Perspectives News

Sebelum Kecelakaan Maut di Guyana Amerika Selatan, Tedy Sempat Cium Kaki Kedua Orang Tuanya



Orang tua almarhum,  I Komang Tedy Arsa Biantara Putra (24), I Wayan Biantara (55) dan Ni Luh Manik (51) di Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Jembrana, saat menunjukan foto almarhum di kediamannya, Selasa (1/9/2026). (Foto: dik/Perspectives).

JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Suasana duka menyelimuti kediaman I Wayan Biantara (55) dan Ni Luh Manik (51) di Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Jembrana.

Pasangan suami istri ini tak mampu membendung air mata saat mengenang kepergian putra bungsu sekaligus anak laki-laki tunggal mereka, I Komang Tedy Arsa Biantara Putra (24). Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan maut di Guyana, Amerika Selatan, Jumat (28/8/2026) lalu.

Peristiwa naas itu terjadi tak lama setelah Tedy mendarat di Guyana. Mobil Hiace yang menjemputnya beserta lima rekan kerja dari bandara menuju lokasi kerja dihantam truk trailer. Tedy, yang sempat bertukar posisi duduk ke bagian dekat pintu, meninggal dunia di tempat bersama satu korban lainnya. Sementara rekan yang bertukar duduk dengannya hanya mengalami luka ringan.

I Wayan Biantara (55) dan Ni Luh Manik (51) ditemui di kediamannya, Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Selasa (1/9/2026) menceriterakan bahwa sebelum putranya berangkat ke Guyana, sejumlah perilaku tak biasa ditunjukkan korban.

Tedy sempat meminta dipotongkan rambut oleh sang ayah, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Setelah itu dia (Tedy) keramas sebelum berangkat ke Denpasar, karena sempat saya singgung rambutnya kering dan kaku," tutur Wayan Biantara.

Perbuatan Tedy lainnya, yang ternyata menjadi firasat akan kepergian untuk selamanya, ucap Biantara, yakni saat singgah di rumah kakaknya di Kedonganan sebelum menuju bandara, Tedy mendadak bersujud dan mencium kaki kedua orang tuanya seraya memohon maaf.

"Tiba-tiba cium kaki bapak dan ibuk dan bilang minta maaf bapak/ibu. Setelah itu baru kita berangkat ke bandara. Tak tau, mungkin itu cara perpisahan terakhir dengan anak kami," sebutnya sembari mengusap air mata.

Kepergian Tedy memukul batin keluarga secara mendalam. Pemuda periang ini merupakan tulang punggung dan harapan satu-satunya keluarga untuk memperbaiki kondisi ekonomi serta melanjutkan keturunan.

Keberangkatannya ke Guyana kali itu merupakan kontrak kerja keduanya di kapal pengeboran minyak lepas pantai (offshore), setelah menyelesaikan kontrak pertama pada Juni 2026.

Kini, pihak keluarga hanya bisa pasrah memeluk ketetapan takdir. Di tengah rasa kehilangan yang mendalam, Wayan Biantara berharap seluruh hak-hak almarhum selama bekerja dapat dipenuhi oleh pihak perusahaan demi ketenangan almarhum. (dik) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama