Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman
(tengah) saat memberikan penjelasan pada Ngorte dengan Media OJK Bali, Selasa (15/9/2026) sore. (Foto: perspectives)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat sektor jasa keuangan di Bali masih bergerak positif hingga pertengahan 2026, meski sejumlah indikator mengalami perlambatan.
Pertumbuhan terlihat pada perbankan,
pasar modal, perusahaan pembiayaan, fintech peer-to-peer lending, hingga
lembaga penjaminan. Kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 10,03 persen
dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman,
mengatakan aset perbankan berdasarkan Lokasi, bank tumbuh 4,73 persen,
sedangkan berdasarkan lokasi kantor pusat tumbuh 6,86 persen. Sementara
penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 7,91 persen.
“Biasanya lokasi proyek memang lebih
tinggi daripada lokasi bank karena banyak bank di luar Bali yang memberikan
pembiayaan atau kredit kepada proyek yang ada di Bali,” ujar Parjiman saat
media gathering di Kantor OJK Bali, Selasa (15/9/2026).
Dikatakan, penyaluran kredit dari
kantor pusat bank yang berada di Bali mencakup sekitar 31 persen dari total
kredit di Bali, dengan pertumbuhan 6,91 persen.
Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK)
mengalami perlambatan dari 9,42 persen menjadi 4,83 persen, terutama pada
deposito dan tabungan. Meski demikian, Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat
dari 57,31 persen menjadi sekitar 59 persen.
“Hal ini terjadi karena penurunan
kredit lebih kecil dibandingkan dengan penurunan DPK,” jelas Parjiman.
Dari sisi kualitas kredit,
Non-Performing Loan (NPL) perbankan Bali pada Juli 2026 berada di bawah 5
persen dan menunjukkan perbaikan. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit
investasi menjadi penyaluran terbesar dengan porsi 37,01 persen, terutama
didorong sektor akomodasi serta makan dan minum. Sementara kredit modal kerja
mengalami kontraksi 2,67 persen, terutama akibat penurunan kredit sektor
perdagangan.
Pada lima sektor utama, kredit sektor
akomodasi dan makan minum, pertanian, serta jasa kemasyarakatan mencatat
pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Sebaliknya, kredit
sektor perdagangan dan konstruksi cenderung melandai.
“Untuk UMKM, porsinya mencapai 50,47
persen dari total kredit perbankan Bali dengan pertumbuhan 6,41 persen,
meningkat dibandingkan Juli 2025 yang tumbuh 3,15 persen. Pertumbuhan positif
juga tercatat di pasar modal. Jumlah investor di Bali meningkat sekitar 42
persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli 2025 sebesar 20,21 persen,”
lanjut Parjiman.
OJK Bali mencatat perkembangan
tersebut di tengah perlambatan sejumlah indikator, dengan kredit, intermediasi
perbankan, pembiayaan UMKM, dan pasar modal tetap menunjukkan pertumbuhan
hingga pertengahan 2026. (lan)
