Perspectives News

Rendahnya Literasi Label Gizi, Poltekkes Kemenkes Denpasar Cetak Agen Perubahan Lewat Diklat Gizi LENTERA

 


Tim Pengabdi dari Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar foto bersama dengan kelompok remaja aktif komunitas pageant di Bali, Selasa (30/6/2026). (Foto: Ist)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Masa remaja merupakan fase pertumbuhan dinamis yang menuntut kecukupan gizi optimal. Namun, pergeseran gaya hidup modern membuat generasi muda kian akrab dengan konsumsi pangan olahan kemasan dan siap saji.

Di Provinsi Bali, fenomena ini diperparah oleh rendahnya literasi label gizi. Berdasarkan data lapangan, tingkat pengetahuan label pangan dalam kategori kurang mencapai 64,9% dan perilaku membaca label yang kurang menyentuh angka 50,6%.

Menyikapi urgensi ini, tim pengabdi dari Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar yang beranggotakan Ni Putu Agustina Kumala Dewi, Ni Made Gita Kusuma Wardani, dan Ni Komang Bintang Mesya Putri, serta di bawah bimbingan Dr. I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis, resmi menginisiasi program LENTERA (Peningkatan Literasi Remaja Tentang Label Pangan), Selasa (30/6/2026).

Program promotif-preventif strategis ini dilaksanakan dalam ajang National Health Community Service Championship (NHCS-C) 2026.

Kegiatan ini secara cerdas menggandeng mitra strategis dari kelompok remaja aktif komunitas pageant di Bali, meliputi perwakilan Putra Putri Sekolah Ajeg Bali, Teruna Bagus Teruni Jegeg SMAN 2 Denpasar, serta Jegeg Bagus Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Karakteristik mitra yang memiliki modal sosial berupa kemampuan public speaking dan jaringan pergaulan luas diproyeksikan mampu mengomunikasikan pesan gizi secara masif di lingkungannya.

Ni Putu Agustina Kumala Dewi menjelaskan bahwa metode edukasi dikemas secara interaktif dan komprehensif.

"Kami tidak hanya memberikan ceramah teoretis, tetapi juga mengajak peserta melakukan simulasi penimbangan berat bersih porsi saji menggunakan timbangan digital. Peserta dilatih kritis melalui praktik kelompok untuk membandingkan dua produk sejenis, menghitung konversi zat gizi aktual, serta membatasi konsumsi harian Gula, Garam, dan Lemak (GGL) agar terhindar dari risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) dini seperti obesitas dan diabetes," jelasnya.

Hasil evaluasi program menunjukkan keberhasilan kuantitatif yang sangat signifikan. Nilai rata-rata pengetahuan peserta melonjak tajam dari 79,44 pada saat pre-test menjadi 89,44 pada post-test.

Menariknya, jumlah peserta dengan raihan nilai sempurna (100 poin) meningkat drastis dari 16,67% menjadi 38,89%, dan sepenuhnya mengeliminasi peserta dengan nilai di bawah 80. Secara kualitatif, 100% peserta menyatakan rangkaian diklat sangat menarik, interaktif, dan tidak membosankan.

Lebih dari sekadar peningkatan kapasitas individu, program LENTERA juga berjalan linier mendukung kebijakan makro pemerintah dalam implementasi Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan Siap Saji.

Peserta diperkenalkan dengan sistem matriks peringkat grafis Nutri-Level (Level A, B, C, dan D) guna mengawal masa transisi regulasi kesehatan nasional ini di masyarakat.

Sebagai komitmen jangka panjang, seluruh peserta telah menyusun draf Rencana Tindak Lanjut (RTL) tertulis dan mengirimkan video implementasi kreatif ke grup komunikasi internal.

Harapan besar ke depan, gerakan LENTERA ini dapat terus diadopsi secara konsisten lintas program studi dan diperluas menjadi gerakan 'Sekolah Sadar Nutri-Level' demi mewujudkan generasi muda Bali yang cerdas, sehat, dan mandiri secara gizi. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama