Gedung Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta. (Foto: ATR/BPN)
SLEMAN,
PERSPECTIVESNEWS- Seiring kompleksitas pembangunan di Indonesia, kebutuhan
akan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan tanah
dan ruang terus meningkat.
Kampus
kedinasan di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional (ATR/BPN), Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
(STPN) membuka peluang bagi generasi muda yang tertarik mendalami bidang
agraria/pertanahan dan tata ruang untuk ikut berkontribusi menjadi bagian dari
pembangunan Indonesia.
“Yang
cocok masuk Politeknik Agraria adalah mereka yang berminat pada bidang
keagrariaan, pertanahan, penataan ruang, hingga aspek kadaster atau pemetaan
bidang tanah. Bidang-bidang tersebut menjadi fokus pembelajaran yang kami
siapkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan nasional,” terang Ketua
Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad, di Gedung Politeknik Agraria STPN,
Sleman, Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta pada Rabu (03/06/2026).
Untuk
mengakomodasi beragam kebutuhan kompetensi di bidang tersebut, Politeknik
Agraria STPN saat ini menyelenggarakan empat program studi, yaitu Sarjana
Terapan Pertanahan; Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah;
Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan; dan Sarjana Terapan
Survei, Pemetaan dan Informasi Pertanahan.
Keempat
program studi tersebut dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki
kompetensi di bidang administrasi dan hukum pertanahan, pendaftaran tanah,
penataan ruang, serta survei dan pemetaan. Kompetensi tersebut didukung
kemampuan pengelolaan data spasial dan informasi pertanahan yang dibutuhkan
dalam penyelenggaraan layanan pertanahan modern.
Menurut
Sri Yanti Achmad, hal itu pula yang membuat Politeknik Agraria STPN berbeda
dengan banyak perguruan tinggi lain karena secara khusus berfokus pada bidang
agraria, pertanahan, dan tata ruang. Fokus tersebut membuat proses pembelajaran
tidak hanya mempelajari satu disiplin ilmu, melainkan mengintegrasikan berbagai
bidang keilmuan yang saling berkaitan untuk memahami persoalan agraria secara
utuh.
Ketua
Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad, mengatakan kalau persoalan
pertanahan tidak hanya berkaitan dengan pemetaan atau pengukuran tanah, namun
juga mencakup aspek hukum, kepastian subjek dan objek hak atas tanah, penataan
ruang, perencanaan wilayah, hingga ilmu kebumian.
Oleh
karena itu, kurikulum Politeknik Agraria STPN dirancang secara multidisiplin
agar lulusan memiliki kompetensi yang komprehensif dan mampu berkontribusi
dalam penyelenggaraan kebijakan agraria, pertanahan, dan tata ruang di
Indonesia.
Pendidikan
di Politeknik Agraria STPN tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan
teknis. Sistem pendidikan berasrama yang diterapkan juga menjadi sarana
pembentukan karakter, integritas, dan kemampuan sosial para taruna.
“Yang kami
bangun tidak hanya keterampilan atau hard skill, tetapi juga karakter dan
integritas. Itu menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di Politeknik
Agraria,” jelas Sri Yanti Achmad.
Dalam
kesempatan ini, Sri Yanti Achmad mengajak siswa kelas XII SMA/sederajat yang
sedang mencari perguruan tinggi untuk mempertimbangkan Politeknik Agraria STPN
sebagai pilihan pendidikan tinggi.
“Kami
berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk berkontribusi dalam
bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang melalui pendidikan di Politeknik
Agraria STPN,” pungkasnya.
Informasi
lebih lanjut mengenai penerimaan taruna baru Politeknik Agraria STPN dapat
diakses melalui laman resmi stpn.ac.id.
Calon
pendaftar juga dapat memperoleh informasi terkini terkait persyaratan, tahapan
seleksi, jadwal pendaftaran, hingga berbagai kegiatan kampus melalui akun media
sosial resmi Politeknik Agraria STPN. (GE/JR)
