Persaingan Ketat Terjadi di Nomor Sprint Kejurnas Arung Jeram 2026

 

Salah satu tim peserta Kejurnas Arung Jeram 2026 di Sungai Ayung, Kabupaten Badung, Bali tampak mencoba mengatasi rintangan. (Foto: Humas PB FAJI)

BADUNG, PERSPECTIVESNEWS - Persaingan ketat mewarnai hari pertama Kejurnas Arung Jeram 2026 di Sungai Ayung, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (25/9/2026). Nomor sprint yang mempertandingkan kategori U-19, U-23, dan senior putra-putri menjadi panggung awal bagi 51 tim dari 16 provinsi untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Setelah resmi dibuka Ketua Umum Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto sehari sebelumnya, para peserta langsung berhadapan dengan karakter Sungai Ayung yang dinilai cukup teknikal. Kondisi aliran sungai yang tidak terlalu besar membuat kemampuan membaca lintasan dan melakukan manuver menjadi salah satu penentu hasil.

Kondisi tersebut dirasakan tim senior putra Jawa Barat yang berhasil merebut posisi teratas pada nomor Sprint Senior R4 Men. Tim yang dipimpin Arsyil Mustabshirin Saleh itu mencatatkan waktu tercepat 1 menit 0,756 detik dan mengoleksi 100 poin.

Tuan rumah FAJI Bali B menempati posisi kedua dengan waktu 1 menit 2,046 detik, sedangkan FAJI Jawa Timur berada di peringkat ketiga dengan waktu 1 menit 2,234 detik.

"Untuk hari ini, alhamdulillah, sudah berjalan lancar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya dan tim sudah mengeluarkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang kami miliki. Kalau untuk hasil, kami serahkan kepada Yang di Atas. Mudah-mudahan bisa menjadi juara satu," kata Arsyil.

Menurut dia, karakter Sungai Ayung memberikan tantangan tersendiri bagi para peserta. Selain suasana sungai yang ramai karena menjadi kawasan wisata, lintasan juga menuntut kemampuan teknis yang baik.

"Di sini lebih teknikal. Kalau kondisi airnya kecil seperti ini, sama seperti di Sungai Citarik, tempat kami biasa berlatih. Banyak batu, sehingga kami harus melakukan manuver secepat mungkin," tuturnya.

Persaingan di nomor senior putra juga menunjukkan semakin meratanya kekuatan antardaerah. Setelah Jawa Barat, Bali, dan Jawa Timur, posisi berikutnya ditempati Kalimantan Selatan, DKI Jakarta, Banten, DIY, Kalimantan Timur, Bali A, dan Jambi.

Arsyil menyebut sejumlah daerah masih menjadi ancaman dalam persaingan menuju nomor-nomor berikutnya.

"Mungkin semuanya juga berat. Tetapi ada beberapa daerah yang kami pertimbangkan, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Walaupun jaraknya jauh, mereka tetap tim yang kuat. Kalimantan Selatan dan Banten juga demikian. Sekarang kekuatan antardaerah sudah semakin merata," tegasnya.

Bali Andalkan Kelompok Youth

Sementara itu, tuan rumah Bali mengandalkan pembinaan kelompok youth untuk menjaga peluang meraih prestasi dalam kejurnas tahun ini. Ketua FAJI Bali sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Wayan Suweca mengatakan, Bali memang tidak memasang target terlalu tinggi pada kelompok senior.

"Kalau untuk medali, sebenarnya sejak awal kami di Bali tidak terlalu berharap banyak. Namun, Bali memiliki keistimewaan di kelompok youth, khususnya atlet usia di bawah 19 tahun," ujar Wayan.

Menurut dia, kelompok youth telah dipersiapkan secara khusus sebagai bagian dari program pembinaan jangka panjang. Para atlet tersebut diproyeksikan menjadi kekuatan Bali dalam dua tahun mendatang, termasuk menghadapi Babak Kualifikasi PON dan PON 2028.

"Memang kelompok youth ini kami persiapkan secara matang. Hitung-hitungan kami, untuk dua tahun ke depan, atlet youth ini sudah maksimal kami latih dan persiapkan. Jadi, untuk saat ini kelompok senior memang kami tempatkan sebagai prioritas kedua," katanya.

Meski demikian, Bali tetap membidik sekitar lima medali dari seluruh nomor yang dipertandingkan. "Kalau target, kami tetap menargetkan atlet-atlet kami untuk meraih sekitar lima medali. Namun, tentu semuanya tergantung situasi dan persaingan di lapangan," ujar Wayan.

Ia berharap peluang tersebut dapat diwujudkan pada nomor head to head, slalom, dan downriver race (DRR) yang akan berlangsung setelah sprint.

"Kami berharap besok, pada nomor head to head, slalom, dan DRR, ada peluang bagi Bali untuk menambah perolehan medali," katanya.

Persaingan ketat yang terlihat sejak nomor sprint juga tidak lepas dari proses pembinaan yang mulai dilakukan sejumlah daerah secara lebih serius. Wayan mengatakan, Bali sendiri mulai mencari bibit atlet melalui sekolah sekitar tiga tahun lalu.

"Kebetulan, Dinas Pendidikan Provinsi Bali juga memberikan lampu hijau kepada kami untuk mencari atlet di tingkat SMP dan SMA," katanya.

Dari sekitar 100 atlet yang dikumpulkan, proses seleksi kemudian menghasilkan 56 atlet yang dipersiapkan dalam program pembinaan.

"Jadi, kami mulai masuk ke sekolah-sekolah untuk mencari bibit. Dari sekitar 100 atlet yang kami kumpulkan, kemudian dilakukan seleksi dan akhirnya terpilih 56 atlet," ujar Wayan.

Perkembangan tersebut membuat persaingan antardaerah semakin terbuka. Tidak hanya provinsi-provinsi yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuat di arung jeram, tetapi daerah lain mulai menunjukkan kemampuan untuk bersaing di papan atas. (*/djo)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama