Petugas Keswan-Kesmavet Kesmavet Jembrana melakukan pemeriksaan daging babi di lokasi pemotongan babi di Desa Dangintukadaya, Kecamatan / Kabupaten Jembrana, Selasa (16/6/2026). (Foto: dik/perspectives)
JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Menjelang Hari Raya
Galungan, aktivitas perdagangan daging babi di Kabupaten Jembrana mengalami
lonjakan drastis. Meski permintaan pasar meroket hingga berkali-kali lipat dan
harga merangkak naik, masyarakat dipastikan dapat merayakan hari raya dengan tenang
karena pasokan daging di wilayah ini dinyatakan bebas dari virus berbahaya.
Pantauan di lapangan pada Selasa (16/6/2026), salah satu
lapak pedagang daging babi di Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Jembrana, sudah
diserbu puluhan pembeli sejak pukul 06.00 WITA.
Ni Made Trisna Dewi (42), seorang penjual setempat,
mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan ini sudah terasa sejak tiga hari
sebelum Galungan.
"Kalau hari biasa kami hanya memotong dua ekor sehari.
Namun menjelang Galungan ini, jumlahnya melonjak drastis hingga 20 sampai 25
ekor babi per hari," kata Trisna Dewi.
Lonjakan permintaan ini turut memicu kenaikan harga. Harga
daging babi bersih yang biasanya Rp75.000 per kilogram, kini naik menjadi
Rp80.000 per kilogram. Sementara itu, untuk babi hidup di tingkat peternak
dibanderol pada kisaran Rp45.000 per kilogram.
Merespons lonjakan konsumsi tersebut, Dinas Pertanian dan
Pangan Kabupaten Jembrana bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak (sidak)
guna menjamin keamanan pangan masyarakat.
Melalui Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat
Veteriner (Keswan-Kesmavet), petugas menyisir 31 titik pemotongan hewan di
seluruh Jembrana.
Kepala Bidang Keswan-Kesmavet Jembrana, I Gusti Ngurah Putu
Sugiarta menegaskan, pihaknya menerapkan standar pemeriksaan berlapis yang
ketat.
"Kami menerapkan dua tahap pemeriksaan komprehensif,
yaitu ante mortem (pemeriksaan fisik sebelum disembelih) dan post mortem
(pemeriksaan organ dalam setelah disembelih)," jelas Sugiarta.
Pemeriksaan intensif ini difokuskan pada organ dalam seperti
hati, paru-paru, jantung, dan saluran pencernaan. Langkah ini krusial untuk
mendeteksi dini parasit, bakteri, serta mengantisipasi penyebaran virus African
Swine Fever (ASF) yang dilaporkan mulai mengancam beberapa wilayah lain di
Bali.
Dari hasil penyisiran Tim Medis Veteriner (Medivet) di tiap
kecamatan, petugas tidak menemukan adanya indikasi gejala klinis maupun suspect
virus ASF pada seluruh sampel daging yang diperiksa.
Daging babi yang beredar di Jembrana dipastikan sehat dan
layak konsumsi. Selain itu, pasokan babi dari peternak lokal dipastikan sangat
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hingga Hari Raya Kuningan.
Meski hasil pemantauan menunjukkan kondisi aman, Pemkab
Jembrana menegaskan tidak ingin lengah. Sebagai langkah preventif ke depan,
Bidang Keswan-Kesmavet berkomitmen untuk terus menggencarkan monitoring
berkala, memperketat prosedur biosecurity, mengedukasi peternak, serta
mendistribusikan disinfektan secara gratis demi membentengi Jembrana dari
potensi penularan virus di masa mendatang. (dik)
