BALI, PERSPECTIVESNEWS- Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tetap berada di level optimis sebesar 121,9 (nilai indeks > 100). Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya (124,09), IKK Bali masih lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang tercatat sebesar 120,9.
Rilis pada Senin (29/6/2026) menyebutkan, optimisme konsumen pada Mei 2026 didorong oleh
peningkatan IKK pada masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp6-7 juta sebesar
21% (mtm), Rp5-6 juta sebesar 11% (mtm), Rp2-3 juta sebesar 9% (mtm), dan Rp3-4
juta sebesar 8% (mtm).
Selain itu, optimisme juga tercermin pada pekerja di
sektor informal (124,7) dan sektor formal (119,3), sebagaimana hasil Survei
Konsumen Bank Indonesia.
Perlambatan IKK dibandingkan bulan sebelumnya terutama
dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 120,7
pada April 2026 menjadi 117,5 pada Mei 2026 atau menurun sebesar 2,7% (mtm).
Penurunan IKE bersumber dari seluruh komponen utama,
yaitu konsumsi barang tahan lama
saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (105,0),
ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (125,0),
serta penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu (122,5).
Sementara, komponen kegiatan usaha saat ini dibandingkan
6 bulan yang lalu relatif stabil pada level 100,0. Di sisi lain, Indeks
Ekspektasi Konsumen (IEK) turut mengalami penurunan menjadi 126,3 atau turun
0,9% (mtm) dibandingkan IEK April 2026. Penurunan terutama terjadi pada
komponen prakiraan penghasilan (125,5) dan kegiatan usaha (127,5). Sementara
itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih
menunjukkan peningkatan sebesar 0,8% (mtm) atau menjadi 126,0.
Penurunan IKK pada periode awal hingga pertengahan Mei
2026 dipengaruhi oleh beberapa factor eksternal dan domestik, antara lain
meningkatnya kekhawatiran kenaikan harga pangan global dan perlambatan
kunjungan wisatawan, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu,
inflasi Provinsi Bali pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,42% (mtm) dengan
kontribusi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau,
khususnya komoditas seperti beras, cabai rawit, cabai merah yang memengaruhi
persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Sebagai respons, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim
Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota
se-Bali terus bersinergi dalam menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar,
pengawasan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan.
Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyesuaian
BI-Rate sebesar 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,50%, dan suku bunga
Lending Facility sebesar 6,25%.
Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya
stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro
growth). (lan/bi)
