Perspectives News

Jadi Narasumber OKK, Widminarko Tekankan Independensi dan Menyeimbangkan Idealisme Jurnalistik

 

Wartawan senior Wid Minarko (kanan) saat berbagi pengalaman kepada wartawan peserta Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali di Gedung/Sekretariat PWI Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (20/8/2026). (Foto: Sukma)

Reporter: Sukma
Editor: djo
 

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS - Tokoh pers senior Bali, Widminarko, membagikan rekam jejak perjalanan kariernya di dunia jurnalistik yang membentang selama puluhan tahun hingga pensiun dari Bali Pos pada tahun 2021. Berawal dari minimnya pendidikan formal jurnalistik di masa lalu, ia menekuni profesi wartawan berbekal semangat belajar serta adaptasi terhadap dinamika politik dan bisnis media.

Hal tersebut disampaikan Widminarko saat menjadi pemateri dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali di Gedung/Sekretariat PWI Provinsi Bali, Denpasar, Kamis (20/8/2026).

Mengawali karier tanpa latar belakang pendidikan jurnalistik formal, Widminarko membuktikan bahwa niat dan semangat belajar merupakan modal utama yang sangat manjur bagi seorang jurnalis.

"Waktu saya melamar di Suara Indonesia, saya tidak punya wawasan atau keterampilan menulis karya jurnalistik. Saat itu belum ada jurusan studi atau kursus jurnalistik, jadi masih kosong. Bekal saya satu-satunya adalah niat dan semangat untuk menjadi wartawan," ujar Widminarko.

Widminarko menceritakan, dinamika pers era 1960-an hingga awal 1970-an, yang menuntut setiap media massa berafiliasi dengan kekuatan politik, pemerintah, atau militer. Widminarko sempat berada di posisi yang sangat dilematis saat merangkap tiga peran sekaligus yakni Penanggung Jawab media Suluh Marhen, pegawai Jawatan Penerangan, dan Ketua Fraksi PNI di usia 25 tahun.

Keterikatan pada garis politik praktis tersebut lambat laun menimbulkan pergulatan batin bagi Widminarko. Ia mengenang peristiwa menjelang Pemilu 1971 saat ditegur oleh tokoh-tokoh PNI di Puri Satria karena meloloskan berita tentang antusiasme masyarakat menyambut iring-iringan Golkar di jalanan.

"Di pihak lain, saya merasakan itu adalah faktanya. Saat itu memang sudah bergeser, masyarakat mulai berubah, jadi faktanya begitu dan itu saya anggap bertentangan dengan batin saya. Sejak itulah saya bertekad, kalau saya jadi wartawan, jadilah wartawan independen dalam pengertian tidak aktif lagi dalam kegiatan politik praktis," tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa keterlibatan wartawan dalam politik praktis akan memicu dilema besar karena partai politik mengusung kepentingan kelompok. Sebaliknya, wartawan tetap dianjurkan aktif dalam organisasi kemasyarakatan nonpolitik guna memperluas wawasan dan memperkuat keterikatan dengan masyarakat.

Selain isu independensi, Widminarko mengulas pentingnya mensinergikan idealisme pers dengan aspek bisnis perusahaan media. Pengalaman tersebut ia terapkan secara nyata saat memimpin Mingguan Tokoh pada tahun 1998, di mana setiap wartawan juga didorong untuk memahami seluk-beluk pemasaran dan iklan.

"Pendapatan koran itu paling besar waktu itu dari pelanggan, pembeli eceran, dan iklan. Pendapatan iklan ini harus paling besar. Seorang petugas marketing juga harus bisa menulis karya jurnalistik karena iklan bukan hanya dalam bentuk display, tetapi juga artikel," jelasnya.

Dalam membedah karya jurnalistik, ia membagi fakta menjadi tiga tingkatan: fakta primer (peristiwa langsung yang ditangkap indera), fakta sekunder (fakta mendalam di balik peristiwa utama), dan fakta tersier (fakta masa lalu yang diaktualisasikan kembali sesuai momentum). Di usianya saat ini, Widminarko lebih berfokus merefleksikan dan membagikan fakta-fakta tersier sejarah melalui jejaring sosial pribadinya.

Mengakhiri pemaparannya, Widminarko menyampaikan kiat sederhana namun krusial yang wajib dimiliki oleh setiap jurnalis agar tetap relevan dan berbobot dalam menjalankan tugas jurnalistik.

"Seorang wartawan pertama harus gemar membaca, kedua gemar mendengar, dan ketiga gemar menonton apa saja untuk menumbuhkan wawasan. Kiat berikutnya adalah gemar mencatat, mendokumentasikan catatan dan foto tersebut, serta gemar berdiskusi," pungkas Widminarko. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama