Perspectives News

Khusyuk Melasti di Tengah Kepungan Arus Mudik

 

Prosesi iring-iringan upacara suci Melasti jelang perayaan Nyepi di jalur utama Denpasar-Gilimanuk, di saat ribuan kendaraan pemudik mengular menuju Pelabuhan Gilimanuk, Senin (16/3/2026). (Foto: Dik/Perspectives).

JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Sebuah harmoni kehidupan tersaji apik di tengah hiruk-pikuk jalur utama Denpasar-Gilimanuk, Senin (16/3/2026). Di saat ribuan kendaraan pemudik mengular menuju Pelabuhan Gilimanuk, sebanyak 14 desa adat di Kecamatan Melaya tetap teguh menjalankan tradisi suci Melasti menjelang Hari Raya Nyepi dengan penuh kekhusyukan.

​Pesisir Pantai Candikusuma dan Lingkungan Samiana menjadi saksi bisu prosesi penyucian pratima yang sakral. Meski hanya berjarak beberapa meter dari deru mesin kendaraan, ribuan krama (warga) Bali tampak tidak terusik oleh kemacetan yang mengepung kawasan tersebut.

​Pemandangan kontras ini justru menjadi magnet bagi para pemudik. Di tengah kebosanan menunggu antrean, banyak pengendara yang mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen langka tersebut. Iring-iringan Melasti diarahkan menggunakan lajur kanan dari arah Denpasar menuju pelabuhan, sementara arus mudik tetap mengalir di lajur kiri.

Polsek Melaya menerjunkan hampir seluruh personelnya untuk melakukan pengawalan mulai dari titik kumpul di Pasar Melaya hingga ke wilayah Tukadaya. Sebanyak 23 pecalang Desa Adat Gilimanuk bekerja sama dengan TNI dan Polri guna memastikan tradisi dan mudik berjalan beriringan.

​Ketua Pasikian Pecalang Desa Adat Gilimanuk, I Ketut Ardana mengungkapkan bahwa situasi ini merupakan kali kedua tradisi Melasti berbarengan dengan puncak arus mudik. Pengalaman tahun lalu menjadi modal penting dalam koordinasi teknis di lapangan.

​"Kami menekankan bahwa semangat toleransi adalah kunci. Agenda besar keagamaan dan tradisi tahunan mudik Lebaran bisa berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu," ujar Ardana.

​Hingga prosesi kembali dari segara (laut) menuju pura desa masing-masing, situasi terpantau aman dan terkendali. Keheningan doa dari barisan putih krama Bali seolah memberikan ketenangan di tengah riuhnya kepulangan para perantau. (dik)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama