dr. Petrasama, SpOT, Subs.CO (K), saat menyampaikan bawa Kurang
disiplin dalam proses pemulihan (recovery) fisik setelah pertandingan, menjadi
faktor utama penyebab atlet rentan terkena cedera. (Foto: ant)
JAKARTA,
PERSPECTIVESNEWS - Kurang disiplin dalam proses pemulihan (recovery) fisik
setelah pertandingan, menjadi faktor utama penyebab atlet rentan terkena
cedera.
Menurut Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sport Injury
Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, dr. Petrasama, SpOT, Subs.CO (K), seorang atlet
profesional tidak boleh lalai dalam menaati protokol recovery fisik, guna
menjaga ketahanan tubuh dan meminimalkan risiko terjadinya cedera serius.
"Recovery yang terkadang terlewatkan adalah kurangnya
istirahat setelah melalui pertandingan yang sengit," kata Petrasama dalam
kegiatan Grand Opening Sport Clinic dengan tema "Integrated Sports
Medicine: From Injury To Recovery", yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit
(RS) Atma Jaya, di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Dia menjelaskan, atlet profesional memiliki aktivitas fisik
yang intens dan tuntutan untuk tampil dengan performa terbaik di setiap
pertandingan. Oleh sebab itu, protokol recovery tentu lebih ketat dari
masyarakat umum yang gemar berolahraga.
Selain ketaatan terhadap protokol kesehatan, lanjut dia,
disiplin dalam menjaga asupan gizi atau nutrisi juga menjadi faktor penting
lainnya.
"Saat ini, cedera yang paling banyak ditemui baik
masyarakat umum maupun atlet ada di bagian lutut, bahu, dan punggung,"
ujar dokter spesialis ortopedi itu.
Petrasama menambahkan, masyarakat awam yang gemar
berolahraga juga diimbau untuk menaati protokol recovery yang benar, serta
melakukan teknik dengan benar.
Selain itu, peregangan dalam proses pemanasan (warming up)
harus dilakukan dengan tepat dan cukup, sehingga bisa meminimalkan risiko
cedera.
Dia menyarankan, pemanasan bisa dilakukan selama 15 sampai
30 menit sesuai intensitas olahraga yang akan dilakukan.
"Kemudian pastikan olahraga tidak dalam kondisi sudah
lelah baik karena bekerja maupun kelelahan yang lain," tambah dia. (*)
