Ketua BEM Universitas Udayana Arma dan Ketua Bem terpilih
Gung Pram usai diskusi di lingkungan kampus Udayana (foto: angga)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS - Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, gerakan
mahasiswa dihadapkan pada tantangan besar dengan derasnya arus informas, meningkatnya
individualisme, serta menurunnya minat berorganisasi membuat peran mahasiswa
kerap dipertanyakan. Namun di Bali, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas
Udayana (Unud) masih dipandang sebagai salah satu poros penting yang menjaga
denyut gerakan mahasiswa tetap hidup dan relevan.
Sebutan sebagai barometer gerakan mahasiswa di Bali tidak
lahir secara tiba-tiba. Universitas Udayana memiliki sejarah panjang sebagai
kampus tertua di Pulau Dewata dengan identitas "Kampus Pewahyu
Rakyat". Identitas ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi dijadikan
landasan moral dalam memposisikan mahasiswa sebagai kelompok terdidik yang
memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.
Ketua BEM Universitas Udayana, I Wayan Arma Surya Darmaputra
saat diskusi pada Senin (29/12/2025), memandang barometer gerakan bukan diukur
dari seberapa sering mahasiswa turun ke jalan, melainkan dari konsistensi
organisasi dalam menjalankan nilai dasarnya.
“Organisasi mahasiswa bisa disebut penggerak ketika ia aktif
dan berjalan sesuai dengan konsep serta nilai yang dipegang. Bagi kami,
Tridharma Perguruan Tinggi menjadi fondasi utama yang harus diimplementasikan,
bukan hanya untuk mahasiswa tetapi juga untuk masyarakat,” ujar Arma saat
diwawancarai.
Arma menjelaskan lebih lanjut bahwa implementasi konsep
"Pewahyu Rakyat" menuntut insan akademis Udayana mampu memberikan
titik terang di tengah kegelapan permasalahan sosial. Hal ini diwujudkan
melalui tahapan pendidikan yang baik, penelitian yang sesuai kaidah akademis,
dan pengabdian yang menyentuh langsung akar masalah warga.
Namun, upaya menjaga relevansi ini menghadapi ujian berat
dari fenomena degradasi gotong royong. I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa
yang merupakan mahasiswa hukum Unud angkatan 23, menyoroti bahwa budaya individualisme
kian menguat seiring kemudahan teknologi, yang sering kali menggerus kepekaan
sosial mahasiswa. Untuk melawan arus tersebut, BEM Unud yang berpegang teguh
pada semboyan Taki takining Sewaka Guna Widya, yang bermakna mengabdi dengan
sungguh-sungguh pada kebajikan dan ilmu pengetahuan.
“Kita sebagai sosok terpelajar yang mendapatkan privilese di
kampus Udayana harus memberikan timbal balik kepada masyarakat. Itu esensinya.
Kita harus mengoptimalisasi lima peran mahasiswa sebgai agen perubahan, kontrol
sosial, generasi penerus bangsa, penjaga moral, dan guardian of value (penjaga
nilai),” tegas Gung Pram.
Dalam merespons isu publik, BEM Unud kini juga menerapkan
transformasi metode pergerakan. Tidak hanya mengandalkan aksi massa sebagai
pilihan pertama tapi mengutamakan jalur diplomasi dan kajian akademis yang
matang untuk menawarkan solusi konkret kepada pemangku kebijakan. Arma
menegaskan, aksi turun ke jalan ditempatkan sebagai langkah terakhir jika ruang
dialog tersumbat.
“Indikator kita bergerak adalah bagaimana mampu menjembatani
mahasiswa dan masyarakat agar menemukan solusi. Kalau kita bisa ngomong
baik-baik (diplomasi) dan didengar, itu lebih efektif. Tapi kalau tidak
didengar, baru kita besarkan bola pergerakan ini,” tambah Arma.
Terkait posisi politik, BEM Unud menegaskan independensinya
sebagai mitra kritis (social control), bukan sekadar oposisi biner. Mereka siap
mendukung program pemerintah yang pro-rakyat, namun akan berdiri paling depan
untuk mengkritik jika kebijakan melenceng dari konstitusi. Independensi ini
dijaga ketat untuk menepis stigma bahwa gerakan mahasiswa rentan ditunggangi
kepentingan politik praktis, dengan memastikan setiap gerakan berbasis pada
data valid dan nilai moral, bukan pesanan pihak tertentu. (angga)
