Perspectives News

Wamen Pasaribu Apresiasi Bali Mampu Realisasi Investasi Rp 42,8 T

 


Wamen Investasi dan Hilirisasi RI, Todotua Pasaribu bersama Gubernur Koster usai menandatangani nota kesepakatan Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Kamis (22/1/2026), di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar. (Foto: Hum Prov. Bali)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI, Todotua Pasaribu menyampaikan apresiasi terhadap Bali, karena pada periode Januari-Desember 2025, Bali mencatat realisasi investasi sebesar Rp 42,8 triliun, dan angka ini mencerminkan besarnya kepercayaan investor terhadap Bali.

Di balik besarnya kepercayaan investor, Wamen Investasi dan Hilirisasi mengungkapkan di Bali ada permasalahan Penanaman Modal Asing (PMA) yang disebabkan oleh penyalahgunaan klasifikasi usaha (KBLI) dimana KBLI 68111 (Real Estate) untuk membangun vila di lahan sewa.

Pertama, fakta di lapangan, vila dijadikan akomodasi wisata jangka pendek atau tempat tinggal pribadi.

Kedua, invasi ke sektor UMKM, dimana Warga Negara Asing (WNA) masuk ke sektor rental motor, salon, fotografi, hingga perdagangan eceran.

 ”Harusnya hal ini tidak terjadi, dan UMKM mestinya dimanfaatkan oleh warga lokal,” tegas Wamen Pasaribu.

Ketiga, kata dia, pelanggaran legalitas dan administrasi, dimana dalam kasusnya banyak PMA yang tidak memenuhi modal minimum Rp 10 miliar dan beroperasi tanpa persetujuan lingkungan sampai sertifikat berstandar terverifikasi; dan

Keempat, manipulasi status perusahaan, dalam aksinya mereka menggunakan nama WNI sebagai pemegang saham untuk PMA (Praktik Nominee Sistemik, red) dan untuk mengakali daftar negatif investasi, menggunakan alamat virtual office hanya untuk syarat administrasi dan KITAS, tanpa aktivitas usaha riil, kemudian dalam pembangunan vila dan beach club mereka merambah kawasan suci, sempadan pantai serta lahan sawah yang dilindungi.

Atas masalah tersebut, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI, Todotua Pasaribu merekomendasikan empat usulan, yaitu pertama, melakukan moratorium KBLI yang terindikasi melakukan pelanggaran; kedua, PMA di Bali tidak boleh berlokasi kantor dan lokasi usahanya menggunakan virtual office; ketiga, memiliki modal Rp 10 miliar khusus untuk PMA di Bali, yang dibuktikan dengan mengunggah bukti modal disetor; keempat, pada saat siap komersil, melampirkan dokumen bahwa PBBR dan batas minimum investasi telah dipenuhi.  (hum/*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama