YPAK bersama BKSDA Bali melepasliarkan enam ekor Curik Bali, Rabu (5/8/2026). (Foto: Ist)
TABANAN,
PERSPECTIVESNEWS- Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (YPAK) bersama dengan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali melaksanakan kegiatan
pelepasliaran enam ekor Curik Bali (Leucopsar rothschildii) sebagai bagian dari
upaya pelestarian satwa endemik Pulau Bali.
Hal ini juga
sekaligus memperkuat konservasi keanekaragaman hayati di habitat alaminya,
yaitu di Br. Utu Desa Babahan, Pura Luhur Besi Kalung, Kec. Penebel, Kab.
Tabanan, Rabu (5/8/2026) dalam rangka Road to HKAN 2026; “Satwa dilindungi bukan Peliharaan”.
Kegiatan
pelepasliaran ini merupakan wujud sinergi antara pemerintah, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM), akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga
keberlangsungan populasi Curik Bali (Leucopsar rothschildii) yang selama
bertahun-tahun menjadi salah satu satwa dilindungi di Indonesia.
Curik Bali yang
dilepasliarkan sebanyak tiga pasang (enam ekor), berasal dari penangkaran.
Sebelum dilepasliarkan, seluruh individu Curik Bali telah melalui proses
pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, serta tahapan adaptasi untuk
memastikan kesiapan hidup di alam liar.
Dalam
pelepasliaran ini dihadiri oleh tokoh YKI Prof Jatna selaku Dewan Pembina, Meidy
selaku Direktur Konservasi Indonesia (KI).
Kegiatan ini
dihadiri dari Yayasan Konservasi Indonesia yang hadir sejumlah 180 orang, dari
18 Provinsi di Indonesia, Prof. Dra, Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, M.Sc.,
Ph.D Kepala PUP Ornhithologist Universitas Udayana.
Dalam
kesempatan tersebut hadir Perbekel Desa Babahan bapak Made Sukapariana, S.E.,
dan menyampaikan dukungannya bahwa Desa Adat mendukung keberlangsungan Curik
Bali melalui adanya Perarem Desa adat dan menyampaikan terimakasih dengan
pelepasliaran Curik Bali di wilayahnya serta menerima Cinderamata dari Balai
KSDA Bali berupa Canvas Curik Bali.
Ketua
Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan (YPAK), drh. Bayu Wirayudha menyampaikan
bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen nyata Yayasan dalam mendukung
upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa langka.
Dalam
kegiatan ini, Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan berkolaborasi dengan
Konservasi Indonesia.
Konservasi
Indonesia mengagendakan pelepasliaran Curik Bali ini sebagai bagian dari acara gathering
di Bali dengan perwakilan dari berbagai lokasi kerja yang meliputi Wilayah
Paparan Sunda, Wilayah Sunda Banda, dan Wilayah Sahul Papua.
Tahapan
pelepasliaran sudah dilakukan; yaitu terkait pemenuhan administrasi izin
pelepasliaran, survey habitat untuk menentukan titik pelepasliaran, terdapatnya
pakan alami, sumber air, aman dari perburuan dan dapat dukungan dari
masyarakat, melakukan koordinasi dengan perbekel setempat,satwa dilakukan
pemeriksaan kesehatannya, dilakukan habituasi di lokasi pura Luhur Besi Kalung
Penebel dan dilakukan observasi selama 2 bulan dan evaluasi selama 2 minggu
sebelum dilakukan pelepasliaran.
Pada saat
dilepasliarkan, kondisi satwa dalam keadaan sehat, telah dilakukan pemeriksaan
kesehatannya oleh Tim dokter hewan dari FNPF.
Kolaborasi
ini selain melepasliarkan 6 ekor Curik Bali (Leucopsar rothschildii)
juga melepaskan 2 ekor jenis Celepuk Reban (Otus lempiji).
“Pelepasliaran
Curik Bali bukan hanya tentang mengembalikan burung ke habitatnya, tetapi juga
menjadi simbol kolaborasi dalam menjaga warisan alam Bali untuk generasi
mendatang. Kami berharap masyarakat turut berperan aktif menjaga habitat serta
mencegah segala bentuk perburuan dan perdagangan satwa liar secara ilegal,”
ujarnya.
Kepala Balai
KSDA Bali, Ratna Hendratmoko menegaskan, keberhasilan program konservasi tidak
hanya diukur dari jumlah satwa yang dilepasliarkan, tetapi juga dari tingkat
keberhasilan satwa tersebut beradaptasi dan berkembang biak di habitat
alaminya.
“Keberhasilan
konservasi memerlukan dukungan semua pihak. Melalui kerja sama ini, kami
berharap populasi Curik Bali di alam dapat terus meningkat sehingga
kelestariannya tetap terjaga. Pada tanggal 17 Agustus 2026, kami akan
mengusulkan kepada Bapak Menteri Kehutanan untuk ditetapkan sebagai “Hari
Curik Bali Nasional,” ungkap Kepala BKSDA Bali.
Curik Bali (Leucopsar
rothschildii) merupakan burung endemik Pulau Bali yang memiliki ciri khas
bulu putih bersih dengan ujung sayap dan ekor berwarna hitam serta kulit biru
di sekitar mata.
Spesies ini
menjadi Ikon Konservasi Indonesia karena populasinya di alam pernah mengalami
penurunan drastis akibat hilangnya habitat dan perburuan liar.
Melalui
kolaborasi antara Yayasan Pecinta Alam dan Kemanusiaan bersama BKSDA Bali,
diharapkan upaya konservasi Curik Bali dapat terus berkelanjutan serta menjadi
inspirasi bagi berbagai pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati
Indonesia. (*)
