Oleh: I Gusti Ngurah Angga Widhya Dharma
DUNIA kesehatan global kembali menyoroti hantavirus setelah
munculnya klaster kasus pada sebuah kapal pesiar di Eropa pada awal Mei 2026.
Tujuh penumpang dilaporkan mengalami demam tinggi, gangguan respirasi berat,
hingga perburukan klinis cepat yang berujung pada kematian tiga orang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian mengonfirmasi adanya infeksi
hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium pada sebagian kasus tersebut.
Di saat yang hampir bersamaan, Indonesia mengumumkan telah
mendeteksi 23 kasus hantavirus sejak tahun 2024, termasuk di Jakarta dan
Yogyakarta. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa hantavirus bukan lagi sekadar
ancaman teoritis dalam literatur penyakit infeksi, melainkan zoonosis nyata
yang mulai memasuki radar kewaspadaan nasional.
Hantavirus merupakan kelompok virus RNA beruntai tunggal
negatif dari famili Hantaviridae dan genus Orthohantavirus. Virus ini
ditularkan terutama melalui paparan ekskreta hewan pengerat yang terinfeksi,
khususnya tikus. Berbeda dengan dengue atau malaria yang membutuhkan vektor
seperti nyamuk, hantavirus dapat menginfeksi manusia secara langsung melalui
inhalasi aerosol yang berasal dari urine, feses, atau air liur tikus yang
mengering dan bercampur dengan debu lingkungan.
Dalam dunia virologi, hantavirus dikenal memiliki genom
tersegmentasi yang terdiri atas segmen S, M, dan L. Segmen tersebut
masing-masing mengkode protein nukleokapsid, glikoprotein membran, dan
RNA-dependent RNA polymerase yang berperan penting dalam proses replikasi
virus. Struktur molekuler ini kini menjadi target utama dalam pengembangan antivirus
dan vaksin hantavirus generasi baru.
Secara epidemiologis, hantavirus dibagi menjadi dua kelompok
besar. Hantavirus “Dunia Lama” yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa umumnya
menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), sedangkan hantavirus
“Dunia Baru” di kawasan Amerika lebih sering menimbulkan Hantavirus Pulmonary
Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), bentuk penyakit
yang jauh lebih fatal dengan keterlibatan paru dan sistem kardiovaskular.
Penyakit ini pertama kali dikenali saat Perang Korea pada
1950-an ketika ribuan tentara mengalami demam berdarah disertai gagal ginjal
akut. Virus penyebabnya baru berhasil diisolasi pada 1978 oleh ilmuwan Korea
Selatan, Ho Wang Lee, dari tikus ladang Apodemus agrarius di sekitar Sungai
Hantan. Nama sungai tersebut kemudian diabadikan menjadi “hantavirus”.
Ancaman hantavirus semakin mendapat perhatian internasional
setelah munculnya wabah HPS di wilayah Four Corners, Amerika Serikat, pada
1993. Saat itu, sejumlah individu muda dan sebelumnya sehat mendadak mengalami
gagal napas akut progresif dengan mortalitas tinggi. Investigasi epidemiologi
kemudian menemukan virus baru bernama Sin Nombre virus yang ditularkan oleh
tikus rusa Peromyscus maniculatus.
Salah satu karakteristik penting hantavirus adalah hubungan
spesifik antara virus dan reservoir alaminya. Berbagai spesies hantavirus
memiliki hewan inang masing-masing dan umumnya tidak menyebabkan penyakit pada
hewan tersebut. Tikus yang terinfeksi dapat mengeluarkan virus melalui urine,
feses, dan saliva selama berbulan-bulan tanpa menunjukkan gejala klinis.
Penularan kepada manusia paling sering terjadi ketika
seseorang menghirup partikel aerosol yang terkontaminasi ekskreta tikus. Risiko
meningkat pada individu yang bekerja di lingkungan dengan paparan hewan
pengerat tinggi, seperti petani, pekerja gudang, personel militer, pekerja konstruksi,
hingga masyarakat yang tinggal di kawasan dengan sanitasi buruk. Aktivitas membersihkan
gudang tertutup atau bangunan lama tanpa perlindungan pernapasan juga menjadi
faktor risiko utama.
Secara klinis, hantavirus memiliki masa inkubasi sekitar
satu hingga delapan minggu. Fase awal penyakit biasanya bersifat non-spesifik
dan menyerupai infeksi virus umum, berupa demam tinggi mendadak, mialgia berat,
sakit kepala, lemah, serta keluhan gastrointestinal seperti mual dan muntah.
Kondisi inilah yang membuat hantavirus sering salah diagnosis sebagai
influenza, leptospirosis, atau demam berdarah dengue.
Pada HPS, pasien kemudian memasuki fase kardiopulmoner akut
yang ditandai peningkatan permeabilitas kapiler paru secara masif. Cairan
plasma bocor ke alveoli sehingga menyebabkan edema paru non-kardiogenik,
hipoksemia berat, dan gagal napas progresif dalam waktu sangat singkat. Banyak
pasien mengalami syok dan membutuhkan ventilasi mekanik hanya dalam 24–48 jam
setelah onset sesak napas.
Sebaliknya, pada HFRS, target organ utama adalah ginjal.
Pasien dapat mengalami hipotensi, trombositopenia, perdarahan, hingga gagal
ginjal akut dengan oliguria berat. Pada fase pemulihan, produksi urine
meningkat drastis sebelum fungsi ginjal perlahan kembali normal.
Patofisiologi hantavirus sebagian besar dipicu oleh respons
imun tubuh yang berlebihan terhadap infeksi virus. Hantavirus menginfeksi sel
endotel pembuluh darah tanpa langsung menghancurkannya. Namun infeksi tersebut
memicu pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6 dalam jumlah
besar, yang menyebabkan kebocoran kapiler sistemik. Akibatnya terjadi
perpindahan cairan plasma ke jaringan paru maupun ginjal yang menjadi dasar
utama manifestasi klinis berat pada penyakit ini.
Diagnosis hantavirus membutuhkan tingkat kecurigaan klinis
yang tinggi, terutama pada pasien dengan riwayat paparan tikus atau lingkungan
berisiko. Pemeriksaan laboratorium sering menunjukkan trombositopenia,
leukositosis, hemokonsentrasi, serta peningkatan kreatinin serum pada kasus
dengan keterlibatan ginjal. Konfirmasi diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan
serologi ELISA untuk mendeteksi antibodi IgM spesifik hantavirus atau melalui
RT-PCR guna mendeteksi RNA virus secara langsung. Pemeriksaan molekuler juga
penting untuk identifikasi genotipe virus dalam kepentingan surveilans
epidemiologi.
Hingga saat ini belum tersedia terapi antivirus spesifik
yang terbukti efektif secara universal untuk seluruh jenis hantavirus. Tata
laksana utama tetap berupa terapi suportif intensif. Pada HPS, pasien sering
membutuhkan ventilasi mekanik dan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO)
akibat gagal napas refrakter. Sementara pada HFRS berat, hemodialisis
diperlukan untuk mengatasi gagal ginjal akut.
Ribavirin intravena dilaporkan memiliki manfaat pada
beberapa kasus HFRS bila diberikan pada fase awal penyakit, khususnya yang
disebabkan oleh Hantaan virus. Namun efektivitasnya terhadap HPS masih belum
menunjukkan hasil signifikan sehingga belum direkomendasikan sebagai terapi
standar.
Tingkat kematian hantavirus tergolong sangat tinggi. Pada
HPS, case fatality rate dapat mencapai 35–40 persen, bahkan lebih tinggi pada
wabah tertentu. Sebagian besar kematian terjadi akibat syok dan gagal napas
akut dalam fase kardiopulmoner. Sebaliknya, HFRS memiliki mortalitas lebih
rendah, meskipun kasus berat tetap dapat menyebabkan komplikasi fatal seperti
disseminated intravascular coagulation (DIC), edema serebri, dan gagal ginjal permanen.
Di Indonesia, ancaman hantavirus dinilai semakin relevan
karena keberadaan Rattus norvegicus atau tikus got yang tersebar luas di kawasan
urban. Penelitian di Kepulauan Seribu menunjukkan adanya tikus yang positif
membawa antigen hantavirus. Studi lain di pasar tradisional Indonesia juga
menemukan ko-infeksi orthohantavirus dan Leptospira pada hewan pengerat.
Peningkatan urbanisasi, buruknya pengelolaan sampah, perubahan
iklim, serta tingginya interaksi manusia dengan reservoir alami menjadi faktor
yang dapat meningkatkan risiko transmisi di masa mendatang. Karena belum
tersedia vaksin global yang efektif, strategi pencegahan menjadi aspek paling krusial.
Masyarakat dianjurkan menggunakan masker respirator dan sarung tangan saat membersihkan
area yang terkontaminasi tikus, menyemprotkan disinfektan sebelum membersihkan
kotoran hewan pengerat, serta menjaga sanitasi lingkungan untuk mengurangi populasi
tikus.
Bagi tenaga kesehatan, hantavirus perlu mulai
dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada pasien dengan sindrom demam akut
disertai trombositopenia, gangguan respirasi progresif, atau gagal ginjal akut
dengan riwayat paparan lingkungan berisiko. Dalam banyak kasus, keterlambatan
diagnosis dapat berujung fatal karena perburukan klinis penyakit ini berlangsung
sangat cepat.
Meningkatnya laporan kasus global dan mulai ditemukannya
kasus di Indonesia menunjukkan bahwa hantavirus bukan lagi ancaman yang jauh.
Kesiapsiagaan sistem kesehatan, penguatan surveilans zoonosis, serta edukasi
masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah hantavirus berkembang menjadi
ancaman kesehatan masyarakat yang lebih besar di masa depan.(dari berbagai sumber)
