DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menyatakan Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali sampai dengan posisi Juni 2025 tetap resilien dan terjaga stabil didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga.
Dalam rilis OJK, Senin (15/9/2025), kinerja intermediasi perbankan (Bank Umum dan BPR) di Provinsi Bali berdasarkan lokasi bank posisi Juni 2025 menunjukkan daya tahan yang solid. Penyaluran kredit maupun penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami pertumbuhan dari periode sebelumnya.
Penyaluran kredit mencapai Rp115,82 triliun atau tumbuh 6,82 persen yoy lebih tinggi dibandingkan bulan Mei 2025 yang sebesar 6,41 persen yoy, namun sedikit termoderasi jika dibandingkan bulan Juni 2024 yang sebesar 7,19 persen yoy.
Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit yoy masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp4,59 triliun atau 14,08 persen yoy (Juni 2024: 20,67 persen yoy). Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan masih tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek kondisi perekonomian di Bali.
Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,22 persen kredit di Bali disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan sebesar 3,39 persen yoy. Penyaluran kredit UMKM di Bali lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, baik dari porsi kredit maupun pertumbuhan yang masing–masing berada pada angka 19,31 persen dan 2,22 persen yoy.
Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi oleh sektor Bukan Lapangan Usaha sebesar 33,64 persen dan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 28,06 persen. Pertumbuhan kredit disumbangkan oleh peningkatan nominal penyaluran di Sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha sebesar Rp2,14 triliun (tumbuh 5,80 persen yoy) dan Sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum yang bertambah sebesar Rp1,68 triliun (tumbuh 13,91 persen yoy).
Kualitas kredit perbankan di Bali tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 3,08 persen lebih rendah dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,32 persen (Mei 2025: 3,18 persen). Sementara itu, NPL net berada di posisi 2,15 persen, juga menurun dibandingkan posisi Juni 2024 yang sebesar 2,17 persen (Mei 2025: 2,20 persen).
Penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit berdampak positif bagi penurunan rasio Loan at Risk (LaR) menjadi 10,80 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya posisi Juni 2024 sebesar 15,03 persen yoy. OJK akan terus mendukung perbankan melalui langkah kebijakan yang diperlukan sehingga perbankan terus bertumbuh berkelanjutan namun tetap prudent dalam aspek manajemen risiko.
Penghimpunan DPK mencapai Rp200,25 triliun atau tumbuh 9,90 persen yoy, meningkat dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar 9,05 persen yoy (Juni 2024:18,29 persen yoy). Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK posisi Juni 2025 ditopang oleh kenaikan nominal tabungan sebesar Rp10,01 triliun.
Fungsi intermediasi masih menunjukkan tingkat yang positif tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) posisi Juni 2025 sebesar 57,84 persen. Ketahanan BPR juga tetap kuat tercermin dari Cash Ratio (CR) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga di atas threshold, berturut-turut sebesar 14,34 persen dan 33,23 persen. Tingginya permodalan perbankan diyakini mampu menyerap potensi risiko yang dihadapi dan OJK akan terus mendorong kinerja intermediasi dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan terjaganya likuiditas.
Perkembangan Sektor Pasar Modal
Jumlah investor Pasar Modal wilayah Bali masih tetap menunjukkan pertumbuhan tinggi yaitu mencapai double digit dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2025, jumlah investor saham di Bali sebanyak 160.067 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 24,29 persen yoy. Demikian juga dengan jumlah investor Reksa Dana dan SBN yang masing-masing tumbuh sebesar 20,06 persen yoy dan 17,21 persen yoy.
Nilai kepemilikan saham di Bali mencapai Rp5,81 triliun atau tumbuh 22,70 persen yoy lebih tinggi dibandingkan Juni 2024 yang sebesar 3,00 persen yoy. Sementara itu, nilai transaksi saham sebesar Rp3,54 triliun atau tumbuh 143,07 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan Juni 2024.
Perkembangan Perusahaan Pembiayaan dan Perusahaan Modal Ventura
Piutang Pembiayaan Perusahaan Pembiayaan di Bali posisi Juni 2025 mencapai Rp11,76 triliun, tumbuh 3,89 persen yoy, lebih rendah dibandingkan posisi Juni 2024 yang tumbuh sebesar 13,60 persen yoy.
Pembiayaan tersebut didominasi oleh pembiayaan kepada Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor (market share 20,08 persen), serta pembiayaan kepada Aktivitas Penyewaan dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi, Ketenagakerjaan, Agen Perjalanan dan Penunjang Usaha Lainnya (market share 13,82 persen).
Di sisi lain, tingkat pembiayaan bermasalah relatif rendah dan terkendali. Tingkat Non Performing Financing (NPF) posisi Juni 2025 sebesar 1,14 persen, sedikit meningkat dibandingkan posisi Juni 2024 yang sebesar 1,02 persen.
Sementara itu, penyaluran pembiayaan melalui Modal Ventura di Provinsi Bali sebesar Rp94,28 miliar dengan pertumbuhan sebesar 4,46 persen yoy, lebih rendah dibandingkan Juni 2024 yang sebesar 8,50 persen yoy. Tingkat Non-Performing Financing (NPF) Modal Ventura posisi Juni 2025 relatif rendah dan terkendali yaitu sebesar 1,29 persen, membaik dibandingkan Juni 2024 yang sebesar 1,53 persen. (lan)
