Perspectives News

Wawali Arya Wibawa Resmikan Rumah Singgah Kula Abhi Praya, Ruang Aman Baru Bagi Perempuan dan Anak di Denpasar

Wawali Arya Wibawa meresmikan Rumah Singgah Kula Abhi Praya Kota Denpasar, yang terletak di Jalan Gatot Subroto IVF, Kamis (4/6). (Foto:humas-dps) 


​DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Pemerintah Kota Denpasar secara resmi menghadirkan ruang aman baru bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak-anak. Langkah nyata ini ditandai dengan peresmian Rumah Singgah Kula Abhi Praya Kota Denpasar yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto IVF pada Kamis (4/6). Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa, didampingi jajaran terkait yang dilanjutkan dengan peninjauan ke seluruh fasilitas ruangan serta taman bermain anak. Keberadaan Rumah Singgah ini diharapkan akan mampu menjadi ruang konsultasi, ruang bermain, hingga ruang edukasi, terutama untuk perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan.

​Acara peresmian ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua K3S Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara; Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa; Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulya; Ketua Komisi I DPRD Kota Denpasar, AA Putu Gde Wibawa; serta Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Denpasar, Gusti Ayu Laksmi Saraswati beserta undangan lainnya.

​Dalam sambutannya, Wawali Arya Wibawa menjelaskan bahwa Kota Denpasar dengan spirit Vasudhaiva Khutumbakam secara berkelanjutan terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk perlindungan, pendampingan serta pemulihan bagi perempuan dan anak yang mengalami permasalahan sosial maupun kekerasan. "Keberadaan rumah singgah ini diharapkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan humanis bagi korban untuk memperoleh perlindungan sementara sekaligus layanan konsultasi, baik itu pendampingan psikologis, hukum, sosial, maupun penguatan mental dan spiritual," ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Plt. Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Denpasar, Gusti Ayu Laksmi Saraswati menyebut, seluruh rangkaian kegiatan yang dilangsungkan ini merupakan salah satu upaya Pemkot Denpasar dalam rangka memberikan rasa aman bagi perempuan dan anak serta juga mewujudkan keluarga berkualitas. Untuk mendukung visi tersebut, selain layanan konsultasi, baik itu pendampingan psikologis, hukum, sosial, maupun penguatan mental dan spiritual, Rumah Singgah ini juga dilengkapi dengan ahli gizi, dokter, psikolog, dan tenaga ahli lainnya.

​"Jika terdapat anak-anak dengan gejala kurang gizi di Denpasar, juga akan diarahkan ke Rumah Singgah. Dalam hal ini, para orang tua dapat berkonsultasi lebih intens tentang stunting di Rumah Singgah," ujar Laxmy.

​Dalam laporannya, Laxmy mengungkapkan bahwa tantangan sosial di Kota Denpasar masih cukup tinggi. Sepanjang tahun 2025, UPTD PPA Kota Denpasar tercatat menangani KDRT fisik sebanyak 44 kasus dan kekerasan psikis sebanyak 66 kasus. Sedangkan untuk kekerasan anak menyentuh angka 32 kasus dan kekerasan perempuan sebanyak 14 kasus. Tren ini dilatarbelakangi oleh berbagai banyak faktor, mulai dari masalah ekonomi, perselingkuhan atau orang ketiga, pola pengasuhan anak, hingga masalah internal lain yang menimbulkan perselisihan di dalam rumah tangga.

​Kondisi tersebut tampaknya masih berlanjut hingga saat ini. Laxmy mengungkapkan, memasuki triwulan I tahun 2026 saja, sudah tercatat ada 76 kasus perempuan dan anak yang masuk. Angka tersebut meliputi 14 kasus KDRT fisik, 15 kasus KDRT psikis, 1 kasus kekerasan seksual pada perempuan, 2 kasus kekerasan dalam pacaran, serta 6 kasus terkait pengasuhan anak.

​Kondisi ini diperkuat dengan adanya data rujukan permasalahan dari Polresta Denpasar, yang mencakup 12 kasus kekerasan seksual, 6 kasus kekerasan fisik pada anak, 10 kasus kekerasan psikis, dan penelantaran anak secara ekonomi sebanyak 5 kasus serta beberapa kasus lainnya. Banyaknya dinamika lapangan inilah yang menjadi bahan pertimbangan utama di balik urgensi didirikannya Rumah Singgah Kula Abhi Praya. Kedepannya, tempat ini juga diproyeksikan untuk menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan mental masyarakat.

​"Kita tahu bahwa kasus bunuh diri di Bali sekarang ini paling tinggi di Indonesia. Misalnya, jika di sekolah dan di masyarakat ditemukan keluarga yang menunjukkan gejala gangguan depresi dia bisa dirujuk ke sini. Atau juga bisa melalui link Denpasar Menyama Bagia," pungkasnya. (HumasDps/Eka)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items