Menpar Widiyanti Putri Wardhana saat mengunjungi booth Jakarta, di pembukaan BBTF ke-12 tahun 2026. (Foto: lan)
BALI,
PERSPECTIVESNEWS- BBTF 2026 mempertemukan buyers
internasional, sellers, asosiasi pariwisata, perwakilan destinasi, pemerintah,
pelaku industri, dan media untuk mendorong peluang bisnis pariwisata yang lebih
terukur.
Tahun ini, BBTF menghadirkan 407 buyers dari 44 negara dan 286 sellers yang mewakili Indonesia, Malaysia, China, dan Namibia, termasuk pelaku industri dari 12 provinsi di Indonesia.
Tingkat
partisipasi ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat
dalam peta pariwisata global, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan pasar
yang lebih fokus, berkualitas, dan konsisten.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, Bali kembali menjadi contoh penting dalam pemulihan dan pertumbuhan pariwisata Indonesia. Sepanjang 2025, Bali mencatat 6,95 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 9,72 persen dibandingkan 2024, dan mewakili hampir separuh dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Namun, Menteri Pariwisata juga menegaskan bahwa kekuatan
Bali perlu menjadi pintu masuk untuk memperluas perjalanan wisatawan ke
destinasi lain.
Melalui semangat
“Bali and Beyond”, buyers dan pelaku industri didorong untuk mengeksplorasi
Lombok, Manado, Jakarta, berbagai desa wisata, serta destinasi lain di
nusantara yang memiliki kekuatan budaya, alam, gastronomi, dan pengalaman lokal.
Menurut Menpar, Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026
menjadi marketplace strategis untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia
melalui kesiapan produk, kualitas industri, dan kepercayaan pasar global.
Dalam keynote
speech pada pembukaan BBTF 2026 di Bali, Widiyanti menyampaikan, BBTF bukan
sekadar pameran pariwisata, melainkan ruang bisnis yang mempertemukan destinasi
dengan pasar, sellers dengan buyers, serta narasi Indonesia dengan produk
wisata yang siap dijual.
“BBTF adalah tempat Indonesia mengubah keindahan menjadi
destinasi bisnis wisata, budaya menjadi pengalaman, dan promosi menjadi peluang
pasar yang nyata,” ujar Widiyanti Putri
Wardhana di Nusa Dua, Jumat (29/5/2026).
Mengangkat tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and
Sustainable Heritage,”, Menpar menekankan bahwa pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak
penting pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja.
“Karena itu,
penguatan destinasi, produk, dan kesiapan industri perlu diarahkan pada hasil
yang nyata, mulai dari pertemuan bisnis, potensi transaksi, kemitraan baru,
hingga tindak lanjut kerja sama,” tuturnya..
Menurutnya, persaingan pariwisata global tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alam atau popularitas destinasi. Negara-negara kini bersaing melalui kualitas produk, kekuatan brand, kesiapan industri, keberlanjutan, serta kemampuan memberikan pengalaman wisata yang dapat dipercaya.
Ia juga mendorong para sellers Indonesia untuk bergerak melampaui penawaran wisata yang generik. Hotel, operator tur, destinasi, dan pelaku perjalanan perlu membangun produk yang jelas, terpercaya, memiliki harga yang kompetitif, mudah dijual oleh buyers, dan mampu memberikan pengalaman yang konsisten.
“Dunia tidak hanya membeli destinasi. Dunia membeli produk yang jelas, dipercaya, dikemas dengan baik, dan siap memberikan pengalaman yang dijanjikan,” lanjutnya.
Dalam sesi pembukaan yang sama, perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, R. Heru Hartanto Subolo, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, menyoroti pentingnya pariwisata sebagai bagian dari diplomasi Indonesia di dunia internasional.
Kementerian Luar Negeri memandang Indonesia sebagai pasar pariwisata yang menjanjikan,
didukung oleh stabilitas politik, komitmen terhadap kerja sama internasional,
serta posisi strategis sebagai pintu masuk menuju ekonomi pariwisata Asia
Tenggara.
Melalui jaringan 131 perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk kedutaan besar dan konsulat, Kementerian Luar Negeri secara aktif mempromosikan pariwisata Indonesia.
Ketua Panitia
BBTF 2026, I Putu Winastra, S.AB, M.A.P., menyampaikan bahwa BBTF berperan
penting dalam membangun kepercayaan terhadap Indonesia, khususnya Bali, sebagai
destinasi yang kredibel dan mitra pariwisata jangka panjang.
“BBTF 2026 membangun kepercayaan terhadap Indonesia, khususnya Bali, sebagai destinasi yang kredibel dan mitra pariwisata jangka panjang. Kehadiran Namibia Tourism Board memperkuat
pertukaran antar-destinasi di tingkat internasional, sementara Jakarta sebagai co-host mencerminkan pendekatan nasional yang semakin terhubung. Minat pasar terhadap Indonesia sudah jelas. Prioritas kita sekarang adalah mengelola minat tersebut melalui akses yang lebih kuat, standar yang lebih baik, masa tinggal yang lebih panjang, dan hubungan yang lebih bermakna antara wisatawan dan
destinasi,” ujar Putu Winastra. (lan)
