Nyoman Subarana, generasi penerus usaha gerabah keluarga yang hingga kini masih memproduksi berbagai perlengkapan upacara adat berbahan tanah liat, memanfaatkan fasilitas KUR BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun. (Foto: BRI)
MANGUPURA, PERSPECTIVESNEWS- Di tengah gempuran
produk modern, gerabah tradisional untuk kebutuhan upacara adat Bali masih
bertahan. Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, usaha gerabah
yang telah diwariskan turun-temurun sejak sekitar tahun 1970-an tetap hidup.
Usaha yang tetap berlangsung itu berkat ketekunan keluarga
perajin dalam menjaga tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan
pasar.
Salah satu pelaku usaha itu adalah Nyoman Subarana, generasi
penerus usaha gerabah keluarga yang hingga kini masih memproduksi berbagai
perlengkapan upacara adat berbahan tanah liat.
Baginya, usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi
juga bentuk tanggung jawab menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan
zaman.
Subarana menceritakan, sejak kecil dirinya sudah akrab
dengan proses membuat gerabah. Keahlian membentuk tanah liat dipelajari
langsung dari orang tua dan leluhurnya yang telah menggeluti usaha tersebut
sejak puluhan tahun silam. Seiring waktu, usaha yang awalnya berskala kecil
terus berkembang dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
"Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya
dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anak,
hingga membantu perekonomian keluarga besar. Anak kami ada dua. Karena itu,
kami berusaha mempertahankan usaha ini agar tetap bisa diwariskan ke generasi
berikutnya," ujarnya.
Menurut Subarana, permintaan gerabah untuk kebutuhan upacara
adat hingga kini masih stabil.
Produk yang diproduksi antara lain payuk pere, coblong,
dulang, carat, hingga berbagai perlengkapan berbahan tanah liat yang digunakan
dalam rangkaian upacara keagamaan Hindu di Bali, mulai dari odalan, piodalan,
hingga upacara ngaben.
Khusus untuk kebutuhan upacara pengabenan, permintaan
merupakan yang paling besar. Dalam satu kali pemesanan, pelanggan tetap dapat
memesan hingga sekitar 4.000 buah berbagai jenis gerabah. Pesanan tersebut
datang secara berkala, rata-rata setiap dua hingga tiga minggu.
"Kalau sudah ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan.
Pembeli biasanya datang langsung ke tempat kami atau memesan lebih dulu karena
sudah menjadi pelanggan tetap," katanya.
Produk gerabah tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah di
Bali. Para pengepul maupun pelanggan tetap datang langsung ke lokasi produksi
untuk mengambil pesanan sesuai kebutuhan upacara.
Di balik proses produksi yang masih tradisional, tantangan
terbesar justru berasal dari ketersediaan bahan baku.
Tanah liat diperoleh dari sejumlah wilayah di Bali, tidak
hanya bergantung pada satu lokasi. Dalam sekali pembelian bahan baku, Subarana
mengeluarkan modal sekitar Rp1 juta. Proses pembuatan gerabah juga membutuhkan
ketelitian dan kesabaran.
Setelah dibentuk secara manual, gerabah dijemur menggunakan
sinar matahari hingga benar-benar kering sebelum memasuki proses pembakaran.
Satu kali pembakaran mampu menampung ratusan unit gerabah dengan memanfaatkan
kayu bakar, jerami, serta bahan bakar tradisional lainnya.
Saat ini, usaha tersebut melibatkan delapan orang tenaga
kerja yang seluruhnya berasal dari lingkungan keluarga. Pola usaha keluarga ini
menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga kualitas sekaligus mempertahankan
teknik pembuatan gerabah tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Untuk memperkuat modal usaha, Subarana memanfaatkan
fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor lima
tahun.
Pembiayaan tersebut digunakan sebagai tambahan modal kerja,
terutama untuk membeli bahan baku, memenuhi kebutuhan produksi saat pesanan
meningkat, serta mendukung keberlangsungan usaha keluarga.
"KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang
banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi
tidak terhambat," ungkapnya.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya
mengatakan, BRI berkomitmen mendukung pelaku UMKM yang tidak hanya memiliki
nilai ekonomi, tetapi juga berperan menjaga warisan budaya daerah.
Menurutnya, usaha gerabah tradisional seperti yang
dijalankan Nyoman Subarana menunjukkan bahwa UMKM memiliki fungsi ganda, yakni
menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan budaya
lokal yang menjadi identitas Bali.
"BRI melihat pelaku UMKM seperti Bapak Nyoman Subarana
bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan
tradisi yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Melalui pembiayaan KUR,
kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga
mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang
menjadi kekuatan utamanya," ujar Hery.
Ia menambahkan, keberlangsungan usaha berbasis budaya
memiliki efek berganda terhadap perekonomian daerah. Selain membuka lapangan
pekerjaan, usaha tersebut turut menjaga rantai pasok ekonomi lokal mulai dari
penyedia bahan baku, tenaga kerja, hingga memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
pelaksanaan berbagai upacara adat.
"BRI percaya UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya
tahan yang kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu,
kami akan terus memperluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha
tradisional semakin berkembang, lebih sejahtera, dan mampu mewariskan usahanya
kepada generasi berikutnya," tutup Hery. (*)
