Zefri Alfaruqy selaku Kepala Departemen Komunikasi BTID di depan lima penjor yang menjadi peserta Festival Penjor, di Desa Adat Serangan, Kamis (25/6/2026). (Foto: perspectives)
SERANGAN, PERSPECTIVESNEWS- Festival yang
disemarakkan dengan lomba Penjor dalam rangka piodalan di Pura Sakenan dan
menyambut Hari Raya Galungan (perayaan kemenangan dharma melawan adharma),
digelar di Desa Adat Serangan, Kamis (25/6/2026).
Sebanyak enam banjar yang rutin menjadi peserta yakni Banjar Ponjok, Banjar Kaja,
Banjar Tengah, Banjar Kawan, Banjar Pekan, dan Banjar Dukuh mengirimkan para
yowana (pemuda) untuk membuat penjor terbaiknya agar juara.
Namun, tahun ini hanya lima banjar yang ikut lomba karena
pemuda dari Banjar Tengah sedang berhalangan.
Menurut Bendesa Desa Adat Serangan, Nyoman Gede Pariata,
keterlibatan para pemuda ini juga diharapkan untuk menjadi penerus serta memiliki
rasa tanggung jawab untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Desa Adat
Serangan.
“Penjor tidak hanya dilihat sebagai hiasan, melainkan
dipahami esensinya yang berkaitan erat dengan ritual piodalan dan adat
istiadat/dresta di Bali,” sebutnya.
Untuk proses pembuatan, disebutkan Nyoman Pariata cukup
lama, berkisar antara 1 - 2 bulan (mulai dari penyiapan bambu hingga
pengerjaan).
“Para yowana sangat antusias bahkan sampai begadang hingga
pagi hari untuk memberikan tampilan terbaiknya. Dan anggaran yang dibutuhkan berkisar
Rp5.000.000 ke atas untuk pembuatan satu penjor,” ujarnya.
Inisiasi dan Dukungan Penuh dari BTID
Sementara itu, Zefri Alfaruqy selaku Kepala Departemen
Komunikasi BTID menjelaskan, pihak BTID memberikan dukungan penuh sejak awal kepada
Desa Adat Serangan, baik secara operasional maupun pendanaan dalam Festival
Penjor Desa Adat Serangan 2026 tersebut.
“Ini memasuki tahun ke-3 pelaksanaan Festival Penjor yang berkolaborasi
dengan BTID. Festival diselenggarakan untuk menyambut Puja Wali Pura Dalem
Sakenan yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan (17 Juni 2026) dan Kuningan
(27 Juni 2026),” ungkap Zefri kepada media.
Untuk tahun ini, selain BTID ada beberapa sponsor yang turut
membantu pendanaan yang berkisar Rp 50 juta itu.
“Kalau awal, ya memang kami sepenuhnya menjadi sponsor, tapi
tahun ini sudah beberapa mitra yang bergabung menjadi sponsor baru dalam pelaksanaan
festival. Jadi cukup membanggakan keterlibatan pihak lain mendukung kegiatan ini,”
sambung Zefri.
Saat ini ada 10 sponsor diantranya KEK Kura Kura, Pocari
Sweat, Draft Beer, D and D homestay, Blue Marlin Bali, Tabasan Bali
Spearfishing, Blue Water Express, Bali Line, Esa-g. Serangan Transport.
Selain dukungan promosi, BTID juga berperan aktif dalam
mempromosikan pelaksanaan festival ke masyarakat lebih luas dan juga
mempromosikan Desa Serangan sebagai desa wisata rintisan.
Pesan utamanya adalah penghormatan nilai spiritual. “Keterlibatan
perusahaan merupakan bentuk penghormatan luhur terhadap nilai spiritual
masyarakat Bali, khususnya dalam memuliakan momen suci Galungan dan Kuningan,”
tutur Zefri.
BTID, lanjut Zefri, memiliki komitmen yang teguh untuk terus
merangkul dan maju bersama muda-mudi di Desa Serangan dan berharap adanya pembangunan
yang selaras.
“Harapan besar dari KEK Kura Kura Bali adalah agar
pengembangan kawasan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas
dan kreativitas warga desa lewat program-program pemberdayaan,” sebutnya.
Untuk penilaian dan penentuan pemenang, Zefri menyebutkan
ada tim juri yang kompeten dan profesional dari praktisi seni. Mereka dari Ubud,
Desa Kesiman dan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Tujuannya untuk menjaga
kualitas serta objektivitas penilaian.
Juri yang dilibatkan adalah Gede Arum Gunawan (Dinas
Kebudayaan Provinsi Bali), I Gusti Ngurah Bagus Arisudewa (praktisi seni dari
Ubud) dan Kadek Yoga Febrian Ramartha (praktisi seni dari Desa Kesiman). Proses
penilaian berlangsung dari 22 - 25 Juni 2026. (lan)
