Para tamu di Bambu Indah, saat menikmati suasana alam yang tenang dan menyejukkan. Bambu Indah sendiri menjadi tuan rumah gelaran The Last Echoes, pertemuan internasional yang menghadirkan sekitar 200 tamu dari berbagai negara di malam Nyepi. (Foto: Ist)
UBUD, PERSPECTIVESNEWS- Terletak di lembah sungai
yang rimbun, Bambu Indah menjadi tuan rumah gelaran The Last Echoes, sebuah
pertemuan internasional yang menghadirkan sekitar 200 tamu dari berbagai negara,
sekaligus menikmati suasana Nyepi di Bali.
Menurut Citra Suriah, Corporate Director of Marketing Bambu
Indah, Green Village Bali & The Kul Kul Farm, acara ini dirancang sebagai
momen reflektif, menghormati transisi dari aktivitas dan ekspresi menuju
keheningan sakral di malam Nyepi.
“Nyepi yang menandai Tahun Baru Saka, adalah satu tradisi
spiritual paling penting di Bali. Selama 24 jam, seluruh aktifitas pulau
berhenti sepenuhnya, tanpa perjalanan, tanpa cahaya, tanpa hiburan demi menciptakan
ruang kolektif untuk introspeksi dan pembaruan diri,” tutur Citra, Jumat
(6/3/2026).
Dikatakan, The Last Echoes berlangsung pada malam sebelum Nyepi
berlangsung dan memberikan kesempatan bagi tamu untuk sepenuhnya menghayati
malam terakhir sebelum Bali memasuki kesunyian.
Acara berlangsung di Bambu Indah, resor yang dikenal karena suasananya
yang tenang, desainnya menyatu dengan alam, dan pendekatan keberlanjutan yang
matang.
Didirikan oleh John dan Cynthia Hardy, properti ini
memadukan rumah antik Jawa dengan arsitektur bambu inovatif serta kolam alami
yang menyatu dengan lanskap lembah sungai.
“Tamu mulai berdatangan sejak sore, menikmati suasana alami
dan fasilitas resor. Dari sauna, ice bath, copper hot tub, hingga kolam mata
air alami. Setiap elemen disiapkan untuk menciptakan pengalaman yang tenang dan
intim. Sajian kuliner ringan dan minuman tersedia di seluruh area,” lanjut
Citra.
Malam berlanjut dengan rangkaian pertunjukan musik.
Pembukaan dibawakan oleh Agustian, multi-instrumentalis dari Sumatra, yang
menenun suara meditatif menggunakan instrumen tradisional dan chant.
Selanjutnya, kolaborasi Sophie Sofree dan Raio menghadirkan
kombinasi elektronik dan live instrumentation yang lembut, membentuk ritme
kolektif bagi tamu untuk hadir sepenuhnya. Penutup malam diisi oleh Onanya,
yang memadukan pengaruh Afrika dan Timur Tengah, membimbing para tamu melalui
perjalanan musikal yang intim dan mendalam.
Sebagai klimaks, para tamu dipandu menuju area Island di
Bambu Indah untuk mengikuti upacara api terakhir yang dipimpin oleh Anna Maria,
menandai transisi menuju Nyepi.
Suasana malam yang damai, musik, dan refleksi menciptakan
pengalaman bermakna yang menghubungkan para tamu dari seluruh dunia dalam
komunitas yang tenang dan intim.
Saat malam berakhir, para tamu meninggalkan Bambu Indah bersiap
memasuki keheningan sakral Nyepi yang menyelimuti seluruh pulau.
Selama bertahun-tahun, Bambu Indah telah diakui secara
internasional oleh BBC Travel, Condé Nast Traveler, Travel + Leisure, Tatler,
Vogue, National Geographic, dan Architectural Digest karena pendekatannya yang
harmonis terhadap desain, budaya, dan keberlanjutan.
Tentang Bambu Indah
Bambu Indah Resort – Laboratorium Hidup & Hotel
Artisanal Hardy di Bali, berlokasi di Lembah Sayan, Ubud dan didirikan pada 2005
oleh John Hardy, desainer perhiasan ternama, dan istrinya Cynthia Hardy.
Resor ini bermula dari 11 rumah pengantin antik Jawa yang
dikumpulkan selama perjalanan mereka. Terletak di tebing hutan dengan
pemandangan sawah, rumah-rumah ini awalnya digunakan sebagai ruang berkumpul
bagi relasi sebelum dibuka untuk para wisatawan dari seluruh dunia. (*)
