Bambu Indah bekerja sama dengan Owl Tower Bali Foundation melakukan pelepasan simbolis delapan Tyto Alba (burung hantu) untuk mengendalikan hama tikus secara ekologis, di Pura Dalem Wantilan, Desa Bongkasa, Senin (6/4/2026). (Foto: Ist)
BALI, PERSPECTIVESNEWS- Bambu Indah, salah satu resor
bintang lima eco-luxury paling terkenal di Ubud, yang diakui oleh TIME Magazine
sebagai salah satu World’s Greatest Places dan dinobatkan oleh Tripadvisor
sebagai One of a Kind Hotel (No. 3 secara global), melakukan pelepasan simbolis
delapan Tyto Alba (burung hantu) di Pura Dalem Wantilan, Desa Bongkasa, Senin
(6/4/2026).
Inisiatif ini dipimpin oleh Bambu Indah bekerja sama dengan
Owl Tower Bali Foundation, menghadirkan solusi alami dan berkelanjutan untuk
mengendalikan populasi tikus di sawah setempat, mengurangi ketergantungan pada
pestisida kimia sekaligus mendukung keseimbangan ekologi wilayah tersebut.
Perwakilan dan mahasiswa dari Universitas Udayana (Unud)
hadir untuk menyaksikan dan mempelajari proses ini, menekankan nilai pendidikan
dan lingkungan dari program tersebut.
Acara ini dihadiri oleh pemilik Bambu Indah, John Hardy dan
Cynthia Hardy, beserta putra mereka Orin Hardy, serta Direktur Bambu Indah,
Ratheesh Raj.
Pejabat lokal yang hadir antara lain Camat Abiansemal Ida
Bagus Putu Mas Arimbawa S.Sos, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya,
Bendesa Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, dan Pekaseh Sengempel Bongkasa
I Wayan Suambara, bersama perwakilan Subak dan Kepala Owl Tower Bali,
Astungkara Way.
Burung hantu merupakan predator alami tikus yang sangat
efektif dalam mengendalikan populasi tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya,
melindungi sawah sekaligus menjaga kualitas tanah dan ekosistem sekitarnya.
“Racun tikus sering kali justru merusak lingkungan, bukan
hanya menarget hama tetapi juga organisme lain. Dengan menghadirkan kembali
predator alami, kita bekerja bersama alam, bukan melawannya,” ujar John Hardy.
Inisiatif ini awalnya mencakup sekitar 40 hektare sawah yang
dalam beberapa tahun terakhir mengalami kerugian panen akibat serangan tikus.
Menurut Orin Hardy, program ini bukan sekadar solusi teknis,
tetapi upaya luas untuk melestarikan warisan ekologis dan budaya Bali.
“Sawah di Bali lebih dari sekadar pemandangan indah, mereka
adalah ekosistem hidup dan ekspresi budaya yang dijaga melalui sistem Subak
selama generasi. Sebagai bagian dari industri pariwisata, kami memiliki
tanggung jawab untuk melindungi keunikan Bali,” jelasnya.
Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi dengan
komunitas lokal, organisasi lingkungan, dan generasi pemimpin berikutnya.
Mahasiswa dari Unud menyaksikan pelepasan untuk memahami
bagaimana praktik berkelanjutan dapat melindungi panen sekaligus keanekaragaman
hayati. Masyarakat diimbau untuk menjaga burung hantu dan habitatnya,
meminimalkan gangguan, dan menghindari praktik yang dapat mengancam
kelangsungan hidupnya.
Melalui inisiatif seperti pelepasan burung hantu ini, Bambu
Indah menunjukkan bagaimana hotel bintang lima yang diakui secara internasional
dapat mendukung pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan
perlindungan jangka panjang lanskap alam dan budaya Bali. (*)
