Perspectives News

Wali Kota Denpasar: 'Kemacetan Bukan Sekadar Persoalan Teknis Lalu Lintas'

 


Para narasumber diskusi publik bertajuk "Kemacetan Kota Denpasar: Tantangan Urban dan Solusi Kolaboratif" yang dihelat SMSI Kota Denpasar menerima sertifikat dari Ketua SMSI Kota Denpasar, Igo Kleden. (Foto: Humas SMSI Kota Denpasar)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengingatkan bahwa kemacetan lalu lintas bukan hanya persoalan teknis lalu lintas, sehingga penanganannya harus terintegrasi.

Wali Kota mengingatkan hal itu dalam keynote speech dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Adhi Merta saat diskusi publik bertajuk “Kemacetan Kota Denpasar: Tantangan Urban dan Solusi Kolaboratif” yang dihelat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Denpasar, di Gedung Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Kamis (26/2/2026).

“Persoalan kemacetan tidak hanya berdampak pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga berimplikasi pada efisiensi waktu, peningkatan biaya transportasi, aspek keselamatan pengguna jalan, serta tekanan terhadap kualitas lingkungan perkotaan,” ucapnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, penanganan kemacetan harus dilakukan secara menyeluruh, terstruktur, dan berkelanjutan, dengan menyelaraskan kebijakan transportasi dan penataan ruang kota.

Selain itu, pendekatan yang ditempuh harus seimbang, menjamin aksesibilitas dan keselamatan masyarakat, menjaga kelancaran aktivitas ekonomi, serta mendorong sistem transportasi lebih ramah lingkungan.

Diskusi publik sehari menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Kadis Perhubungan Kota Denpasar, Ketut Sriawan, Kasat Lantas Polresta Denpasar, Kompol Yusuf Dwi Admodjo, Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Ir. Putu Alit Suthanaya, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., dan Guru Besar Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Ar. Putu Rumawan Salain, M.Si., IAI.

Kadishub Ketut Sriawan, mengungkapkan dominasi kendaraan pribadi menjadi faktor utama kepadatan jalan. Di sisi lain, layanan angkutan umum dinilai belum sepenuhnya terintegrasi.

“Permasalahan kemacetan terjadi karena tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan kualitas layanan angkutan umum perkotaan yang belum terintegrasi,” jelasnya.

Ia menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Bali, dan pemerintah kabupaten/kota di kawasan Sarbagita. Namun, keterbatasan kewenangan daerah juga menjadi tantangan tersendiri.

“Keterbatasan kewenangan kabupaten/kota menjadi tantangan dalam implementasi program transportasi berkelanjutan. Dukungan legislatif sangat dibutuhkan untuk mewujudkan penataan transportasi perkotaan,” tegasnya.

Selain itu, peran masyarakat dalam mengurangi penggunaan badan jalan untuk berbagai aktivitas non-lalu lintas juga dinilai krusial.

Sementara Guru Besar Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Ar. Putu Rumawan Salain, M.Si., IAI., menawarkan perspektif lebih komprehensif. Menurutnya, solusi kemacetan tidak selalu dengan menambah jalan baru, tetapi harus melihat keterkaitan struktur dan pola ruang Bali dengan Denpasar sebagai pusat aktivitas.

“Rumus transportasi secara konseptual adalah adanya kendaraan bermotor ditambah dengan infrastruktur jalan, peraturan, pengelola, dan pemakainya. Secara universal transportasi di dunia sama saja, yang membedakan adalah pemakainya, yakni ‘budaya’,” paparnya.

Ia mengusulkan penambahan serta integrasi kamera pemantau lalu lintas yang terhubung antarinstansi seperti Dishub, Kominfo, kepolisian, dan Radio Kota Denpasar. Dengan sistem terintegrasi, pengaturan arus dapat dilakukan secara dinamis berdasarkan data lapangan.

Sedangkan Kasat Lantas Polresta Denpasar, Kompol Yusuf Dwi Admodjo, menekankan pentingnya peran Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang.

“Forum lalu lintas memiliki peran penting untuk menggarap masalah kemacetan. Harus ada regulasi dari pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini, dan masyarakat harus mendukung dengan menaati peraturan yang ada,” ujarnya.

 Sementara itu, Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Ir. Putu Alit Suthanaya, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa keterbatasan lahan dan tingginya harga properti di Denpasar mendorong suburbanisasi ke wilayah sekitar seperti Tabanan, Badung Tengah dan Utara, Gianyar, hingga Klungkung.

Kondisi tersebut akan meningkatkan pola komuter harian menuju Denpasar dan memperberat beban lalu lintas.

“Beban lalu lintas di Kota Denpasar bersifat lintas kabupaten/kota, khususnya Sarbagita. Kota Denpasar tidak dapat berdiri sendiri untuk mengatasi masalah transportasi,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong pengembangan sistem transportasi kawasan yang terintegrasi guna mengantisipasi lonjakan mobilitas di masa depan.

Diskusi publik SMSI Denpasar ini menegaskan bahwa solusi kemacetan harus berbasis kolaborasi, integrasi kebijakan, penguatan regulasi, pemanfaatan teknologi, serta perubahan perilaku masyarakat demi mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan.

Acara ini terselenggara berkat partisipasi dari Dinas Perhubungan Denpasar,  Garuda TV Bali, Living World, Kura Kura Bali, Bapeda Denpasar,  PD Pasar, PDAM Kota Denpasar , BPJS Kesehatan, Swiss Bell Pecatu,  Hotel Cakra, Hatten Wine, STB Runata,  Quest San Hotel Denpasar, Discovery Kartika Plasa. (*/sukma)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama