Perspectives News

John Ketut Purna, Sosok Dibalik Jatiluwih ‘Sunrise’ Dunia

 

John Ketut Purna (Foto: Dok) 

BALI, PERSPECTIVESNEWS- Pernah berkunjung ke Jatiluwih?, desa tujuan wisata (DTW) yang satu ini memiliki magnet dan daya pikat luar biasa, bahkan menjadi ‘sunrise’ dunia.

Tahu Jatiluwih pasti akrab dengan nama John Ketut Purna atau John Purna. Namanya sudah lekat dan sangat familiar di kalangan wisatawan, masyarakat dan pelaku pariwisata di Bali. Bahkan di Jatiluwih, nama John Purna adalah legend.

Sosok inilah yang mampu mengelola Jatiluwih menjadi seperti sekarang ini. Dikunjungi tak kurang dari 1.000 wisatawan setiap harinya, membuat Jatiluwih makin kinclong. Ibaratnya gadis yang tak henti bersolek, ingin selalu tampil cantik dan menarik.

Sebagai Manajer Operasional DTW Jatiluwih, John paham bahwa mengelola Desa Jatiluwih yang makin diminati, bukan tanggung jawab ringan.

Menurutnya, wisatawan betah dan menjadi repeater guest adalah targetnya. “Mengawali saja tidak mudah apalagi mempertahankan bahkan meningkatkan target di tengah keterbatasan, itu yang berat,” kata pria suka berkaca mata hitam ini.

“Menjadikan Jatiluwih sebagai DTW yang diminati, awalnya memang tidak mudah namun bersama dan berkolaborasi secara intens dengan tokoh masyarakat, praktisi, pemerhati pariwisata dan stakeholders, apa yang menjadi impian kami bisa terwujud, bahkan lebih baik,” tutur John kepada perspectivesnews.com via online di Denpasar, Selasa (9/7/2024).  

Jatiluwih sekarang menjadi pusat perhatian dunia. Semua mata, telinga dan hati setiap orang selalu tertuju pada indahnya persawahan terasering dengan padi hijau menguning yang sungguh memanjakan mata yang memandang.

Kesan lestari, indah, adem, sejuk, dan nyaman seolah menjadi ‘terapi’ bagi mereka yang belum pernah berkunjung ke Jatiluwih dan itu menjadi ‘candu’ untuk ingin terus datang lagi.    

Daya tarik Jatiluwih menurut John, makin meluas setelah dipatri sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). 

Tidak itu saja, saat ini Jatiluwih menjadi salah satu kandidat yang masuk nominasi 8 besar desa wisata terbaik (Best Tourism Village) di Indonesia oleh PBB yang bakal diumumkan pada Oktober 2024 mendatang.

“Benar, Jatiluwih menjadi salah satu desa wisata terbaik (BTV) di Indonesia dari 8 kandidat yang masuk nominasi. BTV diajukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dan akan diumumkan pada Oktober 2024 mendatang oleh PBB,” ungkap John sumringah.

“Bangga?, itu pasti, namun masih banyak kekurangan yang harus kami benahi, namun berada diantara para tokoh masyarakat dan stakeholders yang cinta Jatiluwih, saya yakin semua bisa diatasi meski membutuhkan waktu,” ujar owner sejumlah bisnis pariwisata ini.    

Banyak pihak bertanya-tanya, siapa John Purna?, mengapa sosoknya begitu lekat dengan Jatiluwih dan apa yang membuatnya begitu ingin Jatiluwih menjadi DTW yang lestari sepanjang zaman?.

John Ketut Purna (kanan) bersama Buopati Tabanan, Sanjaya (kiri) dan Trisno Nugroho, pemerhati ekonomi dan pariwisata Bali, saat pembukaan Festival Jatiluwih V, Sabtu (6/7/2024).  (Foto: Dok)

John Purna, lahir 59 tahun silam, putra daerah Tabanan, Bali. Pemilik Restu Dewata Bali Tours (tour operator yang menghandel event MICE-Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) ini awalnya seorang petani dan budidaya beras sejak 1985-1990 lalu.

Hubungan emosional yang kuat dan mendalam dengan alam persawahan serta pertanian di Jatiluwih, membuat John tak ingin meninggalkan desanya. “Saya ini petani tulen. Mewarisi profesi bapak dan ibu saya. Jadi saya merasa bahwa disinilah hidup saya,” ungkapnya jujur.

Selain sibuk di Jatiluwih, John Purna juga harus membagi waktunya mengelola perusahaannya seperti Bali Orchid SPA dengan 3 cabang di Kuta, Nusa Dua dan Ubud serta Royal Orchid Resto.

Pada 2023, dibukalah Jatiluwih Resto yang makin melengkapi Jatiluwih sebagai DTW premium di Tabanan, Bali dan dunia. Paling tidak, keinginan John agar Jatiluwih menjadi DTW yang lestari sepanjang zaman, sudah dimulai dengan melengkapi fasilitas pendukungnya.

“Dan sejak itu juga saya dipercaya sebagai manajer untuk mengelola potensi Desa Jatiluwih sampai sekarang,” terang John yang pernah bekerja sebagai waiter di Holland America Line - sebuah operator kapal pesiar yang dimiliki Carnival Corporation & plc pada 1990-1991.

John Purna juga mengaku pernah bekerja di 2 perusahaan travel agen sebagai tour guide dan driver yang membuatnya banyak berkenalan dengan wisatawan dari berbagai belahan dunia, namun pada akhirnya John memutuskan untuk mendirikan travel agent sendiri pada 1999.

“Pengalaman bekerja di banyak perusahaan pariwisata dan bertemu banyak orang, membuat relasi dan hubungan kerja saya makin luas. Itulah yang lantas membuat saya percaya diri untuk akhirnya memutuskan mendirikan bisnis sendiri,” aku John, lelaki dermawan ini.  

Saat ini John Purna aktif di berbagai organisasi dan asosiasi pariwisata seperti Asita Bali, Kadin Badung, PHRI Tabanan, Lion Club Bali dan Bali Golf Club.  (lan)



Post a Comment

Previous Post Next Post