Gubernur Koster menghadiri Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 yang digelar di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026). (Foto: Humas-Prov. Bali)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh sampai menghilangkan nilai, identitas, tradisi, karakter masyarakat, maupun keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Perkembangan AI semestinya berjalan beriringan dan ditempatkan sebagai instrumen penguat kecerdasan manusia serta keharmonisan budaya lokal.
Hal tersebut ditegaskan oleh Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka sekaligus menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 yang digelar di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).
“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Gubernur Koster di hadapan para peserta seminar.
Menurut Koster, prinsip ini menjadi landasan krusial dalam pengembangan lingkungan binaan di Bali, terutama di tengah pesatnya dinamika teknologi, ancaman perubahan iklim, potensi bencana, dan berbagai tantangan pembangunan masa depan. Oleh karena itu, arah pembangunan Bali wajib berpatokan pada karakter dan jati diri daerah sebagaimana yang tertera dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125) untuk menjaga Alam, Manusia, dan Kebudayaan Bali secara berkelanjutan.
Landasan etis dan ekologis seperti nilai-nilai Sad Kerthi juga harus melandasi pembangunan fisik agar tetap seimbang dengan pelestarian alam serta kebudayaan. Koster mendorong lembaga perguruan tinggi dan para peneliti untuk tidak ragu mengeksplorasi pengetahuan lokal, termasuk Arsitektur Tradisional Bali dan sistem Subak, melalui riset dan inovasi berbasis teknologi.
“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Gubernur Koster berpesan agar hasil riset mengenai lingkungan binaan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah di atas kertas semata. Penelitian harus mampu diwujudkan menjadi solusi konkret seperti prototipe, desain standar, kebijakan, hingga model pembangunan hijau rendah karbon yang tangguh bencana dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Guna mewujudkan visi tersebut, kolaborasi erat diperlukan antara pemerintah, kalangan akademisi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, dan generasi muda. Sinergi ini diharapkan dapat memosisikan Bali sebagai laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang memadukan kemajuan teknologi AI dengan kearifan lokal.
“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, memaparkan bahwa forum ilmiah ini bertujuan mempertemukan berbagai gagasan, perspektif, dan praktik untuk menjawab tantangan lingkungan binaan masa depan secara kontekstual.
Acara yang mengusung tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” ini berlangsung selama tiga hari, pada 3–5 September 2026. Agenda kegiatan meliputi seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, hingga field trip arsitektur.
Melalui gelaran ini, Prof. Ni Ketut Agusintadewi berharap kapasitas dan jejaring akademik semakin kuat sehingga mampu melahirkan riset serta praktik lingkungan binaan yang inovatif tanpa mencabut akar karakter lokal.
Turut hadir dalam pembukaan acara tersebut Ketua IPLBI Periode 2024–2027 Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, beserta jajaran peneliti, akademisi, arsitek, perencana, dan praktisi dari berbagai daerah. (*)