Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, R. Erwin Soeriadimadja (Foto: BI Bali)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Perkembangan inflasi Provinsi Bali pada
Januari 2026 menunjukkan tren positif dengan deflasi bulanan sebesar -0,34%
(mtm).
Angka ini sesuai pola musiman setelah
bulan sebelumnya mencatat inflasi 0,70%
(mtm).
Secara tahunan, inflasi melandai dari 2,91%
(yoy) pada Desember 2025 menjadi 2,58% (yoy), tetap terjaga dalam sasaran
2,5±1%, dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai
3,55% (yoy)
Seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali
mengalami deflasi bulanan. Badung mencatat deflasi terdalam -0,78% (mtm)
dengan inflasi tahunan
1,09% (yoy), Singaraja mengalami deflasi -0,44% (mtm), inflasi tahunan 2,59% (yoy).
Tabanan mencatat deflasi -0,21% (mtm)
dengan inflasi tahunan
2,00% (yoy). Sementara Denpasar mengalami deflasi-0,13% (mtm), namun inflasi tahunan mencapai 3,60%
(yoy), di atas rentang sasaran inflasi sehingga
perlu diwaspadai.
Deflasi terutama disumbang oleh
penurunan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, bensin, dan daging ayam
ras.
Sementara itu, kenaikan tarif parkir,
sewa rumah, emas perhiasan, ikan tongkol diawetkan, dan kangkung menahan
deflasi lebih dalam.
Beberapa risiko yang perlu
diantisipasi antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode long
weekend dan HBKN Ramadhan, kenaikan harga emas dunia
Selain itu juga,puncak musim hujan
yang berpotensi menekan produksi pertanian, distribusi, dan perikanan.
Tambahan permintaan pangan juga
diperkirakan meningkat seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi
Bali, Erwin
Soeriadimadja, menegaskan pentingnya sinergi dalam menjaga
stabilitas harga.
Bank Indonesia bersama
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali terus memperkuat koordinasi
melalui tiga pilar utama, yaitu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan
efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi.
“Strategi ini diwujudkan melalui
operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran),
kerja sama antar daerah, serta penguatan ekosistem pangan hulu-hilir yang
melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi,” ujarnya. (lan/*)
