuatnya melewati berbagai perubahan dalam kehidupan pers, termasuk ketika media masih memiliki keterkaitan erat dengan dinamika politik.

Widminarko mengawali kiprahnya melalui Suara Indonesia, yang kemudian beralih menjadi Suluh Indonesia edisi Bali dan Suluh Marhaen edisi Bali. Pada 1 Mei 1968, ia tercatat menjadi penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali.

Dari perjalanan panjang tersebut, ia menemukan satu hal yang menurutnya menjadi bekal penting seorang wartawan.

“Bekal saya satu-satunya adalah niat dan semangat untuk menjadi wartawan. Ternyata bekal itu sangat manjur. Selama 56 tahun menjadi wartawan, niat dan semangat untuk terus belajar itulah yang menjadi bekal saya,” ujar Widminarko.

Bagi Widminarko, kemauan belajar membuat wartawan tidak berhenti pada pengetahuan yang telah dimiliki. Dunia jurnalistik terus bergerak, sehingga seorang wartawan perlu memperluas wawasan melalui kebiasaan membaca dan menyimak berbagai informasi.

Ia juga mengingatkan wartawan muda untuk membangun kebiasaan mencatat setiap detail dan data penting ketika berada di lapangan. Informasi yang diperoleh wartawan tidak hanya menjadi bahan untuk menulis, tetapi juga menjadi dasar untuk memastikan sebuah pemberitaan tetap akurat.

Namun, perjalanan panjang Widminarko di dunia pers juga memperlihatkan bahwa kemampuan jurnalistik harus berjalan bersama independensi. Ia pernah mengalami situasi ketika bekerja sebagai penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali.

Setelah memberitakan fakta mengenai antusiasme masyarakat dalam sebuah iring-iringan partai lain, ia mendapat teguran dari garis partai. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran mengenai pentingnya menjaga posisi wartawan agar tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis. Fakta yang ditemukan di lapangan, menurut pandangan Widminarko, harus tetap menjadi pijakan dalam menjalankan tugas jurnalistik.

ia menambahkan, independensi itu juga berkaitan dengan cara wartawan menempatkan dirinya di tengah masyarakat dan mengingatkan agar wartawan tidak terasing dari kehidupan publik.

"Kedekatan dengan masyarakat sangat diperlukan untuk memahami persoalan yang benar-benar terjadi. Dari sana, wartawan dapat melihat isu yang berkembang dan menentukan mana yang memiliki nilai berita," tegas Widminarko

Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika ekosistem media mengalami perubahan besar. Informasi kini bergerak cepat melalui media sosial, sementara batas antara kerja jurnalistik dan produksi konten semakin sering bersinggungan dengan munculnya tren content creator.

Perubahan itu menuntut wartawan untuk mampu beradaptasi. Namun, kemampuan mengikuti perkembangan teknologi dan pola konsumsi informasi tidak berarti meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.

Akurasi, keberimbangan, independensi, serta tanggung jawab sosial tetap menjadi bagian penting dari profesi tersebut. Wartawan juga perlu memahami bagaimana media bekerja sebagai sebuah ekosistem, termasuk sisi bisnis yang menopang keberlangsungan media massa.

Pesan Widminarko disampaikan dalam rangkaian OKK 2026 yang diikuti 102 wartawan, baik anggota maupun calon anggota PWI, dari berbagai media massa di Bali. Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Wartawan Profesional, Berintegritas, dan Berkomitmen terhadap Etika Jurnalistik melalui Penguatan Organisasi PWI”.

Sejumlah materi diberikan kepada peserta, antara lain mengenai sejarah pers, fungsi pers sebagai pilar demokrasi, UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), serta Kode Perilaku Wartawan (KPW).

Di tengah berbagai perubahan yang dihadapi dunia pers, pengalaman Widminarko menghadirkan perspektif dari perjalanan jurnalistik yang panjang. Teknologi dan cara masyarakat memperoleh informasi boleh berubah, tetapi kebutuhan terhadap wartawan yang mau belajar, mampu menjaga independensi, memahami masyarakat, dan bekerja berdasarkan fakta tetap tidak berubah.

Bagi wartawan yang baru memulai perjalanan, pesan itu menjadi bekal yang tidak bergantung pada zaman dan terus belajar, tetap dekat dengan masyarakat, dan menjaga jarak dari kepentingan yang dapat mengganggu independensi jurnalistik. ***


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama