Ilustrasi perkembangan inflasi Provinsi Bali berdasarkan rilis BPS tanggal 1 April 2026 yang mencatatkan secara bulanan Provinsi Bali pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Perkembangan inflasi Provinsi Bali berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 April 2026 mencatatkan secara bulanan Provinsi Bali pada Maret 2026 mengalami inflasi sebesar 0,50% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan Februari sebesar 0,70% (mtm).
Beberapa
catatan peristiwa seperti perayaan HBKN Nyepi dan Idulfitri, kenaikan harga cabai,
serta kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi mendorong dinamika
pergerakan inflasi secara bulanan.
Sementara
itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan menurun dari 3,89% (yoy) pada
Februari 2026 menjadi 2,81% (yoy).
“Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami
inflasi bulanan pada Maret 2026,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja dalam siaran persnya, Kamis (2/4/2026) di
Denpasar.
Disebutkan,
Singaraja mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,90% (mtm) atau inflasi
tahunan sebesar 3,40 % (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan
sebesar 0,63% (yoy) atau inflasi tahunan sebesar 2,67% (yoy).
Selanjutnya
Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi
tahunan sebesar 2,09% (yoy) dan Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar
0,42% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,02% (yoy).
Berdasarkan
komoditas, secara bulanan inflasi pada Maret 2026 bersumber dari kenaikan harga
cabai rawit, bensin, tarif air minum PAM, canang sari, dan cabai merah.
Sementara
itu, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga tarif angkutan
udara, emas, bawang putih, beras dan kangkung.
Bank
Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi berbagai langkah strategis TPID se-Bali,
salah satunya melalui penguatan koordinasi bersama dalam High Level Meeting
(HLM) menjelang HBKN Idulfitri dan Nyepi sehingga capaian inflasi Provinsi Bali
dapat terjaga pada rentang sasaran.
Ke depan,
beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain ketidakpastian cuaca pada
peralihan musim hujan ke kemarau yang disertai potensi El Nino, potensi kenaikan
harga minyak dan komoditas dunia di tengah ketidakpastian global, serta
peningkatan permintaan HBKN Galungan-Kuningan.
Untuk
memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus
bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
se-Bali, yang difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas
pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat aspek regulasi.
Strategi
tersebut diimplementasikan utamanya melalui intensifikasi operasi pasar dengan
kaidah 3T (tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran), penguatan kerja sama
antardaerah baik intra-Bali maupun luar Bali.
Juga
perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang inklusif dengan melibatkan
BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi, yang diperkuat melalui regulasi
pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah.
Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026
diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (lan/bi)
