Gubernur Koster secara resmi memulai pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani melalui kegiatan Upacara Adat Ngeruak dan Ground Breaking Pembangunan Jalan Perbaikan Geometrik Batas Kota Singaraja–Mengwitani, di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026). (Foto: Hms Prov. Bali)
BULELENG, PERSPECTIVESNEWS- Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi memulai pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani melalui kegiatan Upacara Adat Ngeruak dan Ground Breaking Pembangunan Jalan Perbaikan Geometrik Batas Kota Singaraja–Mengwitani (Shortcut Titik 9 dan 10) Paket 1 dan Paket 2.
Kegiatan ini
digelar di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu
(7/1/2026).
Pembangunan
ini merupakan bagian strategis dari komitmen Pemerintah Provinsi Bali bersama
Pemerintah Pusat untuk menuntaskan konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan,
sekaligus meningkatkan keselamatan, efisiensi transportasi, dan kelancaran
distribusi logistik.
Dalam
sambutannya, Gubernur Wayan Koster menegaskan percepatan pembangunan jalan
shortcut Singaraja–Mengwitani menjadi prioritas sejak dirinya kembali dilantik
untuk periode kedua pada 20 Februari 2025.
Dalam
hitungan minggu setelah pelantikan, Gubernur Koster langsung menghadap Menteri
Pekerjaan Umum untuk memastikan kelanjutan pembangunan shortcut yang telah
direncanakan dari Titik 1 hingga Titik 12.
“Pembangunan
shortcut ini kebutuhannya sangat mendesak, baik untuk pelayanan transportasi
penumpang maupun logistik. Karena itu saya mohon agar pembangunan Titik 9 dan
10 dapat segera dilanjutkan, dan sekarang sudah berjalan,” ujar Gubernur
Koster.
Ia
mengucapkan, proyek tetap berjalan dan kini memasuki tahap pelaksanaan.
Gubernur
Koster juga menegaskan perannya dalam mengawal proses, mulai dari tender,
penandatanganan kontrak, hingga penentuan waktu ground breaking.
“Bukan untuk
mengintervensi, tapi saya pastikan semua berjalan sesuai tahapan dan tidak
berlarut-larut. Setelah siap semua, saya carikan hari baik, dan ditetapkan 7
Januari 2026,” jelasnya sambil menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali
berkontribusi besar melalui pembebasan lahan agar proyek berjalan tanpa
hambatan.
Ke depan,
Gubernur Koster juga mendorong percepatan pembebasan lahan untuk Titik 11 dan
12 yang memiliki medan paling berat.
Ia
menargetkan proses pembebasan lahan dimulai pada tahun 2026, sehingga
konstruksi dapat dimulai pada akhir 2027 atau awal 2028 dan rampung sebelum
akhir masa jabatannya pada 20 Februari 2030.
“Saya ingin
jalan shortcut ini tuntas minimal sampai Titik 12 sebelum masa jabatan saya
berakhir,” katanya.
Jaga
Keberlanjutan Bali sebagai Destinasi Wisata Kelas Dunia
Penuntasan
infrastruktur ini dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan Bali sebagai
destinasi pariwisata dan pusat usaha kelas dunia.
Menurut
Koster, sektor pariwisata saat ini memberikan kontribusi sangat besar terhadap
perekonomian Bali, yakni mencapai 66 persen. Kontribusi tersebut menjadi tulang
punggung pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat
Bali.
“Pariwisata
Bali memberi manfaat luar biasa. Tahun 2025 hingga 31 Desember, jumlah
wisatawan mencapai 7,05 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah. Sebelum
pandemi Covid-19 hanya sekitar 6,2 juta. Jadi kalau ada yang bilang Bali sepi,
itu keliru. Bali justru mengalami lonjakan yang sangat signifikan,” tegasnya.
Gubernur
Koster juga menyampaikan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan berdampak
langsung pada naiknya pendapatan daerah.
Pendapatan
sektor hotel dan restoran di seluruh kabupaten/kota di Bali tercatat meningkat,
dengan tingkat hunian hotel berada di kisaran 75–85 persen.
Namun
demikian, ia mengakui bahwa tingginya aktivitas pariwisata juga memunculkan
dampak negatif, terutama kemacetan dan persoalan sampah. Dua persoalan
tersebut, menurutnya, tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan infrastruktur dan
sistem transportasi yang memadai.
