Suasana kebersamaan usai diskusi terkait penyelenggaraan
PKKMB Prabu Udayana 2026 di Universitas Udayana (Foto: Angga)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS - Memasuki dunia perkuliahan bukan sekadar berpindah dari
bangku sekolah ke ruang kuliah. Bagi ribuan mahasiswa baru Universitas Udayana,
perjalanan itu dimulai melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru
(PKKMB) Prabu Udayana 2026 yang dirancang sebagai ruang pembentukan karakter,
penguatan budaya akademik, sekaligus pengenalan tanggung jawab sosial yang akan
menyertai mereka selama menempuh pendidikan tinggi.
Berbeda dengan orientasi yang identik dengan pengenalan
lingkungan kampus, PKKMB tahun ini menghadirkan pendekatan yang lebih
aplikatif. Mahasiswa baru tidak hanya menerima materi di dalam auditorium,
tetapi juga didorong menerjemahkan nilai-nilai yang dipelajari ke dalam tindakan
nyata melalui kegiatan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, penguatan
kesiapan karier, hingga pemahaman mengenai kesehatan mental dan pencegahan
kekerasan seksual.
Ketua Pelaksana PKKMB Prabu Udayana 2026, I Kadek Krishna
Suputra, mengatakan pendekatan tersebut berangkat dari tema "Widyabhawana
Ksatria Abhinaya". Tema itu diambil dari Mars Universitas Udayana dan
dikaji bersama dosen Fakultas Ilmu Budaya untuk menggambarkan semangat
mahasiswa sebagai insan cendekia yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi
juga mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Menurut Krishna, "Widyabhawana" dimaknai sebagai
ruang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, sedangkan "Ksatria Abinaya"
merepresentasikan mahasiswa Udayana yang tangguh, menjunjung nilai-nilai luhur,
serta terus bergerak secara bertahap menuju tujuan melalui tindakan nyata.
Filosofi tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai penugasan.
Mahasiswa baru diberi keleluasaan memilih isu sosial, lingkungan, maupun
persoalan di sekitar mereka untuk dijadikan aksi nyata. Bentuk kegiatannya
beragam, mulai dari edukasi pengelolaan sampah dan aksi memungut sampah,
kegiatan sosial di panti asuhan maupun ruang publik, hingga inisiatif sederhana
seperti memasak makanan yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Panitia juga memperluas makna orientasi dengan
memperkenalkan kesiapan menghadapi dunia profesional sejak awal masa studi.
Mahasiswa dibimbing membangun personal branding melalui LinkedIn dan menyusun
curriculum vitae berbasis Applicant Tracking System (ATS) sebagai bekal memasuki
dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain itu, materi mengenai kesehatan mental serta
pencegahan kekerasan seksual turut menjadi bagian penting dalam PKKMB. Langkah
tersebut dimaksudkan agar mahasiswa memahami tantangan kehidupan kampus
sekaligus mengetahui mekanisme perlindungan yang tersedia apabila menghadapi
persoalan selama menjalani studi.
Meski hanya berlangsung selama dua hari, panitia berupaya menyusun
rangkaian kegiatan yang tetap komprehensif. Hari pertama difokuskan pada
pengenalan sistem pendidikan tinggi, muatan lokal, wawasan kebangsaan dan bela
negara, pengembangan diri, teknologi industri, pengenalan layanan perpustakaan,
hingga sosialisasi pencegahan kekerasan oleh Satgas Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan Seksual (PPKS).
Hari kedua diisi dengan pengenalan organisasi kemahasiswaan,
parade 26 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa, penampilan
paguyuban daerah, pengenalan program strategis kemahasiswaan, penyusunan Sankalpa
Patra, hingga penutupan melalui kegiatan bersama seluruh peserta.
Dalam penyelenggaraannya, panitia juga menerapkan standar
operasional prosedur yang menegaskan larangan segala bentuk perpeloncoan maupun
kekerasan. Penanganan mahasiswa baru yang melakukan pelanggaran administrasi
dilakukan melalui mekanisme resmi, sementara panitia yang melanggar aturan dapat
dikenai sanksi mulai dari penahanan sertifikat kepanitiaan hingga pemberhentian
tidak hormat.
Pandangan serupa mengenai makna PKKMB juga disampaikan Ketua
BEM PM Universitas Udayana 2026, I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa.
Menurutnya, PKKMB bukan sekadar kegiatan penyambutan mahasiswa baru, melainkan
pintu gerbang menuju kehidupan sebagai mahasiswa yang dituntut memiliki
kedewasaan, ketangguhan, resiliensi, serta semangat belajar dan mengabdi.
Ia menilai proses pembinaan mahasiswa tidak berhenti setelah
PKKMB berakhir. Organisasi mahasiswa terus mengawal berbagai aspek yang berkaitan
dengan pengalaman belajar mahasiswa, mulai dari peningkatan fasilitas kampus,
perbaikan infrastruktur, pembangunan ruang kolaboratif, penyebaran informasi
beasiswa melalui pendekatan jemput bola, hingga penguatan sistem advokasi dan
kesejahteraan mahasiswa.
Menurutnya, pembaruan penugasan berupa Video Tindakan Nyata
juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan berkontribusi sejak dini.
Mahasiswa didorong memahami bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu
dimulai dari program besar, tetapi dapat dibangun melalui tindakan sederhana
yang dilakukan secara konsisten.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Rektor Universitas
Udayana saat membuka PKKMB 2026. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa
hari pertama sebagai mahasiswa merupakan awal perjalanan intelektual yang akan
membentuk cara berpikir, bertindak, dan memandang kehidupan. Mahasiswa baru,
menurutnya, tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki
karakter, integritas, serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. (angga)
