Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatknya aktivitas
ekonomi, pariwisata, dan sektor usaha di Pulau Dewata. Mengantisipasi tren
tersebut, PT PLN (Persero) terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan
sekaligus menyiapkan tambahan pasokan untuk memenuhi kebutuhan listrik yang
terus meningkat.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID), Bali Ajrun
Karim mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik Bali menjadi salah satu indikator
meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Pertumbuhan tersebut juga tercermin
dari pola beban listrik yang relatif tinggi dan merata sepanjang hari.
“Pertumbuhan listriknya melampaui pertumbuhan ekonomi. Bisa
disimpulkan bahwa listrik sudah masuk ke semua simpul-simpul kehidupan. Listrik
menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Ketika kebutuhan listrik terus
bergerak, itu menunjukkan roda ekonomi juga terus berputar,” ujar Ajrun dalam
Temu Media PLN UID Bali di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Ajrun menjelaskan, saat ini beban puncak tertinggi sistem
kelistrikan Bali telah mencapai hampir 1.300 MW, sehingga PLN tengah melakukan
percepatan penambahan kapasitas pembangkit guna mendukung aktivitas ekonomi dan
kebutuhan masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa listrik semakin menjadi bagian
penting dari aktivitas ekonomi. Karena itu, keandalan pasokan menjadi hal yang
sangat penting untuk memastikan kegiatan masyarakat dan dunia usaha dapat terus
berjalan,” katanya.
Saat ini, PLN tengah mendorong pengembangan energi baru dan
terbarukan (EBT) sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat
ketahanan energi Bali. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah
satu sumber energi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Selain relatif cepat dibangun, PLTS dapat diterapkan melalui
berbagai skema, mulai dari PLTS ground mounted, PLTS terapung di waduk atau
bendungan, hingga PLTS atap. Pengembangan PLTS tersebut sejalan dengan RUPTL
2025–2034 serta Program PLTS 100 gigawatt GW Presiden RI.
“PLTS menjadi salah satu tumpuan utama karena pembangunan
yang paling mudah dan cepat adalah PLTS, sesuai RUPTL 2025-2034 dan program
nasional PLTS 100 GW. Harapannya dengan pengembangan pembangkit energi
terbarukan, Bali nantinya dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan
energinya,” ujarnya.
Upaya memperkuat kemandirian energi tersebut menjadi semakin
penting seiring dengan posisi Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dan
ekonomi nasional. Keandalan listrik tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menopang hotel, restoran, pusat
perdagangan, fasilitas publik, industri kreatif, hingga berbagai kegiatan
ekonomi lainnya.
“Kami berharap listrik tidak digunakan hanya sebagai media
penerangan, lebih jauh, listrik digunakan sebagai penggerak ekonomi mikro
maupun makro, penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan
kesejahteraan masyarakat,,” pungkas Ajrun. (lan/pln)