“Masalah
macet ini tidak bisa diselesaikan dengan ceramah. Ini soal infrastruktur jalan
dan moda transportasi. Karena itu, lima tahun ke depan kita fokus pada
pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Bali Utara, Selatan, Timur, Barat,
hingga Bali Tengah,” ujarnya.
Ia
menjelaskan, pembangunan konektivitas antar wilayah tersebut menjadi prioritas
utama untuk mengurai kemacetan dan mendukung pemerataan pembangunan.
Pemerintah
pusat, melalui Kementerian Pekerjaan Umum, telah menyatakan komitmen penuh
untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Bali.
Gubernur
Koster juga mengungkapkan dari total
13,9 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, sekitar 6,3 juta
atau 45 persen di antaranya datang ke Bali.
Kontribusi
devisa wisatawan mancanegara ke Bali diperkirakan mencapai Rp170 triliun, atau
sekitar 53 persen dari total devisa pariwisata nasional.
“Masalahnya,
daerah tidak punya anggaran cukup besar untuk menyelesaikan persoalan kemacetan
ini sendirian. Kalau tidak segera ditangani, Bali bisa merosot daya saingnya
karena isu kemacetan terus-menerus,” katanya.
Di sisi
lain, Gubernur Koster menegaskan bahwa dirinya tetap fokus bekerja meskipun
menghadapi kritik dan perdebatan di media sosial. Ia menganggap dinamika
tersebut sebagai bagian dari risiko kepemimpinan.
“Tugas kita
bekerja, bukan ribut di media sosial. Bully-bullyan itu bagian dari ujian
ketahanan mental. Saya nikmati saja. Kalau dengan membully orang lain hidupnya
jadi bahagia, silakan,” ucapnya.
Kualitas
Kerja Nomor Satu dan Harus Tepat Waktu
Dalam
kesempatan itu, ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan
proyek infrastruktur, termasuk kontraktor pelaksana, agar bekerja secara
profesional, menjaga kualitas, dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
“Kualitas
harus nomor satu dan waktunya harus tepat. Jangan kualitas bagus tapi molor.
Saya pantau langsung, dan kalau tidak sesuai, saya yang akan menegur,”
tegasnya.
Gubernur
Koster berharap pembangunan infrastruktur yang dimulai saat ini dapat berjalan
lancar, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bali, sekaligus
memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan dunia.
Sementara
itu, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif
Hidayat, menyampaikan Kementerian Pekerjaan Umum berkomitmen penuh mendukung
pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani.
Untuk
penanganan Titik 9 dan 10, total panjang pekerjaan mencapai 3,90 kilometer,
terdiri dari jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.
Untuk Paket
1, proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 290,84 miliar dengan masa
pelaksanaan 750 hari kalender.
Pekerjaan
meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer dan tiga jembatan dengan
total panjang 593 meter, yang dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan
pendanaan dari SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.
Sedangkan
selanjutnya untuk pembangunan shortcut Singaraja - Mengwitani titik 9-10 paket
2 dengan nilai kontrak sebesar Rp. 187 miliar dan nilai kontrak paket 3 yaitu
sebesar Rp. 189,716 miliar.
Asep
menjelaskan, kondisi eksisting ruas jalan Singaraja–Mengwitani memiliki tingkat
risiko tinggi, dengan kelandaian mencapai 27 persen dan tercatat sekitar 140
kecelakaan per tahun dengan 16 korban meninggal dunia.
Melalui
perbaikan geometrik jalan ini, waktu tempuh dipangkas dari 21,22 menit menjadi
8,61 menit, jumlah tikungan berkurang drastis, serta tingkat kelandaian
diturunkan hingga maksimal 10 persen.
“Manfaatnya
sangat signifikan, mulai dari peningkatan keselamatan, efisiensi perjalanan,
hingga pengurangan emisi karbon kendaraan sekitar 10 persen,” ungkapnya.
Hingga saat
ini, Pemerintah Provinsi Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193
miliar untuk mendukung pembangunan sejumlah titik shortcut.
Namun
demikian, untuk menuntaskan seluruh ruas Singaraja–Mengwitani masih diperlukan
pembangunan lanjutan pada Titik 1–2, Paket 3 Titik 9–10, serta Titik 11–12
dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp512 miliar.
Dengan
kolaborasi erat antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Bali,
pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani diharapkan menjadi solusi
permanen konektivitas Bali Utara–Selatan, sekaligus mendorong pemerataan
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata. (hum/lan)
