Kepala Pengelola DTW Desa Jatiluwih, John Ketut Purna. (Foto: perspectives)
TABANAN,
PERSPECTIVESNEWS- Daerah
Tujuan Wisata (DTW) Desa Jatiluwih kini kembali bebas dikunjungi. Wisatawan
yang ingin menikmati kembali indahnya panorama terasering sawah dan menguningnya
padi, sudah bisa berkunjung.
Hal ini
menyusul polemik yang terjadi di DTW Desa Jatiluwih terkait pelanggaran tata
ruang yang cukup berpengaruh pada kunjungan wisatawan ke situs Warisan Budaya
Dunia UNESCO yang turun hingga 80 persen di bulan Desember atau pada libur
Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Kepala Pengelola
DTW Desa Jatiluwih, John Ketut Purna mengatakan, bahwa ada tiga negara yakni
Eropa, Jerman Perancis yang tidak menjual Destinasi Jatiluwih alias membatalkan
untuk berkunjung.
"Ada
tiga holdseller Jerman sudah memblokir untuk tidak ke Desa Jatiluwih
demi keselamatan dan kita juga tidak enak jualan dengan seng yang masih
berserakan di tengah sawah. Saya berharap masyarakat yang mengatasnamakan
petani untuk tidak menghasut petani lain untuk kepentingan pribadi," ucapnya
di kantor ASITA Bali, Renon Denpasar, pada rabu (7/1/2026).
Selain
penurunan yang sangat drastis, Ia juga mengaku untuk tahun 2026, tidak bisa
menentukan target kunjungan ke destinasi Jatiluwih meski kondisi Desa Jatiluwih
sudah baik dan bersih dari seng.
Ia mengaku,
membutuhkan waktu 3 - 6 bulan untuk memulihkan nama baik Desa Jatiluwih agar
wisatawan bisa kembali percaya dengan Destinasi Jatiluwih.
Polemik yang
terjadi ini menjadi perhatian Bupati Tabanan, I Komang Sanjaya dengan mengambil
langkah Moratorium di Desa Jatiluwih.
Moratorium
ini akan memperjelas aturan-aturan terkait tata ruang yang ada di Desa
Jatiluwih.
"Memang
Moratorium ini sebenarnya yang kita harapkan untuk dapat menjadi win-win
solution untuk semua pihak, karena Desa Jatiluwih ibaratnya saat ini maju
kena mundur kena. Saya berharap aturan segera ditegakkan di Desa Jatiluwih
karena saat ini sudah terlalu banyak bangunan-bangunan baru yang bertumbuh lagi
di sawah," ungkapnya.
Sementara
untuk memulihkan kunjungan ke Desa Jatiluwih, John akan melakukan sounding
lagi ke seluruh travel agent, dan juga meminta bantuan dari anggota Asita untuk
mempromosikan kembali ke partner travel agennya di luar negeri bahwa Desa
Jatiluwih sudah kondusif dan tidak ada seng lagi. (*)
