Para narasumber yang tampil pada seminar yang
diselenggarakan Politeknik Internasional Bali (PIB College), Rabu (9/9/2026)
(Foto: Humas PIB College)
TABANAN,
PERSPECTIVESNEWS - Politeknik
Internasional Bali (PIB College) menyelenggarakan International Seminar &
Partner Engagement bertajuk “Strategi Optimalisasi Sumber Daya di Institusi
Pendidikan Vokasi: Implementasi Education 5.0 untuk Menjembatani Kesenjangan
Kognitif Digital dan Kesenjangan Kompetensi Industri”, di Dr. Frans Auditorium,
PIB College, Bali pada Rabu (9/9/2026).
Seminar mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan
industri untuk membahas bagaimana pendidikan vokasi di Indonesia perlu
bertransformasi menghadapi perkembangan teknologi, Artificial Intelligence
(AI), perubahan kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan kompetensi industri yang
semakin dinamis.
Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani,
S.T., M.T., Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemdiktisaintek sebagai keynote
speaker; Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng.,
Kepala LLDIKTI Wilayah VIII; Robby Saputra, M.T.I., CPEC, VP Human Capital
Development & Sustainability InJourney; serta Dr. Paulus Herry Arianto,
M.A., CBC, Wakil Direktur PIB College.
Seminar dimoderatori Prof. Benny E. Tjahjono, B.Eng., M.Sc.,
Ph.D., Professor of Sustainability and Supply Chain Management, Coventry
University, UK, dengan Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc., Direktur
Partnership & Event PIB College, sebagai host.
Direktur PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati,
B.A.E., M.S., M.M., M.Mis., M.H., D.Th., Ph.D., D.Ag., membuka kegiatan melalui
welcome remarks yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku
kepentingan dalam membangun pendidikan vokasi yang semakin relevan dengan
perkembangan industri.
Anastasia Sulistyawati, juga mengatakan Education 5.0 menjawab
dua kesenjangan pendidikan vokasi. Salah satu pembahasan utama seminar, lanjut
dia, adalah dua tantangan yang masih dihadapi pendidikan vokasi, yaitu Digital
Cognitive Gap dan Industry Competency Gap.
“Kesenjangan tersebut mencakup kesiapan dalam mengadopsi
teknologi pembelajaran serta kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan
aktual industri,” ucapnya.
Sedangkan Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, mengatakan
bahwa implementasi Education 5.0 dalam pendidikan vokasi membutuhkan
optimalisasi sumber daya manusia, kurikulum yang adaptif terhadap industri,
kolaborasi lintas sektor, hingga evaluasi pendidikan yang tidak berhenti pada
proses, tetapi berorientasi pada dampak.
“Kurikulum juga perlu diarahkan pada prinsip siap kerja dan
siap usaha, dengan mengacu pada standar kompetensi nasional maupun global,”
ujarnya.
Ditambahkan, transformasi tersebut turut menuntut
peningkatan kompetensi dosen dalam pedagogi daring dan hybrid, teknologi
pendidikan, Learning Management System (LMS), simulasi, serta metode
pembelajaran interaktif.
Sementara Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani dalam makalah
“Perguruan Tinggi Vokasi Perlu Bergerak dari Reputasi Menuju Dampak”, menyoroti
perlunya perubahan orientasi institusi pendidikan vokasi.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar publikasi dan
reputasi akademik, tetapi perlu bergerak menuju relevansi, employability,
inovasi, impact, dan sustainability,” katanya.
Ia melanjutkan bahwa transformasi tersebut mencakup
penguatan talenta akademik, pembelajaran berbasis future skills, riset dan
inovasi berdampak, hilirisasi, serta kemitraan internasional yang strategis.
Begitu juga pemanfaatan AI dan transformasi digital, menurut
dia menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang data-driven, mulai
dari proses pembelajaran dan riset hingga digital academic services, smart
campus, tata kelola data, dan keamanan siber.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan perguruan tinggi vokasi
tidak hanya terletak pada indikator akademik, tetapi juga pada kontribusi nyata
yang dihasilkan bagi lulusan, masyarakat, industri, ekonomi, kebijakan, dan
pembangunan nasional.
Senada dengan itu, pembicara lainnya, Robby Saputra dari
InJourney menekankan bahwa membangun futureready tourism talent membutuhkan
proses pengembangan yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Talent crisis, especially in tech-touch, the growing
pressure on sustainability and the urgency untuk bisa memberikan value
proposition yang berdampak menjadi fokus integrasi kunci untuk membangun
ekosistem serta pertumbuhan bisnis berkesinambungan,” katanya.
Kata dia, pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui program
profesional, leadership development, mentoring, sertifikasi, pengalaman global,
serta experiential learning. Pada saat yang sama, human capital development
perlu berjalan bersama prinsip sustainability dan employee wellbeing untuk
mendukung pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.
Prof. Benny E. Tjahjono dari Coventry University, UK, dalam
makalahnya mengangkat kembali esensi pendidikan vokasi sebagai pendidikan yang
berorientasi pada profesi dan keterampilan.
Menurutnya, pendidikan vokasi idealnya membekali mahasiswa
bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga kompetensi spesifik melalui
project-based learning, magang industri, apprenticeship, dan entrepreneurship.
Model tersebut perlu menjaga keseimbangan antara
keterampilan praktik dan kemampuan kognitif, termasuk memahami konsep,
mengikuti prosedur, melakukan troubleshooting, hingga mengambil keputusan.
“Universitas akademik dan vokasi mempunyai kekuatan yang
sama. Namun demikian, vokasi mempunyai ruang yang jauh lebih besar untuk
diserap industri,” tegasnya.
Ke depan, lanjutnya, daya saing pendidikan vokasi juga
ditentukan oleh keterlibatan industri, fasilitas pembelajaran yang menyerupai
lingkungan kerja sebenarnya, sertifikasi kompetensi, penelitian dan inovasi,
sustainability, teknologi digital, serta pemanfaatan AI.
Wakil Direktur PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, M.A.,
CBC, dalam makalah “PIB College Menjawab Dengan Model Impactul
Industry-Integrated Learning untuk Hospitality” mengangkat tantangan yang lebih
spesifik pada pendidikan hospitality, terutama kesenjangan antara pembelajaran
di institusi pendidikan dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam operasional
luxury hospitality.
Sebagai salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan
tersebut, kata dia, PIB College mengembangkan Executive Management Program
(EMP) dengan konsep Industry-Integrated Learning. Program ini menghubungkan
pembelajaran akademik dengan pengalaman industri melalui model Learning,
Experiencing, and Managing Hospitality.
“Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai hospitality, tetapi
memperoleh pengalaman melalui proyek supervisi dan management trainee.
Penilaian juga mencakup tanggung jawab nyata, interaksi profesional, kemampuan
memecahkan masalah, serta performa di lingkungan hospitality,” terangnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, menunjukkan bagaimana
kolaborasi pendidikan dan industri dapat membawa lingkungan kerja nyata menjadi
bagian dari proses pendidikan, sehingga mahasiswa dipersiapkan tidak hanya
untuk memasuki industri, tetapi juga berkembang menjadi pemimpin hospitality
masa depan.
Education 5.0, kata dia, bukan semata tentang memasukkan teknologi atau
AI ke dalam ruang kelas. Transformasi pendidikan juga membutuhkan dosen yang
adaptif, kurikulum yang bergerak bersama kebutuhan industri, pengalaman belajar
yang semakin dekat dengan dunia kerja, pemanfaatan teknologi secara relevan,
serta ukuran keberhasilan yang berorientasi pada dampak.
“Melalui forum ini, PIB College memperkuat perannya sebagai
institusi pendidikan vokasi di Bali yang mendorong kolaborasi akademik dan
industri, sekaligus membuka ruang dialog mengenai model pendidikan yang mampu
mempersiapkan lulusan dengan kompetensi, pengalaman, kemampuan adaptasi, dan
kepemimpinan yang relevan dengan masa depan dunia kerja,” pungkasnya. (lan)