Perspectives News

“Tips Aman Bertransaksi Online”, BPD Bali Paparkan Alasan Gratiskan Biaya Admin QRIS

 


Suasana Workshop Literasi Digital “Tips Aman Bertransaksi Online” yang digelar SMSI Badung, Selasa (21/4/2026), di Gedung Kertha Gosana Puspem Badung, yang menampilkan narasumber diantaranya dari BPD Bali. (Foto: ist)

BADUNG, PERSPECTIVESNEWS- Workshop Literasi Digital “Tips Aman Bertransaksi Online” yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Badung, Selasa (21/4/2026), di Gedung Kertha Gosana Puspem Badung, memunculkan pertanyaan kritis yang selama ini belum banyak diketahui.

Salah satu pertanyaan itu disampaikan salah satu peserta yakni Evania Poety, mahasiswi Universitas Dhyana Pura yang mempertanyakan adanya beberapa bank yang membebankan biaya admin bagi pengguna QRIS, sementara Bank BPD Bali menggratiskan biaya MDR (Merchant Discount Rate) atau 0%.

Seperti diketahui, dalam dunia perbankan dan pembayaran digital, MDR adalah biaya layanan yang dikenakan kepada merchant (penjual/pemilik usaha) atas setiap transaksi non-tunai yang menggunakan mesin EDC (kartu debit/kredit) maupun QRIS.

Nyoman Indra Pranata, SE dari BPD Bali selaku narasumber menjelaskan, keuntungannya bukan dari potongan transaksi. Keuntungan didapat dari fee based income ekosistem.

“Ketika saldo mengendap di rekening merchant, ada dana pihak ketiga. Ketika volume transaksi naik, ada potensi cross selling produk lain seperti KUR, tabungan, atau asuransi. Intinya, kalau UMKM maju, bank ikut tumbuh,” jelasnya.

Untuk itu, Indra Pranata menyebut BPD Bali aktif mendorong digitalisasi lewat QRIS dengan memberikan persyaratan yang sangat mudah.

“Cukup dengan KTP dan buku tabungan BPD, pelaku UMKM sudah bisa membuat QRIS Bank BPD Bali,” ujarnya.

Ia memaparkan empat (4) keunggulan QRIS BPD Bali bagi merchant. Pertama, transaksi langsung masuk ke rekening tanpa proses settlement berhari-hari. Kedua, pantau real time. Merchant bisa cek transaksi, mutasi rekening, dan saldo langsung dari HP. Ketiga, multi terminal yaitu satu rekening bisa dipakai di lebih dari 1 kasir untuk usaha yang punya banyak cabang atau meja kasir, dan keempat kontrol jarak jauh yaitu pemilik usaha tetap bisa memantau transaksi penjualan meski tidak di lokasi.

Indra juga mengingatkan ancaman nyata, yakni barcode QRIS bisa tertukar sehingga menyebabkan dana masuk ke merchant yang salah. Untuk itu, ia pun membagikan langkah antisipasi bagi pembeli dan pedagang dalam menggunakan QRIS, seperti mengecek nama merchant yang muncul di HP saat scan. Jika beda dengan nama toko, mereka bisa langsung menanyakan ke kasir.

Hindari menaruh banyak QRIS di satu tempat untuk mencegah salah scan. Gunakan QRIS dinamis jika memungkinkan, agar nominal otomatis muncul sesuai pembelian. Jika terlanjur bayar ke merchant salah, simpan bukti transaksi, catat nominal, waktu, dan nama merchant yang muncul. Data ini dipakai untuk lapor ke bank. Pengembalian dana, tergantung kerja sama merchant penerima dengan proses investigasi bank.

Workshop yang digelar SMSI Badung ini menghadirkan 200 peserta dari Gen Z, milenial, wartawan, dan pelaku UMKM Sidi Kumbara.

Dua narasumber lain yang hadir adalah Anak Agung Ngurah Surya dari OJK Provinsi Bali dan Zetra Les Saputra dari Bank Indonesia Provinsi Bali. (lan)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama